Pengajian Majelis Taklim Hadiqotul Ma'rifah, Jum'at (31/7/2026).*otto
Jakarta, RIC – Keberadaan Alam Semesta dan isinya tidaklah muncul begitu saja tentu ada Penciptanya. Manusia, Malaikat, Jin, Iblis serta mahluk hidup lainnya, di alam semesta ini diciptakan untuk mengabdi, beribadah semata hanya kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pemilik Alam Semesta.
Suatu kesadaran yang mesti nya dipetik hikmahnya oleh manusia karena manusia punya hati, sedangkan Malaikat, Jin dan Iblis tidak punya hati. Disinilah letak perbedaan antara manusia dengan mahluk hidup lainnya. Patut kita bersyukur bahwa Tuhan telah menempatkan manusia adalah mahluk yang paling tinggi derajat kedudukannya dimuka bumi.
Hal itu dikatakan Dr Firdaus Turmudzi MHum, di Pengajian Rutin Yasin Fadilah, di Majelis Taklim, Hadiqotul Ma’rifah. Menurut Firdaus, sejak Nabi Adam As diciptakan, semua mahluk, Malaikat, Jin dan Iblis patut dan bersujud menyembah kepada Nabi Adam As.
Makna bersujud kepada Adam AS bukanlah arti menyembah. Dengan begitu, semua mahluk hidup, Jin, Malaikat bersujud kepada Adam AS, terkecuali iblis laknatullah yang tidak mau bersujud kepada Nabi Adam As.
Dengan seketika itu, Allah SWT – Tuhan Yang Maha Pemilik Alam Semesta, berseru dan mengusir Iblis dari Surga. Lebih lanjut, Firdaus Turmudzi mengatakan, begitu dekat dan tingginya martabat manusia dihadapan Allah SWT sehingga Iblis merasa iri, dengki bahkan mengancam menggoda keturunan Adam AS.
Kesombongan yang ditonjolkan Iblis pada hakekatnya adalah: dia (iblis) merasa lebih “hebat” dari manusia, bahkan dari ciptaan mahluk lainnya di jagat raya ini. Kesombongan iblis laknatullah adalah bagian yang tidak terpisah dari ciptaan neraka dan surga. Oleh karena itu sampai kapan pun, ungkap Firdaus Turmudzi, Iblis selalu menggoda manusia.
Permintaan iblis kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, dapat dikabulkan Tuhan. Tapi ingat, Janji Allah, bahwa wahai kamu (iblis) tidak bisa akan menggoda hamba-Ku yang beriman, karena mereka selalu mengingat kepada di setiap sujud -mereka menyembah kepada-Ku.
Kajian singkat di Majelis Taklim Hadiqotul Ma’rifah, mengajak umat Islam agar tidak lupa terhadap jati diri mereka. Pandangan bahwa sifat kesombongan bukanlah milik manusia, adalah benar adanya. Oleh sebab itulah, seruan agar manusia kembali ke jalan yang diridhoi Allah, bukanlah tuntunan iblis. Sebaliknya ketamakan iblis di era modern ini, justru dipraktekkan oleh manusia.
Transformasi sifat kesombongan iblis di era Adam, kini menular diberbagai lapisan masyarakat. Terutama bagi mereka yang gandrung kekuasaan. Dengan begitu, perilaku kesombongan manusia modern saat ini, tidak jauh berbeda dengan iblis di era Adam AS.
Pakaian Kebesaran yang dipakai Tuhan, bukan untuk dijustifikasi menjadi milik iblis, apalagi manusia, ungkap Firdaus Turmudzi. Eksistensi Manusia, hanya semata mengemban amanah sebagai Khalifah di muka bumi. Kenyataan, kini manusia lebih tamak dan serakah. Sejarah kesombongan, terulang kembali, bahwa diera Adam perintah sujud itu ditolak oleh iblis. Kini sifat kesombongan manusia ada dimana-mana, diberbagai bidang kehidupan.
Hedonisme, adalah realitas kehidupan sosial, dapat kita lihat sehari-hari hari. Dimana gaya hidup ber-aroma liberalisme kini tumbuh di mana- mana. Terutama di kota – kota besar di Indonesia. Bahkan hedonisme kini merambah hingga pelosok pedesaan.
Artinya, Sifat kesombongan iblis, kini menjadi representatif disemua kehidupan strata sosial di masyarakat. Transformasi karakter iblis, kini dapat dijumpai dimana- mana. Diberbagai aktivitas masyarakat, sifat iblis, selalu menyelip pada sikap masyarakat yang angkuh, apatisme (masa bodoh), tidak peduli sesama orang lain.
Dalam perspektif (pandangan) ini, Firdaus Turmudzi mengingatkan kembali, bahwa mempertebal iman dan taqwa kepada Allah SWT, adalah investasi bagi manusia kelak kembali kepada asalnya (alam kubur). “Bukan sebaliknya, justru manusia mengikuti jejak sang pendahulu iblis,” tandas Firdaus Turmudzi. (otto)