Kementerian Pertahanan Cina sebelumnya mengumumkan latihan bersama dengan Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Agustus. Atas kegiatan tersebut Taiwan meradang. *Ist
Jakarta, RIC – Rencana latihan Angkatan Laut Cina dan Indonesia di Perairan Timur Taiwan memunculkan perhatian geopolitik baru di kawasan Indo-Pasifik. Taiwan bahkan memprotes kegiatan tersebut dan meminta klarifikasi kepada Indonesia karena menilai latihan itu berpotensi mengganggu status quo di kawasan.
Kementerian Pertahanan Cina sebelumnya mengumumkan latihan bersama dengan Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan Agustus. Materi latihan mencakup komunikasi, manuver formasi serta pengisian logistik di laut.
Taiwan melalui Mainland Affairs Council (MAC) menyebut latihan tersebut sebagai tindakan yang berbahaya. Taipei menilai Beijing sedang berupaya menciptakan persepsi bahwa Cina memiliki yurisdiksi atas perairan di sebelah timur Taiwan.
Dari sisi Indonesia, kegiatan tersebut dipandang sebagai latihan rutin dan tidak berkaitan dengan operasi tempur. Reuters melaporkan Indonesia menjelaskan bahwa kapal perangnya sedang dalam perjalanan pulang dan kegiatan bersama Cina tidak dimaksudkan sebagai latihan perang.
Terkait hal tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah mengatakan persoalan tersebut tidak dapat hanya dilihat dari aspek teknis latihan militer.
“Persoalan terpenting bukan hanya apakah kapal Indonesia melakukan manuver tempur atau tidak, tetapi mengapa latihan tersebut dilakukan di kawasan timur Taiwan dan mengapa Indonesia dilibatkan,” kata buka Amir Hamzah kepada wartawan, Senin (12/8/2026).
Datang Tidak untuk Latihan
Menurut Amir, lokasi latihan militer sering kali mempunyai arti strategis yang lebih besar daripada materi latihan itu sendiri. Ketika latihan dilakukan di kawasan yang menjadi titik sensitif hubungan Cina, Taiwan dan Amerika Serikat, kehadiran kapal perang Indonesia otomatis memiliki dimensi politik dan strategis.
Amir menjelaskan, secara militer kapal Indonesia memang tidak secara langsung menunjukkan ancaman terhadap Taiwan. Pejabat militer Taiwan juga menyatakan kapal Indonesia berada sekitar 70–80 mil laut dari Pantai Timur Taiwan dan tidak datang secara khusus untuk melakukan latihan bersama Cina.
Namun, menurut Amir, perspektif geopolitik membuat situasinya menjadi berbeda.
“Secara geopolitik, persoalannya bukan sederhana. Kawasan timur Taiwan merupakan ruang strategis yang berkaitan dengan kemungkinan konflik China-Taiwan. Karena itu, aktivitas militer di kawasan tersebut selalu memiliki pesan yang lebih besar,” ujarnya.
Keterlibatan Indonesia dalam aktivitas militer bersama Cina dapat dibaca pihak luar sebagai bagian dari meningkatnya keterlibatan Beijing dengan negara-negara lain di Indo-Pasifik.
Cina sendiri terus meningkatkan tekanan militernya terhadap Taiwan. Sementara itu, Taipei memperkuat kemampuan pertahanannya dan Amerika Serikat bersama sejumlah negara sekutunya terus memantau perkembangan keamanan di kawasan tersebut.
Orbit Strategis Beijing
Dalam perspektif intelijen, lanjut Amir, latihan militer juga dapat berfungsi sebagai instrumen komunikasi strategis. Pesan yang dikirim tidak selalu berupa ancaman langsung. Kehadiran kapal perang, latihan komunikasi, manuver bersama hingga kegiatan logistik dapat menunjukkan kemampuan bekerja sama sekaligus menguji respons negara-negara di sekitar kawasan.
“Latihan militer bisa menjadi sarana membangun interoperabilitas sekaligus komunikasi strategis. Karena itu, kita harus melihat konteks lokasi, waktu dan siapa saja yang terlibat,” kata Amir.
Menurut dia, Indonesia harus berhati-hati agar kerja sama pertahanan dengan Cina tidak menimbulkan persepsi bahwa Jakarta telah masuk ke dalam orbit strategis Beijing.
Cina merupakan mitra ekonomi penting bagi Indonesia. Namun, Indonesia juga memiliki hubungan strategis dengan Jepang, Amerika Serikat, Australia, negara-negara ASEAN dan berbagai mitra lainnya.
Amir menilai perkembangan tersebut menjadi salah satu ujian terhadap implementasi politik luar negeri bebas aktif Indonesia di tengah perubahan keseimbangan kekuatan dunia.
Persaingan Cina dan Amerika Serikat saat ini tidak hanya berlangsung dalam perdagangan dan teknologi, tetapi juga merambah sektor militer, rantai pasok, semikonduktor, energi, keamanan laut dan pengaruh politik. “Indonesia harus mampu membedakan antara kerja sama militer dan alignment strategis. Kerja sama militer dengan Cina tidak otomatis berarti Indonesia berpihak kepada Cina,” tuturnya.
Sebaliknya, menurut Amir, latihan militer Indonesia dengan Amerika Serikat, Australia atau Jepang juga tidak otomatis menjadikan Indonesia bagian dari blok Barat.
Masalahnya, kata dia, adalah persepsi.
“Dalam geopolitik, persepsi dapat menjadi faktor yang sama pentingnya dengan fakta. Kalau sebuah kegiatan terus-menerus dipersepsikan sebagai keberpihakan kepada salah satu kekuatan, pada akhirnya persepsi itu bisa memengaruhi hubungan diplomatik Indonesia,” jelasnya.
Protes Taiwan, menurut Amir, juga perlu dibaca dalam konteks tekanan militer Cina terhadap Taipei.
Taiwan selama ini menghadapi peningkatan aktivitas militer Cina. Di sisi lain, Taipei juga memperkuat pertahanan dan menggelar berbagai latihan untuk menghadapi kemungkinan konflik.
Dalam situasi tersebut, munculnya kapal perang Indonesia dalam kegiatan bersama Cina di sisi timur Taiwan memiliki nilai simbolik bagi Taipei.
Namun, Amir mengingatkan Indonesia memiliki posisi diplomatik yang berbeda dengan Taiwan. Jakarta tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taipei dan mengakui kebijakan One Cina.
“Indonesia harus menghindari langkah yang dapat ditafsirkan sebagai perubahan sikap terhadap status Taiwan. Pada saat yang sama, Indonesia juga tidak perlu masuk ke dalam konflik politik antara Beijing dan Taipei,” katanya.
Dari sudut pandang intelijen, Amir menilai salah satu risiko terbesar dalam situasi seperti ini adalah mispersepsi antarnegara. Sebuah latihan yang dimaksudkan sebagai kegiatan rutin dapat ditafsirkan berbeda oleh negara lain karena lokasi, waktu, peserta dan situasi politik ketika latihan berlangsung.
Karena itu, komunikasi strategis menjadi penting.
“Indonesia perlu memastikan semua pihak memahami bahwa keterlibatan TNI dalam latihan tersebut tidak dimaksudkan untuk mendukung klaim teritorial atau agenda politik salah satu pihak,” ujarnya.
Pertahankan Hubungan
Menurut Amir, penjelasan tersebut penting bukan hanya bagi Taiwan, tetapi juga Jepang, Amerika Serikat, Australia dan negara-negara ASEAN.
Amir menempatkan persoalan latihan China-Indonesia tersebut dalam konteks perebutan pengaruh yang semakin tajam di Indo-Pasifik.
Cina membutuhkan ruang strategis yang lebih luas untuk menghadapi tekanan Amerika Serikat dan sekutunya. Di sisi lain, Amerika Serikat dan sekutunya berupaya memastikan China tidak mendominasi jalur laut strategis di kawasan.
Sebagai negara terbesar di ASEAN dan salah satu kekuatan utama kawasan, Indonesia memiliki nilai strategis yang besar. Karena itu, Jakarta bukan sekadar objek yang diperebutkan pengaruhnya, tetapi juga mempunyai kemampuan untuk ikut menentukan keseimbangan kawasan.
“Kalau Indonesia terlalu dekat dengan salah satu kekuatan, ruang diplomasi kita akan menyempit. Sebaliknya, kalau Indonesia mampu mempertahankan hubungan dengan semua kekuatan, Jakarta justru dapat menjadi kekuatan penyeimbang,” kata Amir.
Dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, perkembangan tersebut menjadi tantangan tersendiri. Prabowo memiliki kepentingan memperkuat pertahanan Indonesia sekaligus memperluas hubungan pertahanan dengan berbagai negara.
Namun, Amir menegaskan kerja sama pertahanan tidak boleh berubah menjadi ketergantungan strategis. “Indonesia harus dapat bekerja sama dengan Cina tanpa menjadi satelit Cina, bekerja sama dengan Amerika Serikat tanpa menjadi satelit Amerika dan tetap mempunyai kemampuan menentukan kepentingan nasionalnya sendiri,” tegasnya.
Menurut dia, pilihan paling rasional bagi Indonesia adalah mempertahankan strategic autonomy atau otonomi strategis.
Indonesia membutuhkan Cina untuk kepentingan ekonomi dan investasi, tetapi juga membutuhkan Jepang, Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, Eropa serta berbagai negara lainnya.
Amir menilai latihan Cina-Indonesia di Timur Taiwan pada akhirnya menjadi lebih besar daripada sekadar agenda latihan militer.
Peristiwa tersebut menunjukkan bagaimana setiap aktivitas militer di Indo-Pasifik kini memiliki konsekuensi diplomatik.
Cina melihat latihan sebagai bagian dari peningkatan kerja sama pertahanan dan stabilitas kawasan. Indonesia menyebut aktivitasnya sebagai kegiatan rutin dan bukan operasi tempur. Sementara Taiwan melihatnya melalui perspektif ancaman dan perubahan status quo.
“Tiga perspektif tersebut menunjukkan bahwa satu aktivitas yang sama dapat menghasilkan tiga interpretasi berbeda. Karena itu, Indonesia harus menjaga komunikasi dengan seluruh pihak,” kata Amir.
Ia menambahkan Indonesia harus memastikan tidak ada ruang bagi pihak tertentu untuk memanfaatkan keterlibatan Indonesia sebagai legitimasi politik.
Bagi Jakarta, menurut Amir, kepentingan utama bukan memenangkan persaingan Cina versus Taiwan ataupun Cina versus Amerika Serikat.
“Kepentingan utama Indonesia adalah memastikan Indo-Pasifik tetap stabil, jalur perdagangan tetap terbuka, kedaulatan Indonesia terlindungi, dan politik luar negeri bebas aktif tetap mempunyai makna strategis,” pungkas Amir. *man