H Haikal S SH —Aktivis, Pengusaha dan Tokoh Muda Betawi. *Ist
Oleh: Drs HM Sodri SH, Koordinator Forum Qari- dan Hafidz DKI Jakarta
MASYARAKAT Betawi merupakan salah satu pilar penting dalam sejarah dan perkembangan Jakarta. Sebagai penduduk asli yang memiliki kekayaan budaya, tradisi, bahasa, dan nilai-nilai sosial yang kuat, masyarakat Betawi perlu terus diberdayakan agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Kemajuan masyarakat Betawi tidak hanya penting bagi keberlangsungan komunitasnya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat Jakarta, dan bangsa Indoensia. Terlebih di era global city dimana kemajuan Jakarta harus sejajar dengan kota-kota besar dunia lainnya. Seperti Melbourn, Beijing, Tokyo, dan sabagainya: peran penduduk aslinya menjadi sangat signifikan.
Peran penduduk asli menjadi sangat penting karena kita tidak menginginkan kemajuan suatu kota berdampak pada terjadinya marjinalisasi dan keterbelakangan pada suku aslinya. Seperti Suku Kiwirrkurra (Gurun Gibson, Australia Barat) atau Aurukun (Semenanjung Cape York, Queensland), Suku Mashco-Piro di Peru, Komunitas Adivasi (penduduk asli atau suku terasing) di berbagai negara bagian seperti Jharkhand dan Odisha di India dan lain sebagainya.
Indikator Kemajuan
Kemajuan suatu daerah sendiri dapat dimaknai sebagai kondisi ketika kualitas kehidupan masyarakat meningkat secara berkelanjutan, baik dari sisi ekonomi, sosial, politik, budaya, maupun lingkungan. Kemajuan tidak hanya berarti pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga peningkatan kesejahteraan, kesempatan dan kualitas hidup warga.
Indikator kemajuan suatu daerah antara lain dapat dicermati dari pertumbuhan daerah, infrastruktur seperti kualitas jalan, jembatan, transportasi, listrik, air bersih, internet, pelayanan publik, kualitas sumber daya manusia, kesempatan kerja, tata kelola pemerintahan daerah, kesejahteraan masyarakat dan sebagainya.
Indikator lainnya yang bersifat kualitatif antara lain dengan pemerataan kesempatan dalam berusaha bagi semua penduduknya, peluang dan kesempatan bagi semua penduduknya dalam menduduki jabatan-jabatan strategis di pemerintahan atau parlemen, pemerataan hasil-hasil pembangunan, kesenjangan sosial dan ekonomi antara yang kaya dengan yang miskin dan sebagainya.
Tiga Pandangan
Terkait dengan hal ini, sekurangnya terdapat tiga kelompok masyarakat Betawi dalam memahami posisi sosial, ekonomi dan politiknya saat ini, yakni: pertama, mereka yang berpandangan bahwa masyarakat Betawi sudah mengalami kemajuan memadai dan yang dicita-citakan. Sehingga yang diperlukan hanyalah langkah-langkah gradual dan berkesinambungan.
Untuk memperkuat pandangannya tersebut, kelompok ini merujuk kepada sejumlah aspek. Misalnya, lahirnya Perda No. 4 tahun 2025 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi, Peraturan Gubernur (Pergub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 2017 tentang Ikon Budaya Betawi seperti Ondel-ondel, Kembang Kelapa, Gigi Balang, Baju Sadariah, Kebaya Kerancang, Batik Betawi, Kerak Telor dan Bir Pletok, UU No. 2 tahun 2024 tentang Daerah Khusus Jakarta.
Indikator kemajuan lainnya adalah berkembangnya ekonomi kreatif. Seperti sentra mode, kuliner dan kriya yang mengangkat kearifan lokal. Munculnya, kesadaran dari generasi milenial dan Gen Z untuk mempelajari seni tradisional (seperti palang pintu, lenong dan tari Betawi) melalui sanggar-sanggar di berbagai wilayah. Banyaknya pejabat Betawi yang duduk di pucuk pimpinan Pemprov DKI dan DPRD DKI Jakarta dan lain sebagainya.
Kemunduruan
Kedua, kelompok masyarakat Betawi yang berpandangan tengah berada pada posisi marjinal dan tertinggal dibandingkan dengan sejumlah etnis lainnya yang kini berdomisili di Jakarta. Bahkan ketertinggalan tersebut sangat kontras atau timpang. Sehingga diperlukan langkah-langkah radikal dan fundamental untuk memperbaikinya.
Indikatornya lebih mencermatinya dari hal-hal yang sifatnya empirik. Antara lain, berbagai icon kebudayaan Betawi seperti ondel-ondel, kembang kelapa, gigi balang dan sebagainya mengalami kemunduran baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Bahkan, ondel-ondel banyak disalahgunakan untuk mengamen (mencari uang dengan bernyanyi) berkeliling pemukiman padat penduduk. Beruntung di Jakarta mulai menghilang namun bergeser ke daerah penyangga, seperti Depok, Bekasi, Tangerang Selatan dan sebagainya.
Kemunduran orang Betawi juga dapat dicermati dari banyak orang Betawi eksodus ke daerah pinggiran seperti Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang. Sebagai akibat ketidakmampuan bersaing dengan etnis lainnya. Atau tanahnya dijual karena adanya penggusuran, membiayai pendidikan, resepsi perkawinan, pembagian warisan dan sebagainya.
Sementara pejabat di lingkungan birokrasi Pemprov DKI Jakarta atau politisi Betawi di Kebon Sirih (DPRD DKI) dipersoalkan komitmen dan kepeduliannya dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Betawi. Di sisi lain, jumlah orang Betawi yang berpendidikan tinggi (S1, S2 atau S3) maupun yang terjun di dunia usaha atau bisnis memang mengalami kemajuan. Namun dibandingkan dengan etnis lainnya, masih jauh tertinggal baik secara kualitas maupun kuantitas
Kelompok Permisif
Ketiga, kelompok masyarakat Betawi yang tidak mempunyai pandangan, persepsi atau pemahaman tertentu mengenai eksistensinya di tengah era global city: apakah mengalami kemajuan atau justeru sebaliknya mengalami kemunduran? Akibatnya, kelompok ini tidak mempunyai perspektif tertentu untuk memberikan penilaian mengenai kondisi objektif etnis Betawi saat ini dan apa yang mesti dilakukan dan diperbaiki bagi pemajuan masyarakat Betawi.
Kelompok ini bisa berasal dari berbagai kelompok umur. Bisa pre-boomer yang lahir sebelum tahun 1946, baby boomers yang pada tahun 1946–1964, generasi X (Gen X) yang lahir pada tahun 1965–1980, generasi milenial (Gen Y) yang lahir pada tahun 1981–1996, generasi Z (Gen Z) yang lahir pada tahun 1997–2012 atau generasi alpha yang lahir setelah tahun 2012.
Namun yang paling perlu mendapat perhatian serius adalah generasi milenial. Generasi ini sebagian besarnya boleh dibilang tidak terlalu banyak memahami icon kebudayaan Betawi. Sebaliknya mereka lebih banyak mengenal dan menyenangi kesenian dari Korea, mandarin dan barat. Untuk makanan kuliner, kalangan ini lebih banyak mengenal dan mengonsumsi kuliner fast food dari Asia, Amerika Serikat dan Eropa daripada kuliner tradisional. Khususnya dari etnis Betawi.
Darimana dimulai perbaikan?
Dengan tetap mempertimbangkan dan menghormati polarisasi pandangan dan opini dari berbagai elemen dan komponen masyarakat tentang kondisi objektif masyarakat Betawi di era global city saat ini, secara umum sebagian besar masyarakat Betawi berpandangan bahwa kondisi objektif yang terjadi saat ini belum ideal.
Bahkan secara objektif harus diakui, masyarakat Betawi saat ini belum menjadi ‘tuan rumah‘ di tanahnya sendiri. Masih tertinggal dibandingkan suku lainnya, terutama dari suku etnis Cina untuk bidang ekonomi, bisnis, keuangan dan perbankan. Di sektor politik, dikuasai etnis Jawa dan sejumlah etnis nusantara. Sedangkan di bidang sosial dan budaya, etnis Betawi, cukup dominan. Meski demikian, secara bisnis atau keuntungan ekonominya lebih banyak dinikmati etnis lainnya.
Untuk mengejar ketertinggalan di bidang ekonomi dan politik serta berbagai kehidupan lainnya, diperlukan kesadaran tinggi dari orang Betawi sendiri. Bahkan harus dibarengi dengan instrospeksi diri. Bukan mengandalkan uluran tangan, kebaikan atau bantuan dari etnis lainnya. Sebab etnis lain juga secara alamiah dan subyektif akan lebih mendahulukan kepentingannya sendiri. Kesadaran tersebut akan menjadi prasyarat pokok bagi kemajuan orang Betawi.
Kesadaran saja atau niat baik saja tidak cukup, melainkan harus diwujudkan dengan kerja cerdas dan keras serta nyata sehingga hasilnya maksimal atau optimal. Dua aspek atau bidang menjadi sangat penting untuk ditingkatkan dan dikuatkan, yakni: peningkatan kualitas pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dan serta kewirausahaan yang mampu mengantarkan hingga menjadi pengusaha menengah dan besar. Jadi, tidak cukup hanya menjadi pengusaha kelas kecil.
Upaya tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan dan terjun di pelbagai institusi. Seperti organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, partai politik, pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan sebagainya. Orang Betawi, terutama kalangan mudanya harus aktif dan mengambil peran penting pada setiap organisasi yang dimasuki dan digelutinya. Jika kualitas individu etnis Betawi unggul dan kuat, akan lebih mudah memperjuangkan pemajuan masyarakat Betawi di era global city. *