DiPanglima Kogabwilhan I Letnan Jenderal TNI Kunto Arief Wibowo memimpin langsung gladi model ini menjadi bagian krusial dari rangkaian persiapan latihan terpadu. *foto: portalkomando
Jakarta, RIC — Gladi Model Operasi Gerilya Modern Tri Matra 2026 digelar TNI di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta. Kegiatan tersebut dilaksanakan di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan besar dunia, eskalasi konflik kawasan, hingga berkembangnya perang berbasis teknologi dan informasi. Latihan tersebut dipandang sebagai sinyal Indonesia mulai menyesuaikan doktrin pertahanannya dengan karakter ancaman abad ke-21.
Dalam gladi model tersebut, Panglima Kogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo memimpin langsung simulasi operasi gabungan yang melibatkan unsur darat, laut dan udara. Fokus utamanya adalah menyempurnakan konsep operasi gerilya modern yang mengintegrasikan kemampuan seluruh matra TNI.
Korps Marinir mengambil peran penting melalui kehadiran Asisten Operasi Panglima Korps Marinir Brigjen TNI (Mar) Arif Rahman Hendrata Anggorojati yang mewakili Panglima Korps Marinir Letjen TNI (Mar) Endi Supardi. Menurut Kepala Dinas Penerangan Korps Marinir Kolonel (Mar) Rana Karyana, gladi model tersebut bertujuan menyinkronkan seluruh unsur tempur agar mampu menjalankan operasi gabungan secara efektif, terpadu dan sesuai skenario.
Terkait latihan tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah melihat terdapat pesan strategis yang jauh lebih besar.
Menurut Amir, perkembangan lingkungan keamanan internasional menunjukkan hampir seluruh negara kini sedang melakukan transformasi doktrin militernya. Ancaman tidak lagi berbentuk invasi konvensional semata, tetapi berkembang menjadi perang hibrida yang memadukan operasi militer, perang siber, operasi psikologis, disinformasi, tekanan ekonomi, hingga penggunaan teknologi kecerdasan buatan.
“Latihan gerilya modern menunjukkan bahwa TNI mulai mengantisipasi perubahan karakter peperangan. Saat ini peperangan bukan hanya soal tank, kapal perang atau pesawat tempur, tetapi juga penguasaan informasi, teknologi, ruang siber, hingga kemampuan mempertahankan infrastruktur strategis nasional,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Amir menilai, pengalaman berbagai konflik internasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa negara dengan persenjataan canggih sekalipun belum tentu mudah memenangkan peperangan apabila menghadapi perlawanan yang adaptif, terdesentralisasi dan memanfaatkan teknologi secara efektif.
Kebutuhan Mutlak
Konsep gerilya modern berbeda dengan gerilya tradisional yang dikenal pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jika dahulu gerilya bertumpu pada mobilitas pasukan di medan hutan dan pegunungan, kini gerilya modern memanfaatkan jaringan komunikasi digital, drone, satelit, sistem intelijen, kecerdasan buatan, hingga operasi elektronik.
“Perang masa depan berlangsung di banyak domain sekaligus, yaitu darat, laut, udara, ruang angkasa, siber, bahkan ruang informasi. Karena itu, integrasi tiga matra menjadi kebutuhan mutlak,” katanya.
Amir juga menyoroti semakin kompleksnya dinamika geopolitik kawasan Indo-Pasifik yang menjadi pusat persaingan kekuatan global. Jalur pelayaran internasional, sengketa wilayah laut, perebutan sumber daya alam, hingga kompetisi teknologi membuat kawasan Asia Tenggara memiliki nilai strategis yang semakin tinggi.
Dalam konteks tersebut, Indonesia harus memiliki kemampuan pertahanan yang mampu memberikan efek penangkalan (deterrence) tanpa harus bersikap agresif.
“Posisi Indonesia sangat strategis karena berada di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Seluruh dinamika geopolitik dunia pada akhirnya akan berdampak terhadap Indonesia, baik secara ekonomi maupun keamanan,” jelas Amir.
Amir menambahkan ancaman terhadap Indonesia pada masa mendatang tidak selalu berupa serangan militer terbuka. Gangguan terhadap sistem energi, jaringan listrik, pelabuhan, komunikasi, pusat data nasional, hingga sistem keuangan dapat menjadi bagian dari strategi perang modern yang dilakukan tanpa deklarasi perang.
Karena itu, latihan operasi gabungan seperti yang dilakukan TNI harus terus dikembangkan, termasuk melibatkan kemampuan intelijen, keamanan siber, pertahanan ruang angkasa dan koordinasi antar-lembaga negara.
Menurutnya, kekuatan militer modern bukan lagi diukur hanya dari jumlah personel maupun alutsista, melainkan dari kemampuan seluruh komponen pertahanan bekerja dalam satu sistem komando yang terintegrasi.
“Interoperabilitas menjadi kata kunci. Ketika matra darat, laut, udara, intelijen, komunikasi dan teknologi dapat bekerja dalam satu jaringan komando yang sama, maka daya tangkal Indonesia akan meningkat secara signifikan,” kata Amir lagi.
Amir juga menilai pentingnya membangun industri pertahanan nasional agar Indonesia tidak bergantung sepenuhnya pada impor teknologi militer. Kemandirian produksi drone, sistem komunikasi, radar, satelit, hingga perangkat perang elektronik dinilai akan menentukan kekuatan pertahanan nasional dalam jangka panjang.
Selain itu, ia mengingatkan kesiapan menghadapi perang modern tidak hanya menjadi tanggung jawab TNI. Pemerintah, industri strategis, perguruan tinggi, lembaga riset dan masyarakat sipil perlu membangun ekosistem pertahanan nasional yang mampu menghadapi berbagai bentuk ancaman nonkonvensional.
Konsep pertahanan semesta yang selama ini menjadi bagian dari doktrin Indonesia tetap relevan, tetapi harus diperbarui dengan memasukkan unsur teknologi digital, kecerdasan buatan, keamanan data dan ketahanan informasi sebagai bagian integral dari sistem pertahanan negara.
“Perang abad ke-21 berlangsung sangat cepat. Yang menang bukan hanya yang memiliki senjata paling banyak, tetapi yang paling cepat membaca ancaman, mengolah informasi dan mengambil keputusan,” ucap Amir.
Modernisasi Doktrin
Gladi Model Operasi Gerilya Modern Tri Matra 2026, masih menurut Amir, menjadi salah satu indikator bahwa TNI mulai bergerak menuju transformasi tersebut. Meski demikian, ia menilai modernisasi doktrin harus diikuti peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, serta penguatan industri pertahanan nasional agar Indonesia memiliki kemampuan pertahanan yang adaptif terhadap perubahan lanskap geopolitik dunia.
Di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi, latihan gabungan ini bukan hanya menjadi agenda militer tahunan, tetapi juga mencerminkan upaya Indonesia membangun daya tangkal strategis guna menjaga kedaulatan negara, stabilitas kawasan, dan kepentingan nasional di tengah kompetisi geopolitik yang semakin kompleks. *man