Mahasiswa Program Pascasarjana Konsentrasi MPQ Universitas PTIQ Jakarta melakukan Rihlah Ilmiah ke Pondok Pesantren Al-Kasyaf di Cileunyi, Bandung. *Ist
Oleh: Dr. Farizal Marlius SH, MBA, MM, Dosen Pasca Manajemen Pendidikan Al-Quran Universitas PTIQ
PERKULIAHAN tidak hanya bertujuan membekali mahasiswa dengan teori, tetapi juga membentuk kemampuan menghadirkan solusi bagi masyarakat. Dalam Program Studi Konsentrasi Manajemen Pendidikan Al-Qur’an (MPQ), mahasiswa perlu melihat secara langsung proses membangun dan mengelola lembaga pendidikan. Pengalaman lapangan menjadi sarana untuk menumbuhkan inspirasi, keberanian dan keyakinan bahwa mendirikan lembaga pendidikan merupakan cita-cita yang dapat diwujudkan.
Sebagai bagian dari pembelajaran, Program Pascasarjana Konsentrasi MPQ Universitas PTIQ Jakarta secara rutin menyelenggarakan rihlah ilmiah bagi mahasiswa semester akhir. Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dengan para pendiri dan pengelola lembaga pendidikan yang telah berhasil mengembangkan institusi mereka. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pemimpin, pendiri, maupun konsultan pendidikan yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Tradisi akademik ini telah membawa mahasiswa mengunjungi berbagai pesantren inspiratif, seperti Pesantren Tahfidz Fantastis Depok, Darul Qur’an Tangerang, Nurul Iman Parung Bogor dan At-Ta’awwun Subang. Setiap kunjungan menunjukkan bahwa keberhasilan lembaga pendidikan tidak ditentukan oleh kemegahan fasilitas, melainkan oleh kekuatan visi, kepemimpinan dan semangat pengabdian.
Program ini selalu memperoleh dukungan penuh dari Prof. Dr. M. Darwis Hude, M.Si., selaku Direktur Pascasarjan dan Dr. Ahmad Shunhaji, M.A., selaku Ketua Program Studi MPI S2 Universitas PTIQ Jakarta serta Dr. Farizal Marlius, S.H., M.B.A., M.M., selaku dosen pengampu Mata Kuliah Manajemen Pendidikan Khusus pada Konsentrasi MPQ. Mereka meyakini bahwa pengalaman lapangan merupakan media pembelajaran yang mampu menanamkan jiwa kepemimpinan, inovasi dan semangat pengabdian yang tidak selalu dapat diperoleh melalui teori di dalam kelas.
Rihlah ilmiah tahun ini dilaksanakan pada 27 Juni 2026 menuju Pondok Pesantren Yatim dan Dhu’afa Al-Kasyaf di Cileunyi, Bandung, yang berdiri di kaki Gunung Manglayang. Pesantren ini bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan kisah tentang ketulusan, perjuangan, dan keyakinan bahwa Allah selalu membuka jalan bagi siapa pun yang mengabdikan hidupnya untuk memuliakan sesama.
Pesantren Al Kasyaf
Rihlah ilmiah tahun 2026 dilaksanakan pada 27 Juni menuju Pondok Pesantren Yatim dan Dhu’afa Al-Kasyaf di Cileunyi, Bandung. Pesantren yang berdiri di kaki Gunung Manglayang ini didirikan pada 2013 oleh Dr. K.H. Giovani Tarega, M.Fil., Ph.D., seorang akademisi yang memilih meninggalkan kenyamanan karier untuk mengabdikan diri mendidik anak-anak yatim dan dhuafa.
Perjalanan Al Kasyaf dimulai dari sebuah rumah sederhana yang menjadi tempat belajar sekaligus pembinaan karakter dan kewirausahaan. Keterbatasan ekonomi bahkan pernah memaksa pengelola dan para santri tinggal di bawah tenda. Titik balik terjadi setelah kisah perjuangan mereka diliput media sehingga mendapat dukungan luas dari masyarakat.
Kini Al Kasyaf membina sekitar 150 santri yatim dan dhuafa melalui pendidikan yang memadukan sekolah formal, pembelajaran agama, tahfiz Al-Qur’an, serta pelatihan pertanian, peternakan, perikanan, dan kewirausahaan. Pesantren juga mengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan mengelola daur ulang sampah ( Bank Sampah ) sebagai bentuk kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar.
Semangat inovasi menjadi ciri kepemimpinan Al Kasyaf. Pesantren aktif mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui pengelolaan SPPG dan memperoleh apresiasi dari pemerintah. Model pemberdayaan yang dikembangkan juga menarik perhatian berbagai perguruan tinggi di Indonesia maupun peneliti dari luar negeri untuk dijadikan objek kajian, bahkan telah dikunjungi pula oleh Menteri UMKM dan Kepala BGN.
Keunggulan Al-Kasyaf semakin terlihat dari tenaga pendidiknya yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, seperti ahli kimia, pertanian, bisnis, informatika, komunikasi, dan ilmu-ilmu keislaman. Para pendidik didorong untuk melanjutkan studi hingga jenjang magister dan doktor. Filosofi pendidikannya berlandaskan pemikiran Mulla Sadra yang memandang pendidikan sebagai proses penyempurnaan manusia secara intelektual, spiritual, dan sosial.
Hal lain yang mengesankan adalah komposisi tenaga pendidik Al-Kasyaf yang berasal dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari kimia, komunikasi, informatika, bisnis, pertanian, hingga ilmu-ilmu keislaman. Para pendidik bahkan terus didorong untuk melanjutkan studi hingga jenjang magister dan doktor. Bagi pendirinya, membangun pesantren berarti membangun peradaban yang memadukan ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan pengabdian kepada masyarakat.
Landasan filosofis tersebut berakar pada pemikiran Mulla Sadra dalam Al-Hikmah al-Muta’aliyah yang menempatkan setiap aktivitas manusia sebagai bagian dari kehendak Allah. Melalui konsep asalat al-wujud, harakat al-jawhariyyah, wahdat al-wujud secara tasykiki, serta al-ma’ad al-jismani wa al-ruhani, pendidikan dipandang sebagai proses transformasi yang terus bergerak menuju kesempurnaan manusia, baik secara intelektual maupun spiritual.
Faktor Pengelola
Keberhasilan apa pun, termasuk lembaga pendidikan, tidak akan terlepas dari peran pendiri dan pimpinannya. Rumus tersebut sudah berlaku umum. Hal itu juga dialami oleh Pesantren Al-Kasyaf. Kemajuan yang diperolehnya kini tidak dapat dilepaskan dari faktor pendiri dan pengelola. Yakni: Dr. K.H. Giovani Tarega, M.Fil., Ph.D., seorang akademisi yang pernah mengajar di lima perguruan tinggi di Bandung. Dr. Giovani mencapai sukses berkarier di bidang, tidak ditempuh dengan mudah, melainkan melalui jalan berliku penuh perjuangan.
Di tengah karier akademiknya, ia memilih jalan pengabdian yang tidak mudah. Kepeduliannya terhadap anak-anak yatim dan dhuafa yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan mendorongnya untuk membangun sebuah rumah sederhana sebagai tempat belajar dan bertumbuh. Di tempat itulah ia menanamkan nilai-nilai keislaman sekaligus semangat kemandirian melalui pendidikan kewirausahaan.
Perjalanan itu sama sekali tidak mudah. Keterbatasan biaya membuat rumah kontrakan yang ditempati tidak lagi dapat dipertahankan. Bersama anak-anak asuhnya, beliau pernah hidup di bawah tenda, menjalani hari-hari penuh keterbatasan tanpa kehilangan keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang pada waktunya.
Titik balik perjuangan tersebut hadir ketika seorang jurnalis dari Detik.com berteduh karena hujan di lokasi tersebut. Percakapan sederhana yang kemudian menjadi sebuah liputan membuka mata masyarakat. Dukungan pun mengalir dari berbagai pihak, menjadi bukti bahwa ketulusan sering kali menemukan jalannya sendiri.
Kini, Al-Kasyaf telah berkembang menjadi pesantren yang membina sekitar 150 santri yatim dan dhuafa. Namun, satu hal tidak pernah berubah: komitmen untuk membentuk generasi yang berakhlak, mandiri, dan produktif. Pada pagi hari para santri mengikuti pendidikan formal di sekolah-sekolah sekitar pesantren.
Sore harinya mereka belajar mengelola pertanian, peternakan, perikanan, bisnis ritel serta memproduksi berbagai kebutuhan rumah tangga dan kerajinan bernilai ekonomi. Malam hari menjadi waktu untuk mendalami ilmu agama dan menghafal Al-Qur’an. Pendidikan di Al Kasyaf tidak berhenti pada transfer ilmu, tetapi membangun karakter bahwa ibadah dan produktivitas merupakan dua sisi yang saling menguatkan

Pelajaran berharga
Bagi mahasiswa MPQ, rihlah ilmiah ini bukan sekadar kunjungan akademik, melainkan pengalaman menemukan makna. Mereka menyaksikan bahwa pesantren sederhana di kaki Gunung Manglayang dapat dikenal hingga tingkat internasional berkat kekuatan visi, konsistensi pengabdian, dan keberanian berinovasi. Al-Kasyaf juga membuktikan bahwa pembangunan lembaga pendidikan tidak memerlukan modal besar, tetapi ditopang oleh visi kuat, keberanian memulai, kepedulian sosial, dan pengelolaan bertahap yang ditanamkan oleh Dr. K.H. Giovani Tarega, PhD, kepada para santri.
Rihlah ini memberi pelajaran bahwa kepemimpinan menuntut keikhlasan, adaptasi, dan inovasi. Mahasiswa menyadari bahwa pendidikan tidak hanya melahirkan lulusan cerdas, tetapi manusia yang bermanfaat bagi sesama. Dari dialog bersama Dr. K.H. Giovani, mereka memahami bahwa kepemimpinan adalah amanah, pembangunan spiritual harus sejalan dengan produktivitas, dan tujuan akhir pendidikan adalah memuliakan kehidupan manusia. Al-Kasyaf pun menjadi bukti bahwa kesederhanaan dapat melahirkan inspirasi besar ketika dipadukan dengan ilmu, keikhlasan dan keberanian. *