Jakarta, RIC — Awal November dalam tahun ketiga pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh jajaran kabinet Merah Putih. Bukan itu saja, Presiden Prabowo juga membersihkan menteri warisan Presiden Joko Widodo. Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai sejumlah nama yang perlu menjadi perhatian dalam evaluasi kabinet tersebut antara lain Menteri Dalam Negeri […]
Jakarta, RIC — Awal November dalam tahun ketiga pemerintahan, Presiden Prabowo Subianto diharapkan segera melakukan evaluasi menyeluruh jajaran kabinet Merah Putih. Bukan itu saja, Presiden Prabowo juga membersihkan menteri warisan Presiden Joko Widodo.
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai sejumlah nama yang perlu menjadi perhatian dalam evaluasi kabinet tersebut antara lain Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia serta Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas).
Amir juga menyoroti keberadaan sejumlah menteri yang disebutnya sebagai orang-orang Jokowi di dalam pemerintahan Prabowo. Memasuki 2027, pemerintahan Prabowo sudah semakin mandiri dan tidak lagi dibayangi oleh kekuatan politik maupun pengaruh pemerintahan sebelumnya.
“Evaluasi Gerindra, awal November 2026 Presiden bisa mengganti beberapa menteri lagi seperti Tito, Bahlil, Zulhas dan menteri-menteri orangnya Jokowi. Pada 2027 diharapkan pemerintahan Prabowo bersih dari rezim Jokowi,” kata Amir Hamzah kepada wartawan, Jumat (30/10/2026).
Benahi Warisan Rusak
Menurut dia, masih banyak pihak yang belum memahami tantangan besar yang dihadapi Prabowo dalam menjalankan pemerintahan.
Prabowo, kata Amir, tidak cukup hanya melanjutkan program pemerintahan sebelumnya. Presiden juga harus melakukan pembenahan terhadap berbagai persoalan yang diwariskan selama 10 tahun pemerintahan Jokowi.
“Banyak yang tidak mengerti Prabowo harus membersihkan dan memperbaiki pemerintahan yang rusak selama 10 tahun di bawah Jokowi,” ujarnya.
Di luar persoalan kabinet dan konsolidasi politik dalam negeri, Amir memberikan penilaian positif terhadap sejumlah kebijakan geopolitik Presiden Prabowo.
Menurutnya, pendekatan Prabowo dalam menjalankan hubungan luar negeri mulai memperlihatkan hasil, termasuk dalam hubungan Indonesia dengan Singapura.
Ia menilai sikap Singapura yang disebut mulai melunak menjadi salah satu indikasi bahwa pendekatan diplomasi dan kebijakan strategis Prabowo memiliki pengaruh terhadap posisi Indonesia di kawasan.
Kebijakan Prabowo terhadap Singapura telah membuka persoalan yang selama ini tidak banyak terlihat dalam hubungan kedua negara.
“Secara geopolitik, kebijakan Prabowo banyak hasil. Singapura melunak. Kebijakan Prabowo terhadap Singapura membuka kedok Singapura,” ungkapnya.
Amir berpandangan Indonesia memiliki posisi strategis dan tidak seharusnya selalu bergantung kepada Singapura dalam menjalankan aktivitas perdagangan internasional.
Indonesia mempunyai peluang untuk memperluas kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan negara-negara lain tanpa harus selalu melibatkan Singapura sebagai perantara.
“Karena itu, kebijakan diversifikasi hubungan dagang dinilai penting untuk memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus meningkatkan posisi tawar Indonesia di kawasan Asia Tenggara,” pungkas Amir. *man