Screenshot tangkapan layar dari LPSE DKI. *ist
Jakarta, RIC – Proyek – proyek beranggaran besar di lingkungan Pemprov DKI Jakarta dikerubuti perusahaan – perusahaan BUMN. Nilai proyek – proyek tersebut antara ratusan milyar sampai angka trilyunan rupiah
Proyek besar seperti pembangunan jaringan air limbah dikuasai atau lebih tepatnya dimonopoli perusahaan BUMN, PT Brantas Abipraya. Nilai pagu proyek tersebut mencapai Rp1 trilyun lebih. Begitu juga proyek – proyek di Dinas Pemuda dan Olahraga, pembangunan Gelanggang Remaja Kecamatan di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.
Untuk proyek ini juga dimenangkan dua perusahaan BUMN yakni PT Nindya Karya dan PT Adhi Karya. Proyek – proyek tersebut bernilai ratusan milyar rupiah.
Terkini, untuk proyek empat paket rehabilitasi sekolah – sekolah dengan nilai per paket mencapai ratusan milyar tengah dalam masa sanggah lelang lewat LPSE DKI Jakarta.
Menilik daftar peserta lelang yang memasukan harga penawaran dari perusahaan non BUMN dan perusahaan BUMN menarik untuk ditelisik. Perusahaan – perusahaan BUMN itu antara lain: PT Nindya Karya, PT Adhi Karya, PT Wijaya Karya, PT Waskita Karya dan PT Hutama Karya serta PT Pembangunan Perumahan.
Diantara dominasi perusahaan BUMN ada juga perusahaan BUMD, PT Jaya Konstruksi Manggala Persada.
Terkait perusahaan – perusahaan BUMN yang ikut aktif dalam lelang dan pengerjaan proyek proyek di tingkat Provinsi DKI dan tidak menutup kemungkinan juga di provinsi – provinsi lainnya, Pengamat Kebijakan Publik Amir Hamzah menyatakan, lelang dengan sistim paket menguatkan dugaan monopoli terselubung dan makelar proyek.
Harus diperhatikan banyak perusahaan BUMN yang terlilit utang sehingga Pemprov DKI memberikan untung kepada perusahaan BUMN untuk menutupi utang dan korelasinya menurunkan kualitas hasil proyek atau pembangunan.
“Lalu, Pemda khususnya Sekda harus melakukan pengawasan dan pengendalian secara ketat sehingga tidak terulang Seperi kejadian tahun kemarin ada BUMN yang memenangkan tender tapi kemudian di-sub-kan perusahaan lain,” ujar Amir, Senin (7/7/2025).
Langkah perusahaan BUMN mendominasi lelang merupakan langkah strategis guna memenangkan lelang.
“Tapi bukan berarti setelah menang tender bisa me-sub-kan proyek yang dimenangkan kepada perusahaan lain. Apa bedanya dengan makelar proyek. Jika ini terjadi akan berimbas pada kualitas hasil pembangunan atau proyek,” ulas Amir.
Dominasi BUMN
Untuk diketahui, PT Nindya Karya memasukan harga penawaran proyek pembangunan sekolah dari paket 1 hingga paket 4. Disusul PT Brantas Abipraya dan PT Waskita Karya.
Lalu, untuk PT Hutama Karya mengikuti lelang paket 1 dan paket 3. Begitu juga dengan PT Wijaya Karya Bangun Gedung (anak perusahaaan PT Wijaya Karya).
Sedangkan perusahaan BUMN lainnya yakni PT Pembangunan Perumahan mengikuti lelang paket 2 dan paket 3.
Tak mau ketinggalan perusahaan BUMD yaitu PT Jaya Konstruksi Manggala Persada memberikan penawaran untuk semua paket, dari paket 1 sampai paket 4.
Berdasarkan catatan lainnya, perusahaan perusahaan BUMN tersebut tidak hanya mengikuti lelang, memenangkan tender juga melaksanakan proyek di beberapa provinsi lainnya.
Untuk di Provinsi Jawa Barat, berdasarkan hasil penelusuran mesin pencari Google, didapat PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT PP (Persero) Tbk, PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, dan PT Brantas Abipraya (Persero) mengerjakan beberapa proyek infrastruktur.
Proyek proyek itu antara lain Tol Akses Patimban, pembangunan pelabuhan dan LRT.
Tak hanya Jawa Barat, perusahaan perusahaan BUMN tersebut juga merambah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perusahaan perusahaan BUMN tersebut mengerjakan proyek proyek infrastruktur seperti jalan tol, bendungan, pelabuhan dan infrastruktur lainnya. *man