KRI Wahidin Sudirohusodo-991. *Ist
Jakarta, RIC — Keputusan pemerintah mengirim kembali armada TNI Angkatan Laut ke kawasan Pasifik dan Oseania melalui misi pelayaran muhibah (port visit) menggunakan KRI Wahidin Sudirohusodo-991 tidak sekadar agenda diplomasi rutin. Di balik pelayaran kemanusiaan dan pelayanan kesehatan yang akan dilakukan Indonesia, tersimpan pesan geopolitik yang jauh lebih besar.
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi nasional Indonesia untuk memperkuat posisi tawarnya di kawasan yang kini menjadi salah satu arena persaingan global paling penting antara Amerika Serikat dan Cina.
Menurut Amir, kawasan Pasifik Selatan yang selama puluhan tahun dianggap sebagai wilayah pinggiran kini berubah menjadi pusat perhatian dunia. Negara-negara besar berlomba memperluas pengaruh melalui bantuan ekonomi, kerja sama pertahanan, pembangunan infrastruktur hingga diplomasi kemanusiaan.
“Ketika TNI AL kembali mengirim kapal perang ke Pasifik, publik jangan hanya melihatnya sebagai kunjungan persahabatan biasa. Ini adalah bagian dari strategi geopolitik Indonesia untuk menunjukkan eksistensi dan kepemimpinannya di kawasan yang sedang menjadi rebutan pengaruh kekuatan besar dunia,” buka Amir Hamzah kepada wartawan, Sabtu (6/6/2026).
Amir menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir kawasan Pasifik mengalami perubahan lanskap strategis yang sangat signifikan.
Pasifik Selatan Front Penting
Cina terus meningkatkan investasi dan bantuan pembangunan kepada negara-negara kepulauan Pasifik. Sementara Amerika Serikat bersama Australia, Selandia Baru, Jepang dan sejumlah sekutu lainnya berupaya mempertahankan pengaruh tradisional mereka.
Persaingan tersebut membuat negara-negara kecil di Pasifik memiliki nilai strategis yang jauh lebih besar dibandingkan jumlah penduduk maupun kekuatan ekonominya.
“Dalam perspektif intelijen geopolitik, Pasifik Selatan hari ini adalah salah satu front penting dalam kompetisi global abad ke-21. Semua kekuatan besar ingin memiliki akses, pengaruh dan kemitraan dengan negara-negara di kawasan itu,” jelasnya.
Indonesia memahami dinamika tersebut. Karena itu Jakarta tidak ingin hanya menjadi penonton ketika kawasan yang berdekatan dengan wilayah timur Indonesia menjadi arena perebutan pengaruh internasional.
Berbeda dengan pendekatan militer keras yang sering digunakan banyak negara besar, Indonesia memilih memaksimalkan instrumen soft power.
KRI Wahidin Sudirohusodo-991 yang merupakan kapal bantu rumah sakit menjadi simbol strategi tersebut. Kapal ini tidak datang membawa ancaman atau demonstrasi kekuatan, melainkan membawa pelayanan kesehatan, bantuan kemanusiaan, pendidikan dan hubungan antarmasyarakat.
Menurut Amir, pilihan menggunakan kapal rumah sakit merupakan keputusan yang sangat cerdas secara diplomatik.
“Indonesia sedang membangun citra sebagai negara sahabat yang datang untuk membantu, bukan mendominasi. Ini jauh lebih efektif dalam jangka panjang dibandingkan pengerahan kekuatan militer yang bersifat intimidatif,” katanya.
Dalam teori geopolitik modern, lanjut Amir, pengaruh suatu negara tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah tank, rudal atau kapal perang, tetapi juga kemampuan membangun simpati dan kepercayaan masyarakat internasional.
Amir menilai terdapat dimensi lain yang tidak kalah penting dari misi tersebut, yakni penguatan hubungan Indonesia dengan negara-negara Pasifik dalam konteks isu Papua.
Selama bertahun-tahun, sejumlah kelompok yang mendukung gerakan separatis Papua berupaya mencari dukungan politik dari negara-negara Pasifik Selatan.
Karena itu, hubungan yang erat antara Indonesia dengan negara-negara kawasan tersebut memiliki nilai strategis yang sangat tinggi.
“Indonesia harus hadir secara langsung, bukan hanya melalui diplomasi meja perundingan. Kehadiran fisik TNI AL dan berbagai program kemanusiaan akan memperkuat pemahaman negara-negara Pasifik terhadap posisi Indonesia,” ujarnya.
Amir menegaskan pendekatan persuasif jauh lebih efektif dibandingkan konfrontasi diplomatik.
Menurutnya, ketika masyarakat dan pemerintah negara-negara Pasifik merasakan langsung manfaat kehadiran Indonesia, maka ruang bagi narasi negatif terhadap Indonesia akan semakin menyempit.
Lebih jauh, Amir melihat misi ini juga mengandung pesan strategis kepada Amerika Serikat maupun China.
Indonesia ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar objek dalam percaturan geopolitik kawasan Indo-Pasifik, melainkan aktor independen yang memiliki kepentingan dan pengaruh sendiri.
“Indonesia sedang menyampaikan pesan bahwa kawasan Pasifik bukan hanya wilayah permainan negara-negara besar. Indonesia juga memiliki legitimasi historis, geografis, dan politik untuk berperan aktif di sana,” katanya.
Posisi tersebut, menurut Amir, sejalan dengan doktrin politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi fondasi diplomasi Indonesia.
Jakarta berusaha menjaga hubungan baik dengan seluruh kekuatan dunia tanpa harus masuk ke dalam blok atau aliansi tertentu.
Amir juga menyoroti aspek lain yang sering luput dari perhatian publik, yakni penggunaan KRI Wahidin Sudirohusodo-991 yang merupakan produk industri pertahanan dalam negeri.
Setiap kunjungan ke luar negeri sesungguhnya tidak hanya membawa bendera Indonesia, tetapi juga membawa reputasi kemampuan teknologi nasional.
“Ketika kapal buatan Indonesia beroperasi ribuan mil di kawasan Pasifik, dunia melihat bahwa Indonesia memiliki kapasitas industri pertahanan yang semakin berkembang. Ini bagian dari diplomasi teknologi dan diplomasi industri,” ujarnya.
Konsistensi Kebijakan
Keberhasilan operasi lintas samudera tersebut sekaligus menjadi etalase kemampuan Indonesia dalam membangun kemandirian sektor pertahanan.
Amir menilai pengiriman berulang KRI Wahidin ke Pasifik juga menunjukkan adanya konsistensi kebijakan negara yang patut diapresiasi.
Jika pada 2024 dan 2025 Indonesia mulai membangun kehadiran maritim di Pasifik, maka pelayaran tahun 2026 menandakan bahwa strategi tersebut bukan program sesaat.
“Negara besar selalu ditandai oleh konsistensi. Kehadiran Indonesia yang berulang di Pasifik menunjukkan adanya perencanaan jangka panjang, bukan sekadar kegiatan seremonial,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas kawasan maritim.
Karena itu, diplomasi angkatan laut akan menjadi instrumen yang semakin penting dalam beberapa dekade mendatang.
Di akhir analisanya, Amir menegaskan bahwa misi KRI Wahidin Sudirohusodo-991 harus dipandang sebagai investasi geopolitik jangka panjang.
Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat dalam hitungan bulan, tetapi dampaknya dapat menentukan posisi Indonesia di kawasan Pasifik dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.
“Ini bukan sekadar pelayaran kapal perang. Ini adalah investasi pengaruh. Negara yang hadir lebih dulu, membantu lebih dulu, dan membangun kepercayaan lebih dulu akan memperoleh posisi strategis yang lebih kuat di masa depan. Indonesia sedang membangun fondasi kepemimpinan regionalnya di Pasifik,” imbuh Amir.
Di tengah meningkatnya rivalitas global dan dinamika Indo-Pasifik yang semakin kompleks, kehadiran TNI AL melalui diplomasi kemanusiaan menunjukkan bahwa Indonesia memilih jalur yang khas: membangun pengaruh melalui persahabatan, bantuan nyata, dan kerja sama yang saling menguntungkan. Di situlah letak kekuatan sesungguhnya dari diplomasi maritim Indonesia. *man