Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah. *dok/ric
Jakarta, RIC — Pernyataan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi yang menyinggung peran spekulan dalam pelemahan rupiah dan kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memunculkan perdebatan baru di kalangan ekonom dan analis politik.
Di tengah tekanan yang terus menghantam pasar keuangan nasional, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai persoalan yang dihadapi Indonesia jauh lebih kompleks dibanding sekadar aktivitas spekulatif di pasar.
Menurut Amir Hamzah, dalam perspektif intelijen ekonomi modern, pergerakan nilai tukar, pasar saham dan arus modal internasional tidak pernah berdiri sendiri. Selalu terdapat interaksi antara faktor ekonomi riil, persepsi politik, stabilitas kebijakan hingga operasi psikologis yang memengaruhi sentimen pasar.
“Spekulan memang ada dalam setiap pasar keuangan dunia. Tetapi pertanyaan intelijennya adalah mengapa spekulan merasa memiliki ruang yang cukup besar untuk menyerang suatu mata uang atau pasar saham? Jawabannya biasanya terletak pada persepsi terhadap fundamental ekonomi dan tingkat kepercayaan terhadap arah kebijakan pemerintah,” ungkap Amir Hamzah kepada wartawan, Minggu (7/6/2026).
Amir menilai pertemuan yang difasilitasi Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dengan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, serta Mensesneg Prasetyo Hadi merupakan sinyal bahwa pemerintah menyadari tingkat tekanan yang sedang dihadapi ekonomi nasional.
Dalam dunia intelijen strategis, kata Amir, koordinasi tingkat tinggi semacam itu biasanya dilakukan ketika indikator risiko telah mencapai level yang memerlukan respons lintas lembaga.
“Ketika otoritas fiskal, moneter dan politik berkumpul dalam satu forum khusus untuk membahas stabilitas rupiah dan pasar modal, itu menunjukkan bahwa pemerintah memahami risiko yang sedang berkembang. Ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa,” jelasnya.
Langkah tersebut juga bertujuan mengirimkan pesan psikologis kepada pasar bahwa pemerintah tetap solid dan memiliki kendali terhadap situasi.
Spekulan Beli Masa Depan
Pasar keuangan bekerja berdasarkan dua unsur utama, yaitu data dan persepsi.
Data mencakup pertumbuhan ekonomi, inflasi, cadangan devisa, utang negara dan neraca perdagangan. Sementara persepsi dibentuk oleh ekspektasi investor terhadap masa depan.
“Kadang-kadang persepsi lebih kuat daripada data. Investor tidak membeli masa lalu, tetapi membeli masa depan. Jika mereka meragukan arah kebijakan ke depan, maka modal akan keluar meskipun kondisi saat ini masih relatif baik,” ujarnya.
Amir menilai pelemahan rupiah yang telah mencapai titik terendah sepanjang sejarah tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya kekhawatiran investor terhadap sejumlah faktor, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, perang dagang, perlambatan ekonomi dunia hingga kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal Indonesia.
Menyalahkan spekulan semata tidak akan menyelesaikan persoalan.
Dalam teori intelijen ekonomi, spekulan hanya bertindak sebagai akselerator yang mempercepat tren yang sudah terbentuk.
“Spekulan tidak menciptakan badai. Mereka hanya memperbesar gelombang yang sudah ada. Jika fundamental kuat dan kepercayaan tinggi, serangan spekulatif biasanya gagal. Tetapi jika terdapat keraguan di pasar, maka spekulan akan menemukan momentum,” katanya.
Ia mencontohkan berbagai krisis keuangan di Asia yang menunjukkan bahwa serangan spekulatif selalu muncul ketika terdapat ketidakseimbangan ekonomi atau krisis kepercayaan terhadap pengambil kebijakan.
Kepercayaan Investor
Amir melihat tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan semata pelemahan rupiah, melainkan risiko menurunnya kepercayaan investor.
Kepercayaan merupakan aset strategis negara yang nilainya sering kali lebih penting daripada cadangan devisa.
“Investor asing dan domestik ingin melihat kepastian. Mereka ingin mengetahui arah kebijakan pemerintah, strategi menghadapi tekanan global dan konsistensi pelaksanaannya. Ketika komunikasi dianggap tidak cukup jelas, ruang spekulasi akan semakin besar,” ujarnya.
Ia menambahkan arus keluar modal asing dari pasar obligasi dan saham sering kali menjadi indikator awal adanya kehati-hatian investor terhadap risiko jangka menengah.
Amir menilai Indonesia saat ini juga sedang menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan.
Persaingan antara Amerika Serikat dan Cina, ketidakpastian perdagangan internasional, perlambatan ekonomi beberapa negara besar, serta perubahan arah investasi global menjadi faktor yang ikut menekan mata uang negara berkembang.
“Dalam konteks geopolitik, Indonesia sedang berada di tengah turbulensi global. Negara-negara berkembang mengalami tekanan yang hampir sama. Namun yang membedakan adalah kemampuan masing-masing negara menjaga kepercayaan pasar,” katanya.
Menurut Amir, negara yang mampu menunjukkan stabilitas politik, disiplin fiskal dan arah pembangunan yang konsisten akan lebih mudah bertahan menghadapi tekanan global.
Amir menilai langkah pemerintah menggelar koordinasi lintas lembaga merupakan awal yang baik. Namun pasar membutuhkan lebih dari sekadar pertemuan.
Pasar membutuhkan kebijakan yang konkret, komunikasi yang terukur, serta bukti bahwa pemerintah memiliki strategi jangka pendek, menengah dan panjang untuk memperkuat nilai tukar dan menjaga pertumbuhan ekonomi.
“Di era ekonomi modern, perang tidak hanya terjadi di medan militer. Ada perang persepsi, perang informasi, dan perang kepercayaan. Pemerintah harus mampu memenangkan ketiganya sekaligus,” tegasnya.
Menurut Amir, jika pemerintah berhasil memperkuat fundamental ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, meningkatkan investasi produktif, serta menjaga koordinasi fiskal dan moneter secara konsisten, maka tekanan terhadap rupiah dan pasar modal secara bertahap dapat dikendalikan.
“Pasar selalu menghukum ketidakpastian, tetapi juga selalu menghargai kepastian. Tantangan pemerintah saat ini adalah membangun kembali keyakinan bahwa Indonesia tetap berada pada jalur yang aman dan menjanjikan bagi investor maupun masyarakat,” pungkas Amir Hamzah. *man