Presiden Prabowo Subianto baru baru ini telah meresmikan ground breaking Blok Abadi Masela secara virtual dari Istana Negara. *Ist
Jakarta, RIC — Presiden Prabowo Subianto baru baru ini telah meresmikan ground breaking Blok Abadi Masela secara virtual dari Istana Negara. Blok ini telah hampir tiga puluh tahun belum serius digarap. Blok Masela ini cukup potensial bagi negara dan rakyat setempat.
Terkait hal tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menyatakan, potensi cadangan gas yang dimiliki Blok Masela sangat besar sehingga dapat menjadikan Maluku sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia.
“Blok Masela ini jika terealisasi dengan baik bisa seperti Qatar. Potensinya sangat besar, termasuk untuk membangun infrastruktur di Maluku dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Amir Hamzah, yang juga Tokoh Masyarakat Maluku ini.
Ground breaking Blok Masela ini, lanjut Amir, merupakan realisasi proses panjang sejak Presiden BJ Habibie. Terlebih pengelolaan dilakukan secara onshore atau di darat.
Sejatinya, ungkap Amir, banyak pejabat menginginkan pengelolaan Blok Masela dilakukan secara Offshore atau di laut, sementara masyarakat Maluku bersikeras dilaksanakan onshore.
Menurut Amir, kenapa Blok Masela harus dilakukan secara onshore, karena negara kita belum punya konsep tata ruang yang jelas. Berbicara konsep tata ruang bukan semata – mata tata ruang darat, laut, udara dan dalam tanah dan dalam laut tapi juga berkaitan dengan tata ruang pengelolaan negara.
Dalam pengelolaan negara ada tata ruang pertahanan dan keamanan negara, investasi dan perekonomian.
Jika pengelolaan dilakukan Offshore atau di laut, peluang kerugian sangat besar karena tidak ada kontrol. Blok Masela dengan Australia bagian Utara, terdapat pengelolaan yang berkaitan dengan investor, PT Inpex.
Untuk mengantisipasi kemungkinan pertahanan keamanan negara, maka kita minta pengelolaan dilakukan di darat.
“Bukan asal permintaan. Ini saya sampaikan dihadapan Watimpres pada 23 Februari 2016,” ucap Amir.
Diceritakan Amir, pertemuan dengan Watimpres setelah mendapat dukungan Menteri ESDM Rizal Ramli (almarhum), agar pengelolaan Blok Masela dilakukan di darat.

“Saat itu, kalimat saya yang disampaikan pada pimpinan Watimpres Sudarto: Tolong rekam suara saya. Sampaikan kepada Presiden Jokowi, bahwa apabila pengelolaan Blok Masela tetap dilakukan di darat, kami akan menyatakan Maluku merdeka,” kenang Amir.
Pernyataan tersebut turut disaksikan pimpinan Universitas Pattimura, Universitas Darussalam, Ketua Yayasan Archipelago Solidarity Foundation Angelina Pattiasina dan tokoh – tokoh Maluku lainnya.
Di luar dugaan, masih kata Amir, pada 23 Maret 2016, di Bandara Supadio, Pontianak, Presiden Jokowi mengumumkan keputusannya bahwa pengelolaan Blok Masela dilakukan di darat.
Dengan demikian untuk ground breaking pemerintah pada 16 Juli lalu, dengan pengelolaan Blok Masela dilakukan di darat, menunjukkan kearifan Presiden Prabowo dan kita mengapresiasi hal tersebut karena menyerap aspirasi masyarakat Maluku.
“Walaupun demikian, secara pribadi saya merasa kurang puas karena ground breaking tidak dihadiri Presiden Prabowo secara langsung,” tandas Amir. *man