Achmad Fachrudin, Dosen Jurnalistik Universitas PTIQ. *Ist
Oleh: Achmad Fachrudin, Penulis Praktisi dan Dosen Jurnalistik Universitas PTIQ
PENULISAN Latar Belakang Masalah (LBM) merupakan tahap awal sangat penting dalam penyusunan karya tulis ilmiah. Dalam LBM, peneliti harus mampu menjelaskan signifikansi penelitian, menunjukkan kebaruan penelitian (novelty), menguraikan kesenjangan penelitian (research gap) antara kondisi ideal atau teoretis (das sollen) dengan kenyataan empiris (das sein), menyusun alur logika berpikir penelitian dan menjelaskan relevansi penelitian dengan perkembangan ilmu pengetahuan maupun kebutuhan masyarakat. Karenanya, kualitas LBM sangat menentukan kekuatan dan kejelasan penelitian secara keseluruhan.
Proses penulisan LBM sering menjadi fase yang menantang bagi banyak akademisi. Tidak sedikit yang menggambarkannya melalui cerita metaforis penuh horor. Jika tahap ini berhasil dilalui dengan baik, LBM menjadi pintu masuk menuju pembahasan inti hingga penutup penelitian. Keberhasilan menyusun LBM biasanya mempermudah penyelesaian bagian penelitian selanjutnya. Sebaliknya, jika penulisan LBM belum matang dan masih mengalami revisi berulang, proses penyelesaian karya ilmiah dapat menjadi lebih panjang dan rumit.
Legitimasi Akademik
Penelitian yang tidak memenuhi standar penulisan LBM cenderung kehilangan urgensi dan signifikansi ilmiah. Akibatnya, penelitian tidak memiliki legitimasi akademik yang kuat. Kondisi ini berpotensi menjerumuskan penelitian pada praktik repetisi, redundansi atau duplikasi. Kelemahan LBM juga dapat memicu kesalahan mendasar dalam desain penelitian. Oleh karena itu, kualitas LBM sangat menentukan arah dan kekuatan penelitian.
Bagi reviewer, pembimbing maupun penguji, LBM merupakan bagian awal yang mendapat perhatian serius. Kualitas LBM sering dianggap memiliki posisi strategis dalam menilai karya ilmiah. Bahkan, perannya kerap dinilai lebih menentukan dibandingkan judul, abstrak atau kesimpulan. Jika LBM dinilai jelas dan sistematis, penulis biasanya diizinkan melanjutkan penulisan. Sebaliknya, jika belum memenuhi standar, penulis harus siap menerima revisi berulang.
Fenomena bolak-balik konsultasi dengan pembimbing merupakan hal yang umum dalam proses akademik. Pengalaman tersebut bahkan pernah diungkapkan oleh Joko Widodo saat menyusun skripsi. Bagi pembaca eksternal, LBM sering menjadi pintu masuk memahami substansi penelitian. Melalui LBM, pembaca dapat menilai orisinalitas, kebaruan dan kompleksitas permasalahan penelitian. Dengan demikian, kualitas LBM sangat memengaruhi kesan awal terhadap karya ilmiah.
LBM yang disusun secara argumentatif dan didukung data empiris mampu membangkitkan minat pembaca untuk menelaah penelitian lebih lanjut. Sebaliknya, LBM yang kurang jelas dapat menurunkan ketertarikan pembaca. Idealnya, karya ilmiah dipahami melalui berbagai bagian penting, namun keterbatasan waktu sering menjadi kendala. Di tengah derasnya arus informasi digital, pembacaan karya ilmiah secara utuh semakin sulit dilakukan. Oleh sebab itu, LBM perlu ditulis secara efektif, menarik dan tetap berbasis data ilmiah.
Antara Pemula dan Berpengalaman
Kesulitan dalam menyusun LBM yang berkualitas tidak hanya dialami penulis pemula, tetapi juga penulis yang telah berpengalaman dalam penulisan ilmiah. Meskipun demikian, tingkat kesulitan yang dihadapi penulis pemula umumnya jauh lebih tinggi. Hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman dalam memahami standar akademik. Penulis berpengalaman biasanya telah memiliki pola berpikir sistematis dalam merancang penelitian. Namun, keduanya tetap berpotensi menghadapi tantangan dalam menghasilkan LBM yang kuat dan meyakinkan.
Pada penulis pemula, kesulitan menyusun LBM umumnya bersumber dari dua faktor utama. Pertama, keterbatasan dalam menemukan ide penelitian yang relevan, aktual dan memiliki nilai kebaruan. Kedua, keterbatasan kemampuan dalam menuangkan ide tersebut ke dalam narasi akademik yang runtut dan argumentatif. Jika hambatan hanya terjadi pada salah satu aspek, solusi biasanya lebih mudah ditemukan. Sebaliknya, jika penulis mengalami kesulitan pada kedua aspek tersebut secara bersamaan, proses penulisan menjadi jauh lebih kompleks. Kondisi ini sering membuat penulis mengalami kebuntuan dalam memulai maupun melanjutkan penulisan.
Penulis yang telah memiliki pengalaman menulis ilmiah juga tidak sepenuhnya terbebas dari kendala. Permasalahan yang sering muncul adalah rasa tidak puas terhadap kualitas tulisan yang telah dihasilkan. Ketidakpuasan tersebut dapat berkaitan dengan substansi, kekuatan argumentasi, maupun aspek teknis penulisan. Dalam beberapa kasus, penulis berpengalaman harus melakukan revisi berulang kali hingga puluhan kali. Proses revisi yang panjang seringkali berdampak pada tertundanya penyelesaian tesis atau disertasi. Hal ini menunjukkan bahwa penulisan LBM merupakan tahap yang menuntut ketelitian dan kesabaran tinggi.
Kesulitan penulisan LBM juga dipengaruhi oleh perbedaan mendasar antara karya ilmiah akademik dan jenis tulisan lain. Karya ilmiah menuntut tujuan penelitian yang jelas, kedalaman analisis yang kuat, penggunaan metodologi yang tepat, serta struktur penulisan yang sistematis. Berbeda dengan tulisan populer yang lebih fleksibel, penulisan akademik memiliki standar yang lebih ketat. Meski demikian, pengalaman menulis dalam berbagai bentuk tetap menjadi modal penting dalam menyusun LBM. Kemampuan merangkai narasi yang dimiliki jurnalis, esais atau kolumnis dapat membantu, meskipun tetap perlu disesuaikan dengan kaidah penulisan ilmiah.
Kendala Lain
Dalam praktiknya, masih banyak penulisan LBM yang belum sepenuhnya menunjukkan kekuatan akademik secara optimal. Kelemahan yang sering muncul antara lain minimnya dukungan data empiris dan ketidakjelasan dalam mengidentifikasi kesenjangan penelitian. Selain itu, hubungan antara latar belakang dengan rumusan masalah, batasan, dan tujuan penelitian sering kurang sistematis. Kondisi ini menyebabkan arah penelitian menjadi kurang terarah dan argumentasi ilmiah menjadi lemah.
Penelitian juga kerap kehilangan pijakan metodologis yang kuat karena LBM hanya berisi uraian deskriptif tanpa analisis kritis. Kesalahan lain yang sering ditemukan adalah tidak adanya data pendukung serta ketidakjelasan dalam merumuskan masalah penelitian. Akibatnya, penelitian menjadi lemah secara argumentatif dan metodologis. Dampak lebih jauh, penelitian berpotensi kehilangan relevansi akademik dan kontribusi praktis.
Kendala lain berkaitan dengan kemampuan penulis memanfaatkan ruang penulisan secara efektif dan proporsional. Tidak semua penulis mampu menyusun LBM sesuai batasan halaman yang tersedia. Tantangan ini semakin berat bagi penulis pemula yang belum memiliki pengalaman menulis karya ilmiah tingkat lanjut. Kompleksitas penulisan tesis dan disertasi seringkali memperbesar kesulitan tersebut.
Permasalahan berikutnya adalah belum kuatnya tradisi menulis ilmiah dalam budaya akademik. Kehadiran kecerdasan buatan sebenarnya dapat membantu meningkatkan kualitas penulisan, namun sering disalahgunakan sebagai alat utama. Hal ini berpotensi menimbulkan duplikasi dan plagiarisme. Rendahnya literasi menulis ilmiah serta dominasi budaya lisan menunjukkan bahwa keterampilan menulis perlu dilatih sejak pendidikan menengah dan diperkuat di perguruan tinggi.
Pantang Menyerah
Bagi mahasiswa pascasarjana, khususnya yang sedang menempuh atau menyelesaikan studi pada jenjang magister maupun doktoral, sikap pantang menyerah merupakan kunci utama dalam menyelesaikan penulisan LBM. Tidak ada ruang untuk menyerah di tengah proses penelitian. Sebagaimana pepatah yang menggambarkan semangat perjuangan, penyusunan karya ilmiah menuntut ketekunan hingga penelitian benar-benar selesai. Penulisan LBM harus dituntaskan sebagai fondasi sebelum melanjutkan ke bab dan subbab berikutnya hingga keseluruhan penelitian rampung.
Mengenai cara mengatasi berbagai kendala dalam penulisan LBM, tidak terdapat formula instan yang dapat memberikan hasil cepat. Dalam proses penyelesaian studi pada jenjang S2 maupun S3, pendekatan yang paling realistis adalah melakukan transformasi kendala menjadi tantangan, serta mengubah tantangan tersebut menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas penelitian.
Dengan ketekunan, kesabaran, serta komitmen akademik yang kuat, setiap kesulitan dalam penulisan LBM pada akhirnya dapat diatasi. Meskipun proses tersebut sering dipenuhi pengalaman yang menegangkan bagaikan cerita film horror yang banyak disukai penonton film bioskop atau televisi di Indonesia, perjalanan tersebut justru menjadi bagian penting dalam pembentukan kedewasaan intelektual seorang akademisi. Insya Allah semua ada jalannya. *