Sashikala Premawardhane dan Muhammad Ali. foto:indodefense.com
Jakarta, RIC – Langkah TNI Angkatan Laut (TNI AL) mengajak Angkatan Laut Sri Lanka bergabung dalam Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2027 dinilai memiliki arti strategis yang jauh lebih luas daripada sekadar agenda latihan militer bersama.
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai pendekatan Indonesia terhadap Sri Lanka menunjukkan adanya upaya memperkuat diplomasi maritim sekaligus memperluas jejaring strategis Indonesia di kawasan Samudra Hindia.
Undangan tersebut disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali saat menerima kunjungan Duta Besar Sri Lanka untuk Indonesia dan ASEAN Sashikala Premawardhane di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Dalam pertemuan itu, kedua pihak tidak hanya membicarakan keikutsertaan Sri Lanka dalam MNEK 2027. Indonesia dan Sri Lanka juga menyepakati pembentukan navy-to-navy staff talks, program kunjungan kapal perang secara berkala serta penguatan hubungan antarkedua angkatan laut.
Sebaliknya, Sri Lanka mengundang TNI AL untuk menghadiri konferensi maritim internasional Galle Dialogue 2027 di Kolombo.
Amir Hamzah mengatakan, rangkaian agenda tersebut menunjukkan hubungan Indonesia-Sri Lanka mulai bergerak dari hubungan diplomatik konvensional menuju kerja sama maritim yang lebih terstruktur.
“Kalau dilihat dari perspektif intelijen dan geopolitik, ini bukan sekadar undangan latihan. Ini adalah pembangunan jejaring maritim,” kata Amir Hamzah kepada wartawan, Senin (11/8/2026).
Menurut dia, posisi geografis Sri Lanka menjadikan negara tersebut memiliki nilai strategis yang sangat penting.
Sri Lanka berada di sekitar jalur pelayaran utama Samudra Hindia dan berdekatan dengan salah satu kawasan yang menjadi simpul pergerakan perdagangan serta energi dunia.
Ruang Strategis dan Diplomatik
Karena itu, membangun hubungan yang lebih kuat dengan Sri Lanka memberi Indonesia tambahan ruang diplomatik untuk berinteraksi dengan dinamika keamanan Samudra Hindia.
Amir mengingatkan agar keterlibatan Sri Lanka dalam MNEK tidak langsung dibaca sebagai pembentukan aliansi militer.
MNEK sendiri memiliki karakter multilateral dan pada penyelenggaraan 2025 melibatkan puluhan negara dengan penekanan pada kerja sama maritim, kemanusiaan, penanggulangan bencana serta peningkatan interoperabilitas.
Menurut Amir, justru karakter tersebut yang membuat MNEK menjadi instrumen diplomasi pertahanan yang efektif bagi Indonesia. “Indonesia tidak harus membangun pakta pertahanan untuk meningkatkan pengaruh. Cukup membangun jaringan latihan, pertukaran personel, komunikasi antarkomando dan kunjungan kapal,” ujarnya.
Dengan pola tersebut, Indonesia dapat memperluas hubungan dengan berbagai negara tanpa harus masuk ke dalam blok militer tertentu. Hal ini penting bagi politik luar negeri Indonesia yang selama ini berusaha mempertahankan ruang strategis di tengah kompetisi kekuatan besar.
Menurut Amir, posisi Sri Lanka tidak bisa dilepaskan dari kompetisi geopolitik di Samudra Hindia. India mempunyai kepentingan keamanan yang sangat besar terhadap Sri Lanka. Cina juga memiliki kepentingan ekonomi dan strategis yang signifikan di negara tersebut. Sementara Amerika Serikat dan negara-negara lainnya juga mempunyai kepentingan terhadap stabilitas jalur pelayaran Samudra Hindia.
Dalam konteks tersebut, Indonesia perlu memperhitungkan Sri Lanka sebagai salah satu simpul penting dalam arsitektur keamanan maritim kawasan. “Samudra Hindia tidak lagi bisa dilihat sebagai ruang geografis yang jauh dari kepentingan Indonesia. Perdagangan Indonesia, energi, jalur pelayaran dan konektivitas Indo-Pasifik semuanya bersinggungan dengan dinamika Samudra Hindia,” kata Amir.
Ia menilai kerja sama dengan Sri Lanka dapat menjadi salah satu instrumen Indonesia untuk memperluas apa yang disebutnya sebagai strategic maritime networking. Artinya, Indonesia tidak hanya membangun hubungan dengan negara-negara ASEAN dan kawasan Pasifik, tetapi juga memperkuat koneksi dengan negara-negara di Samudra Hindia.
Amir melihat MNEK mempunyai fungsi strategis karena mempertemukan banyak angkatan laut dalam satu forum. Pada MNEK 2025, misalnya, sekitar 38 negara berpartisipasi. Latihan tersebut mengedepankan kemitraan maritim untuk perdamaian dan stabilitas serta mencakup kegiatan kemanusiaan, respons bencana dan koordinasi antarmiliter.
India juga mengirimkan unsur angkatan lautnya dalam MNEK 2025, yang menunjukkan forum tersebut dapat menjadi ruang interaksi antara berbagai kekuatan maritim di kawasan. Karena itu masuknya Sri Lanka ke dalam MNEK 2027 berpotensi memperluas spektrum negara Samudra Hindia yang berinteraksi langsung dengan TNI AL.
“MNEK memberikan keuntungan ganda. Di satu sisi meningkatkan kemampuan kerja sama operasional. Di sisi lain menciptakan saluran komunikasi strategis antarnegara,” katanya.
Komunikasi Permanen
Dalam perspektif intelijen, saluran komunikasi seperti itu penting karena dapat membantu membangun maritime domain awareness, pertukaran pengalaman dan pemahaman mengenai perkembangan keamanan laut.
Amir justru menilai pembentukan navy-to-navy staff talks sebagai salah satu bagian paling penting dari pertemuan tersebut. Latihan bersama biasanya bersifat periodik. Sementara forum staf angkatan laut dapat menciptakan komunikasi yang lebih berkelanjutan.
Forum tersebut dapat menjadi ruang untuk membahas perkembangan keamanan maritim, operasi kemanusiaan, pencarian dan pertolongan, keamanan jalur pelayaran, pendidikan personel, hingga kemungkinan kerja sama teknologi pertahanan.
“Kalau latihan hanya bertemu ketika exercise, hubungan bisa berhenti setelah latihan selesai. Tetapi kalau ada staff talks, komunikasi kelembagaan menjadi lebih permanen,” ujar Amir.
Menurut dia, komunikasi antarlembaga militer juga memiliki nilai strategis untuk mencegah salah persepsi ketika terjadi krisis di kawasan. Selain latihan dan diplomasi militer, pembicaraan mengenai peluang kerja sama industri pertahanan juga menjadi perhatian.
Indonesia dan Sri Lanka disebut membahas peluang kerja sama dalam bidang naval platforms dan teknologi maritim. Pembahasan tersebut berkaitan dengan rencana penandatanganan Letter of Intent on Defence Cooperation antara Kementerian Pertahanan RI dan Kementerian Pertahanan Sri Lanka.
Bagi Amir, aspek ini penting karena diplomasi pertahanan modern tidak berhenti pada latihan. “Kalau hubungan militer kemudian berkembang menjadi kerja sama industri pertahanan, maka tingkat ketergantungan dan interaksi strategisnya akan jauh lebih dalam,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa Indonesia harus tetap memperhitungkan kepentingan nasional dan aspek transfer teknologi dalam setiap kerja sama industri pertahanan.
Kerja sama ideal, menurutnya, bukan sekadar menjadikan Indonesia sebagai pasar, melainkan membuka peluang produksi, pengembangan teknologi, peningkatan kemampuan industri dalam negeri dan transfer pengetahuan.
Undangan Sri Lanka kepada TNI AL untuk menghadiri Galle Dialogue 2027 juga dinilai Amir memiliki nilai strategis.
Galle Dialogue merupakan forum maritim internasional yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas perkembangan keamanan maritim. Pada penyelenggaraan sebelumnya, forum tersebut menjadi ruang diskusi mengenai dinamika keamanan Samudra Hindia dan kawasan Indo-Pasifik.
Menurut Amir, kehadiran Indonesia dalam forum semacam itu memungkinkan Jakarta tidak hanya menjadi peserta dalam pembahasan keamanan kawasan, tetapi juga ikut membentuk narasi mengenai masa depan keamanan maritim.
“Indonesia membutuhkan forum diplomasi maritim yang lebih luas. Tidak semuanya harus melalui forum ASEAN,” ujarnya.
Dengan mengikuti MNEK sekaligus Galle Dialogue, Indonesia dapat memperoleh dua jalur komunikasi: jalur operasional melalui angkatan laut dan jalur strategis melalui forum diplomasi maritim.
Meski melihat peluang strategis yang besar, Amir mengingatkan agar hubungan dengan Sri Lanka tidak dipersepsikan sebagai bagian dari upaya Indonesia masuk ke blok kekuatan tertentu.
Menurutnya, justru kekuatan Indonesia berada pada kemampuannya menjalin hubungan dengan banyak negara secara bersamaan. “Indonesia harus tetap berada di posisi bebas aktif. Kita bisa latihan dengan Amerika, India, Australia, Sri Lanka, Pakistan maupun negara lainnya tanpa harus menjadi bagian dari blok mereka,” katanya.
Menurut Amir, pendekatan tersebut semakin penting karena Indo-Pasifik saat ini menghadapi kompetisi kekuatan besar yang semakin kompleks. Indonesia harus menghindari situasi ketika kerja sama pertahanan justru membuat Jakarta kehilangan fleksibilitas diplomatik.
Amir melihat Sri Lanka dapat menjadi salah satu pintu masuk diplomasi maritim Indonesia ke Samudra Hindia. Bukan berarti Indonesia menjadikan Sri Lanka sebagai sekutu, melainkan menjadikan hubungan tersebut sebagai salah satu simpul komunikasi dalam membangun jejaring keamanan maritim.
Perkuat Posisi
Menurutnya, Indonesia mempunyai kepentingan langsung terhadap keamanan jalur laut karena perekonomian nasional sangat bergantung pada konektivitas maritim. Karena itu, hubungan dengan negara-negara yang berada di sekitar jalur strategis Samudra Hindia perlu terus diperkuat.
“Indonesia jangan hanya berpikir tentang laut di sekitar wilayah sendiri. Kita harus berpikir tentang ekosistem keamanan maritim yang lebih luas,” tutur Amir.
Ia menilai momentum MNEK 2027 harus dimanfaatkan untuk membangun kerja sama yang konkret, bukan hanya seremoni. Mulai dari latihan pencarian dan penyelamatan, penanggulangan bencana, pertukaran informasi, pendidikan personel, keamanan pelayaran, hingga kerja sama teknologi maritim.
Dalam pembacaan intelijen, Amir menyebut terdapat tiga sinyal penting dari semakin intensifnya hubungan Indonesia dan Sri Lanka.
Pertama, Indonesia sedang memperluas jejaring diplomasi pertahanan ke arah barat, khususnya Samudra Hindia.
Kedua, TNI AL sedang membangun hubungan yang lebih institusional, terlihat dari rencana navy-to-navy staff talks dan kunjungan kapal perang secara berkala.
Ketiga, kerja sama mulai diarahkan ke sektor teknologi dan industri pertahanan, yang berarti hubungan tidak lagi sebatas hubungan seremonial.
“Ini yang harus dibaca. Jangan hanya melihat kapal perang datang dan pergi. Yang lebih penting adalah jaringan hubungan yang dibangun di belakangnya,” kata Amir.
Menurut dia, jika seluruh agenda tersebut berjalan konsisten, hubungan Indonesia-Sri Lanka berpotensi menjadi salah satu elemen baru dalam diplomasi maritim Indonesia.
Pada akhirnya, kata Amir, MNEK 2027 bukan sekadar latihan angkatan laut. “MNEK adalah panggung diplomasi maritim. Dan jika Sri Lanka masuk, Indonesia mendapatkan tambahan koneksi strategis menuju Samudra Hindia,” tandas Amir.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa di tengah perubahan konstelasi geopolitik Indo-Pasifik, kekuatan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh jumlah kapal perang atau kemampuan persenjataan, tetapi juga oleh seberapa luas jaringan kerja sama maritim yang mampu dibangun.
Dengan demikian, ajakan kepada Sri Lanka untuk bergabung dalam MNEK 2027 dapat dilihat sebagai bagian dari proses panjang Indonesia memperkuat posisi sebagai negara maritim yang memiliki kepentingan dan suara dalam arsitektur keamanan Indo-Pasifik. *man