Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah. *dok/ric
Jakarta, RIC — Presiden RI Prabowo Subianto berencana melakukan lawatan ke Rusia untuk bertemu Presiden Vladimir Putin. Rencana Presiden Prabowo tersebut memantik perhatian luas. Mengingat rencana kunjungan tersebut di tengah eskalasi konflik Iran vs AS-Israel yang kian memanas. Langkah ini dinilai bukan sekadar diplomasi biasa, melainkan bagian dari operasi geopolitik yang terukur.
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah secara tegas menyebut kunjungan tersebut mengandung pesan strategis yang kuat di tengah perubahan peta kekuatan global.
“Ini bukan kunjungan bilateral biasa. Ini adalah manuver geopolitik Indonesia untuk menjaga posisi di tengah pertarungan dua blok besar dunia,” buka Amir Hamzah dalam keterangannya, Sabtu (11/4/2026).
Manuver Geopolitik
Menurut Amir Hamzah, konflik Iran vs AS-Israel telah mempercepat pembentukan dua poros kekuatan global. Di satu sisi terdapat Amerika Serikat dan sekutunya, sementara di sisi lain Rusia dan Iran semakin solid dalam kerja sama strategis —meskipun sering dilakukan secara senyap.
Dalam konteks ini, Indonesia berada dalam posisi yang tidak sederhana. Di satu sisi, Indonesia terlibat dalam Board of Peace (BoP), inisiatif perdamaian yang digagas Donald Trump untuk mendorong solusi konflik Palestina–Israel. Namun di sisi lain, Indonesia juga harus menjaga hubungan dengan Rusia yang memiliki kedekatan dengan Iran.
“Indonesia sedang memainkan politik luar negeri bebas aktif versi baru. Tidak condong ke Barat, tapi juga tidak meninggalkan Timur,” kata Amir.
Amir mengurai setidaknya tiga lapis kepentingan di balik kunjungan Prabowo ke Moskow:
1. Menjaga Keseimbangan Global (Strategic Hedging). Indonesia, menurut Amir, sedang menjalankan strategi penyeimbangan kekuatan agar tidak terjebak dalam orbit satu blok.
“Kalau Indonesia terlalu dekat dengan Board of Peace yang dimotori Amerika, maka harus ada penyeimbang. Rusia menjadi pilihan rasional,” jelasnya.
2. Mengamankan Energi Nasional. Perang Iran berdampak langsung pada pasokan energi global. Dalam situasi ini, Rusia menjadi alternatif penting bagi Indonesia.
Amir menilai, pembicaraan dengan Putin kemungkinan besar mencakup:
– Akses minyak Rusia dengan harga kompetitif.
– Skema transaksi non-dolar.
– Jaminan stabilitas pasokan energi.
“Ini soal dapur nasional. Energi adalah isu keamanan, bukan sekadar ekonomi,” tegasnya.
3. Membuka Jalur ke Iran Secara Tidak Langsung.
Menariknya, Amir juga melihat kunjungan ini sebagai upaya membuka komunikasi dengan Iran melalui Rusia.
“Rusia adalah pintu ke Iran. Jika Indonesia ingin punya peran dalam konflik Timur Tengah, jalurnya ada di Moskow,” terang Amir.
Tetap Independen
Hal ini sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk tampil sebagai mediator alternatif di tengah kebuntuan diplomasi global.
Amir menilai, langkah Prabowo juga sarat pesan domestik. Di tengah meningkatnya simpati publik Indonesia terhadap Iran dan Palestina, kunjungan ke Rusia bisa dibaca sebagai sinyal bahwa Indonesia tidak sepenuhnya mengikuti garis Barat.
“Ini penting untuk menjaga legitimasi politik di dalam negeri, sekaligus menunjukkan bahwa Indonesia tetap independen,” ujarnya.
Meski dinilai cerdas, Amir mengingatkan strategi ini penuh risiko.
Beberapa potensi dampak yang disorot antara lain:
1. Tekanan diplomatik dari Amerika Serikat.
2. Kecurigaan dari negara-negara Board of Peace.
3. Risiko sanksi ekonomi sekunder.
4. Terseret lebih jauh dalam konflik global.
“Bermain di dua kaki itu seni tinggi dalam geopolitik. Tapi kalau salah langkah, bisa jatuh ke dua-duanya,” kata Amir.
Bagi Amir, kunjungan Prabowo ke Rusia menandai fase baru politik luar negeri Indonesia. Negara ini tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi mulai masuk dalam arena utama geopolitik global.
“Ini pertanda Indonesia ingin naik kelas sebagai middle power yang diperhitungkan. Tapi konsekuensinya besar,” pungkas Amir. *man