Achmad Fachrudin, Praktisi dan Pengajar Jurnalistik Universitas PTIQ. *Ist
Oleh: Achmad Fachrudin, Praktisi dan Pengajar Jurnalistik Universitas PTIQ
IDUL Fitri merupakan puncak kemenangan spiritual setelah menjalani proses panjang pengendalian diri selama Ramadan. Makna Idul Fitri tidak sebatas seremonial, melainkan refleksi atas keberhasilan manusia menahan hawa nafsu, memperdalam empati, serta memperkuat komitmen terhadap nilai ketakwaan. Namun, di tengah kompleksitas dunia modern, kebahagiaan Idul Fitri kerap berdampingan dan terusik dengan berbagai persoalan kemanusiaan seperti konflik, ketimpangan sosial, krisis lingkungan dan kemerosotan moral.
Keprihatinan universal (universal concern) lahir dari kesadaran kolektif untuk merasakan dan memahami penderitaan manusia tanpa batas identitas. Ia bukan sekadar simpati sesaat, melainkan empati mendalam yang mendorong tanggung jawab moral untuk bertindak. Sikap ini mencakup kepedulian terhadap berbagai isu global —kemiskinan struktural, pelanggaran hak asasi manusia, kerusakan ekologis, hingga ketidakadilan sosial— yang menuntut keterlibatan aktif setiap individu.
Dalam perspektif etika dan agama, keprihatinan universal berakar pada nilai kasih sayang, keadilan dan solidaritas. Nilai-nilai tersebut memantik manusia melampaui (beyond) kepentingan pribadi menuju kepedulian yang inklusif. Wujud nyatanya terlihat dalam aksi kemanusiaan, advokasi keadilan, serta upaya menjaga perdamaian dan keberlanjutan hidup.
Spektrum Keprihatinan
Spektrum keprihatinan universal saat ini meliputi tingkat nasional hingga global. Di dalam negeri, misalnya, terjadi perlambatan ekonomi dapat berdampak pada meningkatnya kemiskinan, pengangguran, serta melemahnya daya beli dan ketahanan pangan masyarakat. Masih belum hilang dari memori kita pada akhir 2025 lalu, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh dilanda banjir besar yang dampak negatifnya hingga kini masih dirasakan. Serta disusul beberapa daerah lainnya yang juga mengalami banjir besar —meski tidak separah tiga daerah tersebut.
Di tingkat global, sebagian umat menjalankan puasa dan merayakan Idul Fitri di tengah konflik dan perang yang pastinya akan mendatangkan penderitaan, kekuatiran, ketidakpastian dan keterbatasan. Seperti yang dialami masyarakat Iran yang tengah berperang melawan zionis Isreal yang disokong Amerika Serikat. Sebelumnya tentara zionis Isreal dengan senjata pemusnah masal meluluhlantakkan sebagian besar tanah Palestina, yang penderitaannya hingga kini masih dirasakan.
Fenomena dan realitas memprihatinkan yang dialami sebagian masyarakat Indonesia dan dunia tersebut mengafirmasi dan menkonfirmasi bahwa kemenangan spiritual tidak boleh berhenti pada ranah pribadi atau kesalehan ritual. Ia harus berkembang menjadi kesalehan sosial yang melampaui batas geografis dan lintas bangsa. Idul Fitri seharusnya menjadi energi dan kekuatan kolektif untuk memperjuangkan keadilan, memperkuat solidaritas dan menghadirkan kemanusiaan yang lebih luas.
Nilai-nilai Ramadan sebagai madrasah kehidupan menemukan relevansinya di sini. Puasa melatih kepekaan terhadap penderitaan orang lain; zakat dan sedekah menjadi sarana distribusi keadilan. Sementara Idul Fitri, dapat berfungsi sebagai forum silaturahmi untuk mempererat kembali hubungan sosial yang terfragmentasi oleh berbagai perbedaan, kepentingan dan kesibukan duniawiyah.
Momentum Refleksi Bersama
Momentum Idul Fitri penting sebagai sarana refleksi bersama: sejauh mana manusia memaknai kemajuan dan kebebasan secara bertanggung jawab. Di tengah perkembangan teknologi terutama teknologi digital, krisis makna dan empati justru semakin terasa. Karena itu, Idul Fitri perlu dimaknai sebagai titik balik menuju nilai-nilai universal seperti keadilan, kasih sayang, solidaritas, perdamaian dan sebagainya.
Kebahagiaan sejati tidak dapat dibangun di atas penderitaan orang lain. Kemenangan yang hakiki adalah ketika nilai ketakwaan yang menjadi tujuan ibadah puasa terwujud dalam tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi sesame dalam kehidupan sehari-hari. Takbir yang berkumandang bukan hanya simbol kemenangan pribadi, tetapi juga seruan untuk membangun dunia yang lebih adil dan manusiawi.
Dalam kerangka yang lebih luas, ajaran Islam memiliki dimensi universal yang melampaui batas ruang, waktu, dan identitas. Nilai-nilainya —seperti keadilan, kasih sayang, persamaan dan penghormatan terhadap martabat manusia— bersifat inklusif dan relevan bagi seluruh umat manusia. Fleksibilitas ajarannya memungkinkan adaptasi terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan esensi.
Universalitas ini juga menuntut keterbukaan terhadap keberagaman. Perbedaan bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk saling mengenal dan bekerja sama dalam kebaikan. Dengan demikian, Islam tidak hanya menawarkan kebenaran normatif, tetapi juga etika hidup berdampingan secara damai.
Keprihatinan universal menyelimuti penghujung ibadah puasa dan Idul Fitri 1744 H bukan sekadar perasaan, tetapi kesadaran yang menuntut aksi. Ia mengajak setiap manusia untuk tidak abai terhadap penderitaan global, melainkan berperan sebagai bagian dari solusi. Dalam dunia yang saling terhubung atau terkoneksi langsung terutama melalui jaringan teknologi internet, sikap ini menjadi dasar penting bagi terciptanya kehidupan yang lebih adil, beradab, dan penuh harapan.
Oleh karena itu, munculnya gerakan dari sejumlah aktivis filantropis dan kemanusian, lembaga sosial atau lembaga penyiaran publik yang meminta donasi untuk membantu masyarakat yang terpapar musibah banjir besar dan longsor atau korban perang sebagaimana dialami oleh rakyat Palestina, patut diapresiasi, bahkan seyogianya didukung secara konkret —berapapun besar donasi yang bisa diberikan. Dengan tetap bersikap kritis dan cek dan ricek (tabayun), karena kemungkinan disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, sangat mungkin terjadi
Role Model
Makna fitri secara substantif adalah kembali pada kondisi manusia yang jernih dan selaras dengan nilai ketuhanan. Ini mencakup transformasi spiritual sekaligus tanggung jawab sosial: menjadi pribadi yang jujur, adil dan peduli terhadap sesama. Dalam konteks ini, Idul Fitri menjadi fondasi kesalehan sosial yang berdampak nyata bagi kehidupan bersama.
Kembali ke fitri bukanlah peristiwa sesaat, melainkan proses berkelanjutan. Ia menuntut konsistensi dalam menjaga kejernihan hati, keikhlasan dan komitmen pada kebaikan. Kesucian tidak berhenti sebagai konsep, tetapi harus hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari dan dirasakan dampaknya ke masyarakat sekitar, bahkan hingga ke tingkat mondial atau global.
Oleh karena itu, nilai-nilai keprihatinan universal dari pelaku puasa (shoimin) bukan hanya terjadi atau mewarnai perilaku kehidupan saat bulan puasa dan puncak Idul Fitri, melainkan dan terpenting teramplifikasi justeru pasca Idul Fitri. Bukan hanya teramplifikasi, tetapi termanifetasi dan terimplimentasi. Akan sangat berkualitas manakala lintas geografis. Setiap muslim yang menjalankan ibadah puasa dan dipuncaki Idul Fitri, dituntut untuk menjadi best exampler atau role model untuk memiliki keprihatinan universal secara otentik dan empirik. *