Latihan Bersama (Latma) Direct Action Ground Reconnaissance (DAGR) 2026 antara Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI Angkatan Udara dan pasukan khusus United States Air Force Special Operations, telah berakhir. *Foto: ig/TNI AU
Jakarta, RIC — Latihan Bersama (Latma) Direct Action Ground Reconnaissance (DAGR) 2026 antara Korps Pasukan Gerak Cepat (Korpasgat) TNI Angkatan Udara dan pasukan khusus United States Air Force Special Operations Command berakhir. Latma tersebut bukan sekadar agenda militer rutin.
Di balik latihan yang berlangsung selama sepekan di Bandung, Jawa Barat, tersimpan pesan strategis yang jauh lebih besar terkait dinamika keamanan kawasan Indo-Pasifik yang semakin kompleks.
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai DAGR 2026 merupakan bagian dari upaya memperkuat interoperabilitas antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan non-konvensional maupun konvensional yang berkembang di kawasan.
Materi latihan meliputi perencanaan misi, penentuan target serangan udara, evakuasi medan tempur, hingga prosedur operasi khusus menunjukkan kedua negara tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis pasukan tetapi juga membangun kesamaan prosedur dan pola pikir operasional.
“Latihan seperti DAGR bukan sekadar meningkatkan kemampuan tempur. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan interoperabilitas. Kemampuan bekerja bersama antar-pasukan menjadi faktor penting ketika menghadapi krisis regional, bencana besar, ancaman terorisme lintas negara maupun operasi kemanusiaan,” buka Amir Hamzah kepada wartawan, Selasa (9/6/2026).
Dalam beberapa tahun terakhir, posisi Indonesia semakin diperhitungkan dalam konfigurasi keamanan Indo-Pasifik. Letak geografis Indonesia yang menguasai jalur pelayaran strategis dunia menjadikan Jakarta sebagai mitra penting bagi berbagai kekuatan global.
Amir memandang kawasan Indo-Pasifik saat ini menjadi arena kompetisi geopolitik yang melibatkan berbagai negara besar. Persaingan pengaruh antara Amerika Serikat dan Tiongkok, sengketa wilayah laut, keamanan rantai pasok global, hingga ancaman keamanan siber membuat kawasan ini menjadi salah satu titik paling dinamis di dunia.
Rivalitas Kekuatan Besar
“Dalam konteks itu, Indonesia memainkan peran sebagai negara penyeimbang. Indonesia tidak bergabung dalam aliansi militer tertentu, tetapi tetap membangun hubungan pertahanan dengan berbagai negara. Ini merupakan implementasi nyata politik luar negeri bebas aktif,” jelasnya.
Menurut Amir, kerja sama antara TNI AU dan US AFSOC menunjukkan bahwa Indonesia berupaya meningkatkan kapasitas pertahanannya tanpa harus terjebak dalam rivalitas kekuatan besar.
Dari sudut pandang intelijen, latihan DAGR memiliki nilai yang sangat penting karena melibatkan satuan-satuan elite yang beroperasi dalam lingkungan berisiko tinggi.
Korpasgat sendiri merupakan pasukan elite TNI AU yang memiliki kemampuan operasi khusus, pengendalian tempur, pengamanan objek vital strategis serta dukungan operasi udara. Sementara US AFSOC dikenal sebagai salah satu komando operasi khusus paling berpengalaman di dunia.
Latihan ini memberikan kesempatan bagi kedua pihak untuk saling memahami doktrin, pola pengambilan keputusan, sistem komunikasi, dan metode operasi modern yang digunakan masing-masing.
“Dalam dunia intelijen pertahanan, pertukaran pengalaman seperti ini sangat bernilai. Bukan hanya soal senjata atau taktik, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran situasional, mempercepat pengambilan keputusan, dan meningkatkan efektivitas operasi di lapangan,” katanya.
Menurutnya, latihan tersebut juga menjadi sarana bagi Indonesia untuk mempelajari perkembangan terbaru dalam operasi khusus yang berkembang di berbagai konflik dunia.
Tantangan keamanan saat ini tidak lagi terbatas pada ancaman invasi militer konvensional.
Kawasan Asia Tenggara menghadapi berbagai ancaman baru seperti terorisme transnasional, penyelundupan senjata, kejahatan siber, perdagangan manusia, hingga potensi konflik yang dapat mengganggu jalur perdagangan internasional.
Selain itu, meningkatnya aktivitas militer berbagai negara di kawasan laut strategis juga menuntut negara-negara regional untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
Diplomasi Pertahanan Instrumen Penting
“Dalam perspektif geopolitik, kemampuan respons cepat menjadi kebutuhan utama. Latihan seperti DAGR membantu membangun kesiapan menghadapi berbagai skenario yang mungkin terjadi di masa depan,” jelas Amir.
Melihat DAGR 2026 sebagai instrumen diplomasi pertahanan yang efektif. Melalui latihan bersama, hubungan antar-militer dapat diperkuat tanpa harus mengubah orientasi politik luar negeri masing-masing negara.
Ia menilai diplomasi pertahanan kini menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas kawasan. Hubungan profesional antara personel militer berbagai negara dapat mengurangi kesalahpahaman sekaligus membangun kepercayaan yang dibutuhkan dalam menghadapi situasi krisis.
“Ketika hubungan antar-personel sudah terbangun melalui latihan bersama, koordinasi saat terjadi keadaan darurat akan jauh lebih mudah. Ini merupakan investasi strategis jangka panjang bagi stabilitas kawasan,” ujarnya.
Meski demikian, Amir menekankan Indonesia tetap harus menjaga keseimbangan dalam menjalin kerja sama pertahanan dengan berbagai negara.
Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas regional sekaligus mempertahankan independensi kebijakan luar negerinya.
“DAGR 2026 menunjukkan bahwa Indonesia mampu meningkatkan kemampuan militernya melalui kerja sama internasional tanpa kehilangan prinsip bebas aktif. Ini menjadi pesan penting bahwa Indonesia ingin menjadi kekuatan stabilisator di kawasan, bukan bagian dari blok kekuatan tertentu,” katanya.
Penutupan DAGR 2026 yang dipimpin Komandan Denmatra 1 Pasgat Letkol Pas Fajrun Shodiq di Bandung menjadi penanda berakhirnya latihan. Namun dari perspektif geopolitik, kegiatan tersebut justru membuka babak baru dalam penguatan hubungan pertahanan Indonesia dan Amerika Serikat.
Bagi Amir Hamzah, latihan ini tidak hanya mencerminkan peningkatan kemampuan operasional pasukan elite kedua negara, tetapi juga menggambarkan bagaimana Indonesia mempersiapkan diri menghadapi lanskap keamanan masa depan yang semakin kompleks, multidimensi dan penuh ketidakpastian.
“Di era persaingan geopolitik global saat ini, negara yang unggul bukan hanya yang memiliki kekuatan militer besar, tetapi juga yang mampu membangun jaringan kerja sama strategis, meningkatkan kapasitas sumber daya manusianya, dan menjaga keseimbangan hubungan internasional. DAGR 2026 merupakan bagian dari proses tersebut,” pungkas Amir. *man