Majelis Ta'lim & Dzikir, juga sekaligus melaksanakan pemberian santunan kepada mereka yang kurang mampu. Mr. Sutaryono Musa KhaliQ, atas nama Jakarta Asia Exchange Culture Founder Indonesia (JACE) memberikan santunan kepada mereka yang berhak menerimanya, disaksikan langsung KH.Jubah Ireng, Pimpinan Padepokan Majelis Ta'lim & Dzikir Sunan Kalijaga, bersama Jama'ah Pengajian. Turut hadir KH Dr Firdaus Turmudzi dari Majelis Ta'lim Hadiqotul Ma'rifah, Pondok Gede. *otto
Jakarta, RIC – Kerukunan Keluarga, “Mawadah Warahmah, Sebuah identitas Muslim”. Menjadi muslim yang taat, patuh terhadap ajaran Rasulullah SAW, adalah kewajiban bagi setiap umat Islam. Silahturahmi antara sesama warga masyarakat, kerabat dekat, tetangga, maupun menjaga keutuhan keluarga besar di dalam rumah tangga.
Mengemban ajaran Rasulullah SAW patut disosialisasikan di tengah masyarakat. Hal itu dikatakan KH Jubah Ireng di Pengajian Majelis Ta’lim Sunan Kalijaga, Kodau V Ambarapura, Kampung Rawabogo, Jati Mekar, Kota Bekasi, Senin (10/8/2026) malam.
Menurut KH Jubah Ireng, menjaga tali persaudaraan, saling tolong- menolong, berbuat baik merupakan ajaran Islam yang harus dijalankan oleh setiap umat Islam. “Terlebih lagi, menjaga keutuhan persaudaraan di dalam keluarga,” tutur KH.Jubah Ireng.
Kehidupan duniawi, terkadang membuat orang sering “tutup mata”, jika melihat saudaranya yang kurang mampu ekonominya. Sebaliknya, mereka merasa iri, dengki kepada keluarga sendiri yang justru karena ekonominya mapan. Ada juga faktor lemahnya iman seseorang sehingga membuat manusia sering merasa dengki, bahkan bisa membunuh saudaranya sendiri.
“Bukankah Sifat dengki, iri hati, dan kecemburuan sosial ini, sudah terjadi di masa hidupnya Nabi Yusuf AS. Al-Kisah, “tutur KH.Jubah Ireng.
Pada zaman Nabi Yusuf AS, saudara – saudaranya ingin membunuh Nabi Yusuf AS. Lantaran hanya karena mereka cemburu, rasa iri dan dengki berlebihan sehingga mereka ingin membunuh Yusuf. Kecemburuan saudara – saudara Nabi Yusuf AS dilatari oleh karena Sang Ayah lebih menaruh perhatian kepada Yusuf ketimbang yang lain. Dengan begitu rencana membuang Yusuf telah berhasil mereka lakukan. Namun dengan kekuasaan Allah SWT, Nabi Yusuf AS diselamatkan.
Kisah ini memberikan pelajaran betapa harmonisnya jika silahturahmi sesama umat Islam, terlebih lagi sesama saudara satu keluarga bisa terjalin dengan baik.
Lebih lanjut KH Jubah Ireng mengatakan, kisah Nabi Yusuf AS, kini terulang kembali. Dimana-mana, terjadi permusuhan sesama keluarga, adik dan kakak berseteru, hanya karena rasa iri dan cemburu. Artinya, bahwa realitas sejarah, kehidupan di Era Nabi Yusuf AS, kini terulang kembali. Permusuhan, seperti menjadi tontonan dalam kehidupan sehari – hari.
Oleh sebab itu, tutur KH.Jubah Ireng, menjadi manusia yang taat, tawadu dan penyabar adalah ciri manusia yang beriman kepada Allah SWT.
KH Jubah Ireng menambahkan, bukankah kehidupan yang rukun, keluarga yang tentram, damai, mawadah – warahmah yang kita harapkan sebagai identitas Muslim. Dengan begitu, menjaga silahturahmi, memperkokoh persatuan, di lingkungan masyarakat menjadi dambaan semua pihak.
Disela – sela Pengajian, Majelis Ta’lim & Dzikir, juga sekaligus melaksanakan pemberian santunan kepada mereka yang kurang mampu. Mr. Sutaryono Musa KhaliQ, atas nama Jakarta Asia Exchange Culture Founder Indonesia (JACE) memberikan santunan kepada mereka yang berhak menerimanya, disaksikan langsung KH.Jubah Ireng, Pimpinan Padepokan Majelis Ta’lim & Dzikir Sunan Kalijaga, bersama Jama’ah Pengajian. Turut hadir KH Dr Firdaus Turmudzi dari Majelis Ta’lim Hadiqotul Ma’rifah, Pondok Gede. (Otto)