Pertemuan Kapusjianmar Seskoal Laksma TNI Salim dan Kepala SPC-A Kapten Bernard Roy Dobson, menyikapi perkembangan kawasan Indo-Pasifik. *Ist
Jakarta, RIC — Kerja sama antara Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) melalui Pusat Pengkajian Maritim (Pusjianmar) dengan kajian strategis asal Negeri Kanguru, Sea Power Centre Australia (SPC-A), mendapat perhatian dari berbagai pihak.
Kerja sama tersebut terjalin di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan besar di kawasan Indo-Pasifik, kolaborasi dua lembaga pemikir pertahanan laut tersebut dinilai bukan sekadar kerja sama akademik biasa, melainkan bagian dari strategi besar menghadapi perubahan lanskap keamanan maritim regional.
Terkait hal tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai pertemuan antara Kapusjianmar Seskoal Laksma TNI Salim dan Kepala SPC-A Kapten Bernard Roy Dobson memiliki makna strategis yang jauh lebih luas dibandingkan agenda pertukaran pengetahuan semata.
Menurut Amir, kawasan Indo-Pasifik saat ini sedang mengalami transformasi geopolitik terbesar sejak berakhirnya Perang Dingin. Laut tidak lagi dipandang hanya sebagai jalur perdagangan internasional, tetapi telah menjadi arena utama perebutan pengaruh politik, ekonomi, militer, hingga teknologi antara negara-negara besar.
“Indonesia dan Australia berada pada posisi geografis yang sangat strategis. Kedua negara menjadi penghubung antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Karena itu, kerja sama think tank pertahanan laut seperti ini merupakan langkah penting untuk membaca dinamika keamanan kawasan secara lebih akurat,” ungkap Amir kepada wartawan, Minggu (7/6/2026).
Amir menjelaskan dalam satu dekade terakhir, kawasan Indo-Pasifik berubah menjadi pusat gravitasi ekonomi dunia sekaligus medan persaingan geopolitik antara berbagai kekuatan global.
Meningkatnya aktivitas militer di Laut Cina Selatan, penguatan aliansi pertahanan baru seperti AUKUS, berkembangnya Quad, hingga meningkatnya kehadiran armada laut berbagai negara di kawasan menunjukkan perairan Asia Tenggara menjadi wilayah yang semakin strategis.
Dalam konteks tersebut, Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan militer semata. Dibutuhkan kemampuan membaca perkembangan strategis melalui kajian, riset dan analisis intelijen yang mendalam.
“Perang modern tidak selalu dimulai dengan tembakan. Banyak konflik diawali dengan perang informasi, perang pengaruh, perang ekonomi dan kompetisi narasi. Karena itu lembaga pengkajian seperti Pusjianmar memiliki peran yang sangat penting sebagai radar strategis negara,” jelasnya.
Diplomasi Pertahanan
Menurut Amir, hubungan antara TNI AL dan Angkatan Laut Australia selama ini relatif stabil dan produktif. Kedua negara memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga keamanan jalur laut internasional yang menjadi urat nadi perdagangan dunia.
Lebih dari 40 persen perdagangan global melintasi kawasan perairan yang berdekatan dengan Indonesia dan Australia. Gangguan terhadap stabilitas kawasan akan berdampak langsung terhadap ekonomi regional maupun global.
Karena itu, kerja sama antara Pusjianmar dan SPC-A dapat dipandang sebagai bentuk diplomasi pertahanan yang berorientasi pada pencegahan konflik.
“Semakin sering para perencana strategis dan pemikir pertahanan bertukar gagasan, semakin kecil potensi kesalahpahaman yang dapat memicu ketegangan antarnegara. Ini adalah investasi keamanan jangka panjang,” katanya.
Amir menilai negara-negara maju saat ini tidak hanya mengandalkan kapal perang, pesawat tempur atau rudal canggih. Mereka juga mengembangkan pusat-pusat kajian strategis sebagai instrumen utama dalam merumuskan kebijakan keamanan nasional.
Dalam perspektif intelijen strategis, think tank berfungsi sebagai laboratorium pemikiran yang mampu memetakan ancaman masa depan sebelum ancaman tersebut benar-benar muncul.
“Kalau kapal perang adalah ujung tombak kekuatan keras atau hard power, maka lembaga pengkajian adalah pusat penghasil kekuatan intelektual atau smart power. Keduanya harus berjalan beriringan,” terang Amir.
Ia menilai langkah Pusjianmar dan SPC-A menerbitkan jurnal bersama bertajuk Nusantara Maritime merupakan terobosan yang sangat penting. Publikasi tersebut dapat menjadi ruang diskusi strategis mengenai berbagai isu kemaritiman mulai dari keamanan laut, perlindungan sumber daya alam, kejahatan lintas negara, perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi pertahanan.
Amir mengingatkan ancaman maritim pada masa mendatang tidak lagi berbentuk konvensional. Selain ancaman militer, negara-negara kawasan juga harus menghadapi tantangan baru seperti penyelundupan lintas negara, perompakan, pencurian ikan, sabotase infrastruktur bawah laut, hingga serangan siber terhadap sistem pelayaran.
Belum lagi meningkatnya kompetisi penguasaan sumber daya laut yang diperkirakan akan menjadi salah satu sumber konflik baru pada abad ke-21.
Dalam kondisi tersebut, pertukaran informasi dan hasil penelitian antara Indonesia dan Australia menjadi sangat relevan.
“Negara yang mampu menguasai informasi dan memahami tren strategis lebih awal akan memiliki keunggulan dalam menghadapi krisis. Itulah nilai penting kerja sama antara Pusjianmar dan SPC-A,” ujarnya.
Hanya Obyek Geopolitik
Lebih jauh Amir menilai kerja sama ini sejalan dengan visi Indonesia sebagai poros maritim dunia. Sebagai negara dengan wilayah laut yang sangat luas, Indonesia memiliki kepentingan besar untuk memastikan stabilitas kawasan tetap terjaga.
Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi objek dalam percaturan geopolitik Indo-Pasifik, melainkan harus tampil sebagai salah satu aktor utama yang ikut menentukan arah masa depan kawasan.
“Posisi geografis Indonesia adalah anugerah sekaligus tantangan. Kita berada di pusat lalu lintas perdagangan dunia. Karena itu kemampuan berpikir strategis dan membangun jejaring kerja sama internasional menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi,” katanya.
Amir meyakini sinergi antara Pusjianmar Seskoal dan Sea Power Centre Australia akan memperkuat kapasitas kedua negara dalam menghadapi dinamika keamanan maritim yang semakin kompleks.
Di tengah meningkatnya kompetisi global di kawasan Indo-Pasifik, kerja sama antar-lembaga pemikir pertahanan seperti ini dinilai dapat menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas, mencegah konflik, serta menciptakan tata kelola keamanan laut yang lebih adaptif dan berkelanjutan bagi kepentingan kawasan maupun dunia. *man