Achmad Fachrudin, Jurnalis Senior dan Akademisi dari Universitas PTIQ. *Ist
Oleh: Achmad Fachrudin, Jurnalis Senior dan Akademisi dari Universitas PTIQ
ADA sesuatu yang selalu memikat dan berkesan ketika menelusuri biografi para tokoh besar —mereka yang disebut sukses atau bahkan pesohor. Bukan sekadar hasil akhir yang menarik perhatian, melainkan jejak panjang pergulatan hidup yang mereka tempuh. Dari sana terlihat bahwa jalan menuju keberhasilan tidak selalu seragam. Sebagian tokoh mencapai puncak karena ketekunan luar biasa dalam satu bidang tertentu.
Namun, ada pula sosok ‘sukses’ yang justru menapaki banyak jalur sekaligus, menguji diri dalam beragam medan aktivitas, lalu menjahit semuanya menjadi kisah keberhasilan yang utuh. Di antara nama-nama yang menonjol dalam kategori kedua itu, Ponco Sutowo menjadi salah satu figur yang layak diperbincangkan.
Ponco Sutowo bukan hanya dikenal sebagai sosok sukses di dunia bisnis, tetapi juga sebagai pribadi yang memberi kontribusi positif dengan terlibat dalam ranah pemikiran dan aksi atas isu atau problem keindonesiaan mutakhir. Kiprah Ponco Sutowo yang sangat luas dan beragam tersebut menunjukkan, keberhasilan tidak harus sempit dalam satu sektor, melainkan bisa meluas dan berdampak lintas bidang.
Kisah Ponco Sutowo yang lahir pada 17 Desember 1950 dan merupakan putra dari Ibnu Sutowo seorang mantan perwira tinggi TNI dan Direktur Utama Pertamina di masa Orde Baru, mengirim pesan penting bahwa keberhasilan bukan hanya soal bertahan, tetapi juga tentang keberanian untuk berubah arah ketika keadaan menuntut —sebuah pelajaran berharga dari perjalanan hidup Ponco Sutowo.
Ragam Pergulatan
Dalam memoar berjudul “Pontjo Sutowo: Pengusaha yang Terpanggil”, diceritakan bahwa perjalanan bisnisnya telah dimulai sejak usia yang sangat muda, sekitar 20 tahun. Langkah awalnya terbilang sederhana: menjual motor tempel kapal merek Mercury di kawasan Pintu Air, Jakarta Pusat. Dari titik kecil itu, ia kemudian merintis usaha yang lebih besar dengan mendirikan PT Adiguna Shipyard, sebuah perusahaan galangan kapal. Lulusan Institut Teknologi Bandung ini bahkan langsung memimpin perusahaannya sendiri sebagai direktur utama sejak tahun 1970 —sebuah pencapaian yang mencerminkan keberanian sekaligus visi jangka panjang.
Namun, perjalanan tidak selalu mulus. Ketika bisnis galangan kapal mulai mengalami kelesuan pada awal 1980-an, ia tidak berhenti —justru beradaptasi. Pada tahun 1982, ia mengambil langkah berani dengan memasuki industri perhotelan. Di sinilah ia kemudian mengelola Hotel Sultan, yang sebelumnya dikenal sebagai Jakarta Hilton International (JHI). Hotel ini sendiri memiliki sejarah penting: dibangun pada awal 1970-an atas inisiatif Ali Sadikin yang meminta Ibnu Sutowo untuk menghadirkan hotel bertaraf internasional guna menyambut konferensi pariwisata Asia Pasifik dan kemudian diresmikan pada tahun 1976.
Ponco bukan hanya terlibat di dunia bisnis, melainkan juga di luar bisnis. Kepada penulis memoarnya Ansel da Lopez, Pontjo beralasan. “Rasanya tidak nyaman jika hidup tanpa harus berbuat apa-apa, di tengah kehidupan bangsa dan negara serta rakyatnya yang masih penuh persoalan,” kata Pontjo dalam buku memoar tersebut. Diantaranya Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesian (Hipmi), Ketua Umum Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI/Polri (FKPPI) periode 2021-2026, Anggota Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI), World Tourism Organization (WTO), ASEAN Tourism Association (ASEANTA), Pacific Asia Travel Association (PATA), Australia Indonesia Development Area (AIDA), dan lain-lain.
Pada tataran isu kebangsaan, pada 2023 Ponco Sutowo bersama para tokoh bangsa yang terdiri dari 450 peserta dari berbagai kalangan baik dari dosen, ormas, intelektual, tokoh agama, pengusaha, aktivis, advokat, karyawan swasta dan lain – lain mengadakan acara “Deklarasi Gerakan Kembali Ke UUD 1945 Asli (Hasil Pemufakatan Para Tokoh Bangsa Pada 18 Agustus 1945)” di Gedung Joeang 45 Jakarta pada hari Selasa, 7 November 2023. Keterlibatan Ponco pada Gerakan ini sekaligus mengindikasikan dan mempertunjukan adanya keprihatinan terhadap berbagai kondisi yang dialami oleh bangsa ini.
Pontjo Sutowo sebagai salah seorang Deklarator, seusai mengikuti acara Deklarasi bersama 450 para tokoh lainnya saat ditemui awak media online mengajak agar kembali ke UUD 1945 adalah suatu langkah yang kongkret dan tepat untuk memulai kembali yang kalau istilahnya saya kembali kepada fitrah cipta negara. Di sisi lain, sebagai pengusaha mengajak agar terlibat dengan memberi solusi atas berbagai problem yang dihadapi bangsa ini. Ponco juga menyinggung adanya kolonialisme imperialisme baru, karena kekayaan alam kita dimakan bukan oleh kita, orang asing. (https://karyapost.com/2023/11/08/pontjo-sutowo-mendukung-penuh-deklarasi-gerakan-kembali-ke-uud-1945-asli/).
Aktor Sentral Festival Istiqlal Kedua
Sementara kiprahnya di bidang pemajuan kebudayaan, ketokohan dan kepiawaian Ponco Sutowo sangat terlihat, teruji dan terbukti pada perhelatan Festival Istiqlal (FI-2). Sebelumnya FI-1 digelar pada 1991. FI merupakan festival kebudayaan Islam Indonesia dari masa tradisional hingga modern yang mengambil loka di Masjid Istiqlal, Jakarta. Dibandingkan FI-1, FI-2 mempunyai sejumlah perbedaan. Dari sisi kepengelolaan, sejak tahun 1996 Festival Istiqlal dikelola di bawah Yayasan Festival Istiqlal yang telah diintegrasikan ke dalam Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal, Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dalam kedudukannya sebagai Ketua Yayasan Festival Istiqlal, Pontjo Sutowo, menjadi tokoh atau aktor sentral dalam proses maupun pelaksanaan FI-2.
Jauh sebelum gelaran F1-2, Pontjo Sutowo sudah mendesain FI-2 sebagai ikhtiar membangun isu, agenda atau lebih luas lagi mengenai paradigma peradaban Indonesia bahwa Islam sebagai agama yang membawa misi kemanusiaan dan peradaban yang mulia. Ponco Sutowo berharap, dengan adanya FI-2 timbul persepsi baru tentang bagaimana perkembangan budaya di masa mendatang. Budaya dalam arti luas, budaya dalam arti kata peradaban. Bukan hanya dalam kontek nasional, melainkan juga dalam konteks global.
FI-2 sekaligus diselenggarakan dalam rangka peringatan Tahun Emas Indonesia dari 23 September–18 November 1995. Kegiatannya antara lain eksibisi Mushaf Usmani dari Tashkent, Uzbekistan, maket dan foto berbagai bentuk masjid, naskah dan buku-buku kuno, surat para wali dan raja-raja Islam masa lalu, seni ukir dan seni lukis Islam kontemporer, simposium, pembacaan puisi, pertunjukan wayang dan sebagainya. Pos Indonesia turut merayakan festival kali ini dengan menerbitkan satu prangko bernilai Rp700 dan sampul hari pertama bernilai Rp1.400. Dari sisi pesertanya bukan hanya dari dalam negeri melainkan juga dari luar negeri. Dari luar negeri antara lain Turki, Mesir, Inggris dan lain-lain.
FI-2 dikunjungi 11 juta orang, dua kali lipat dari festival sebelumnya dan lebih 1 juta orang dari yang diperkirakan, sepuluh kali lipat dari target kunjungan festival sebelumnya. Pembukaan festival ini ditandai dengan peluncuran Al-Qur’an Mushaf Istiqlal yang telah disusun selama 4 tahun, yang diikuti dengan penandatanganan prasasti sebagai tanda selesainya penulisan mushaf, penabuhan beduk Masjid Sunan Ampel oleh Presiden Soeharto, penandatanganan prangko, dan pertunjukan multimedia kolosal ‘’Semarak Emas Menyulang Emas’’, yang mewakili hampir seluruh wilayah Indonesia. Upacara pembukaan ini diiringi pula dengan irama gamelan sekaten.
Kampus Peradaban
Belakangan, dalam kedudukannya sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Ilmu Al-Qur’an (YPA) yang menaungi Universitas PTIQ Jakarta, dibangun “Kampus Peradaban Qur’ani Internasional” di kawasan Rorotan, Tanjung Priok, Jakarta Utara, diresmikan Selasa (23/9/2025). Acara peresmian ditandai pemukulan bedug oleh Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Al-Qur’an Pontjo Sutowo.
Dalam sambutannya, Ponco Sutowo antara lain menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an bukan hanya sebagai objek kajian, tetapi sebagai fondasi dalam membangun peradaban yang unggul, beradab, dan berdaya saing internasional. Pembangunan kampus peradaban (civilization campus) ini pun diproyeksikan menjadi langkah strategis untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara spiritual dan moral. Sebagai informasi, istilah kampus atau universitas peradaban bukan hal baru. Di Indonesia, tepatnya di Bumiayu, Brebes terdapat “Peradaban University”. Institusi ini menyelenggarakan program studi seperti Pendidikan Bahasa Inggris.
Sementara Menag Nasaruddin menyebut kampus baru ini sebagai “Baitul Hikmah modern,” merujuk pada pusat ilmu pengetahuan masa kejayaan Islam abad ke-7 hingga 13. Menag berharap kampus keenam PTIQ tersebut menjadi mercusuar lahirnya ilmuwan dan pemikir yang mampu memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan dunia Islam. Lokasi di Rorotan dipilih karena strategis, ideal sebagai pusat pertemuan dan pengembangan asrama mahasiswa. Menag menegaskan, kampus ini akan berfungsi bukan hanya sebagai pusat kajian Al-Qur’an, tetapi juga pusat peradaban keilmuan.
Ditelisik dari rekam jejak perjalanan dan pergulatan karir pengabdian maupun pemikiran Ponco Sutowo, maka pembangunan “Kampus Peradaban Qur’ani Internasional” bisa dikatakan atau bahkan disimpulkan sebagai kelanjutan dan aktualisasi dari gagasan pembangunan peradaban yang sudah lama diamplifikasi dan diorkestrasinya. Oleh karena itu, gagasan brilian dan cemerlang tersebut bukan hanya harus didukung melainkan dan terpenting dilaksanakan secara komprehensif, terencana, sistematis, terukur dan sebagainya dengan bisa saja sebelumnya melakukan studi perbandingan dengan kampus serupa yang dianggap sudah berhasil dalam mewujudkan kampus peradaban.
Malaysia Sebagai Role Model
“Kampus Peradaban Qur’ani Internasional” bukanlah konsep yang sepenuhnya baru. Sebelumnya, Malaysia telah lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi Islam terkemuka di dunia, khususnya dalam pengembangan role model (contoh) universitas berbasis “kampus Islam sebagai peradaban” (Islamic Civilization Campus). Negara ini secara konsisten menggabungkan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai Islam melalui konsep Islamisasi ilmu (Islamization of Knowledge) guna membangun kembali peradaban Muslim. Keberhasilan pendekatan ini terlihat dari sejumlah kampusnya yang diakui secara global, seperti International Islamic University Malaysia yang menjadi contoh utama dan mampu menarik mahasiswa dari lebih dari 100 negara.
Konsep “kampus Islam sebagai peradaban” di Malaysia tidak hanya menitikberatkan pada pengajaran ilmu-ilmu keislaman semata, tetapi menjadikan kampus sebagai pusat keunggulan peradaban secara menyeluruh. Hal ini dilakukan melalui integrasi ilmu wahyu (revealed knowledge) dan ilmu rasional (human sciences), yakni menggabungkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan sains, teknologi, ekonomi dan bidang modern lainnya.
Selain itu, dilakukan pula proses Islamisasi ilmu dengan meninjau ulang dan merekonstruksi ilmu pengetahuan Barat dalam perspektif Islam. Malaysia juga memperkenalkan konsep Islam Hadhari yang menekankan pembangunan peradaban yang beradab, modern, dan seimbang antara aspek duniawi dan ukhrawi. Di samping itu, dikembangkan pula semangat multikulturalisme dan keunggulan umat (ummatic excellence) dengan merancang kampus yang bersifat internasional dan terbuka bagi mahasiswa dari berbagai negara.
Dalam praktiknya, konsep tersebut diterapkan secara nyata dalam operasional berbagai universitas di Malaysia. Sebagai contoh, International Islamic University Malaysia menggunakan bahasa Inggris dan Arab sebagai bahasa pengantar untuk menjangkau komunitas global. Kurikulumnya juga terintegrasi, di mana fakultas ilmu wahyu (kulliyyah) dipadukan dengan fakultas sains, teknik, kedokteran, dan ekonomi. Selain itu, didukung pula oleh fasilitas dan budaya kampus yang khas, seperti keberadaan masjid besar sebagai pusat aktivitas, pengaturan fasilitas ibadah, serta sistem usrah (kelompok kajian kecil).
Contoh lainnya adalah Universiti Sains Islam Malaysia yang menitikberatkan pada integrasi ilmu naqli (wahyu) dan aqli (rasional), khususnya dalam bidang sains dan kedokteran. Kampus ini juga mendirikan lembaga riset seperti Institute of Islam Hadhari yang berfokus pada kajian peradaban Islam mencakup aspek politik, sosial-budaya, ekonomi, dan sains. Selain itu, terdapat pula International Institute of Islamic Thought and Civilization yang merupakan bagian dari IIUM dan berfokus pada kajian pemikiran serta peradaban Islam di tingkat pascasarjana. *