JM Pattiasina, satu di antara tiga nama pendiri Pertamina. *Ist
JM PATTIASINA, lahir pada 15 September 1916, dari keluarga asal Pulau Saparua, Maluku. Di tengah himpitan kolonial Belanda, ia menempuh pendidikan teknik dan bekerja sebagai teknisi di Koninklijke Pakvaart Maatschappij (KPM), perusahaan pelayaran Belanda.
Kemudian ia pindah ke De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) perusahaan minyak anak Royal Dutch Shell dan ditempatkan di tangki minyak Tasikmalaya sebelum bertugas di Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM) di Plaju dan Sungai Gerong, Sumatera Selatan.
Pattiasina adalah satu dari segelintir pribumi yang menduduki posisi tinggi di perusahaan minyak Belanda pada zamannya.
Ketika Jepang menaklukkan Belanda pada 1942, kilang-kilang minyak dihancurkan. Jepang, yang kekurangan teknisi, mencari Pattiasina dan menemukannya di Jawa. Mereka memintanya memperbaiki kilang.
Pattiasina menolak. Ia tidak mau Jepang melihat ketika ia memperbaiki kilang.
Akibat pembangkangan ini, ia disiksa salah satu tulang bahunya patah. Namun baginya, itu adalah pilihan terbaik. Sejarah mencatat bahwa pada masa pendudukan Jepang, perlawanan tidak bisa dilakukan secara frontal, Jepang hampir tidak memberi ruang bagi kaum pergerakan. Namun Pattiasina membuktikan bahwa martabat tidak pernah tunduk pada penjajah, sekalipun tubuh harus membayar mahal.
Pada Maret 1945, lima bulan sebelum Jepang menyerah, Pattiasina bersama rekan-rekannya mengambil alih pimpinan kilang minyak Plaju dan Sungai Gerong dari tangan Jepang. Ia bahkan dipercaya menjadi Kepala Pabrik Asano Butai (Kilang Sungai Gerong) pada zaman Jepang, sebuah posisi yang ia gunakan bukan untuk kepentingan penjajah, melainkan untuk mempersiapkan penguasaan sumber daya minyak bagi Indonesia merdeka.
Setelah kemerdekaan, pada 10 Desember 1957, PN Permina, cikal bakal Pertamina resmi didirikan. Di balik kesuksesan awal, terdapat peran vital Pattiasina. Ia adalah “otak teknikal” di balik operasi Pertamina salah satu dari sedikit ahli perminyakan Indonesia yang berpengalaman sejak zaman kolonial.
Ketika kilang Pangkalan Brandan tinggal puing-puing besi tua dan ilalang, Pattiasina-lah yang membawa satu batalyon Zeni Pioner dari Palembang untuk memperbaikinya. Putrinya, Engelina Pattiasina, mengenang bagaimana sang ayah berkata, besi-besi tua itu akan menghidupi Indonesia.
Dan benar. Pada 24 Mei 1958, minyak mentah pertama Indonesia 1.700 ton senilai $30.000 dikirim dari Pangkalan Susu ke Jepang dengan Kapal Shozui Maru. Itulah momentum kebangkitan Pertamina.
Pattiasina menjabat sebagai Direktur PN Permina dan kemudian Wakil Direktur Utama. Ia juga mendirikan Sekolah Teknik Perminyakan untuk mencetak tenaga ahli lokal. Kolaborasi antara visi strategis Ibnu Sutowo dan keahlian teknis Pattiasina meletakkan fondasi kokoh bagi industri minyak nasional.
Johannes Marcus Pattiasina adalah orang minyak yang menjadi tentara bukan tentara yang menjadi orang minyak. Ia ditempa dalam revolusi fisik, menjadi perwira militer, dan mengabdikan seluruh keahliannya untuk kedaulatan energi Indonesia.
Putrinya, Engelina Pattiasina, menyebut bahwa nama-nama pendiri Pertamina Ibnu Sutowo, JM Pattiasina dan Tong Djoe tidak mungkin diabaikan dalam berdirinya Industri Minyak Nasional.
Maka, kepada mereka yang melontarkan hinaan terhadap orang Maluku, cukuplah sejarah yang berbicara. Seorang anak Saparua, yang tulang bahunya patah karena menolak bekerja untuk Jepang, yang mengubah puing-puing kilang menjadi kekuatan ekonomi bangsa, yang mendirikan perusahaan minyak terbesar di Indonesia, itulah martabat yang tidak bisa direnggut oleh kata-kata hinaan.
Orang Maluku tidak perlu membuktikan siapa mereka. Sejarah telah membuktikannya.
Narasi ini disusun berdasarkan berbagai sumber sejarah. *
*otto, wartawan realitasindonesia.com