Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah. *dok/ric
Jakarta, RIC — Presiden Prabowo Subianto membentuk Indonesia International Financial Center (IIFC). Langkah Presiden Prabowo dinilai sebagai langkah strategis yang dapat mengubah peta ekonomi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik. Jika dirancang dengan tata kelola yang kredibel, kepastian hukum yang kuat dan mampu menarik modal global, IIFC berpotensi menjadikan Indonesia sebagai pusat jasa keuangan internasional yang mampu bersaing dengan Singapura maupun Dubai.
Terkait hal tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai pembentukan IIFC bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan bagian dari strategi geopolitik nasional untuk meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam persaingan ekonomi global.
Menurut Amir, dalam perspektif intelijen strategis, negara-negara besar saat ini tidak lagi hanya bersaing melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui penguasaan arus modal, teknologi, logistik dan sistem keuangan internasional.
“IIFC harus dipahami sebagai instrumen geopolitik ekonomi. Negara yang mampu menjadi pusat keuangan akan memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dalam menentukan arah investasi regional maupun global,” buka Amir Hamzah kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan, selama beberapa dekade, Singapura berhasil membangun reputasi sebagai pusat keuangan Asia Tenggara meskipun memiliki wilayah dan sumber daya alam yang sangat terbatas. Sementara itu, Dubai berkembang menjadi pusat investasi Timur Tengah berkat kombinasi regulasi yang kompetitif, insentif investasi dan infrastruktur kelas dunia.
Menurut Amir, Indonesia justru memiliki modal yang jauh lebih besar dibandingkan kedua negara itu.
“Indonesia memiliki populasi lebih dari 280 juta jiwa, kekayaan sumber daya alam, pasar domestik yang besar, posisi geografis strategis di jalur perdagangan internasional, serta stabilitas politik yang relatif baik. Modal ini jauh lebih besar dibandingkan Singapura maupun Dubai,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa keunggulan tersebut belum otomatis menjadikan Indonesia sebagai magnet investasi internasional.
Dalam analisis intelijen ekonomi, kata Amir, investor global tidak hanya mempertimbangkan potensi keuntungan, tetapi juga menghitung risiko hukum, kepastian regulasi, konsistensi kebijakan, transparansi birokrasi serta stabilitas keamanan.
“Modal internasional selalu bergerak menuju wilayah yang memberikan kepastian. Karena itu, keberhasilan IIFC sangat bergantung pada kualitas tata kelola yang dibangun sejak awal,” jelasnya.
Amir menilai keputusan Presiden Prabowo mempercepat pembentukan IIFC menunjukkan adanya kesadaran bahwa Indonesia harus memiliki instrumen baru untuk menarik arus investasi global di tengah kompetisi yang semakin ketat.
Menurutnya, perubahan lanskap ekonomi dunia pascapandemi, konflik geopolitik, hingga perang dagang telah mendorong investor mencari pusat keuangan alternatif yang lebih stabil.
“Dalam perspektif geopolitik, dunia sedang mengalami redistribusi investasi. Banyak perusahaan internasional mulai melakukan diversifikasi lokasi investasi agar tidak bergantung pada satu kawasan. Ini peluang besar bagi Indonesia,” terang Amir.
Ia menilai Bali memiliki nilai strategis sebagai lokasi utama IIFC karena telah dikenal sebagai destinasi internasional dengan konektivitas global yang kuat.
Ekosistem Kompetitif
Namun ia memahami keputusan pemerintah memulai operasional dari Jakarta sebagai langkah transisi yang realistis.
“Jakarta sudah memiliki ekosistem perbankan, pasar modal, regulator dan jaringan lembaga keuangan. Sementara Bali dapat dipersiapkan menjadi kawasan keuangan internasional dengan karakter global dalam beberapa tahun ke depan,” sebut Amir.
Keberhasilan IIFC nantinya akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah menciptakan ekosistem yang kompetitif dibandingkan pusat-pusat keuangan dunia lainnya.
Menurutnya, investor global akan membandingkan Indonesia dengan Singapura, Dubai, Hong Kong hingga Abu Dhabi dalam aspek regulasi, perpajakan, kemudahan berusaha, penyelesaian sengketa, perlindungan aset serta kualitas sumber daya manusia.
“Persaingan hari ini bukan lagi antar-perusahaan, melainkan antar-negera dalam menciptakan iklim investasi terbaik,” kata Amir.
Perkuat Posisi Indonesia
Ia juga melihat peran Badan Pengelola Investasi Danantara sebagai pengembang kawasan dapat menjadi nilai tambah apabila mampu menghadirkan tata kelola profesional yang dipercaya pasar internasional.
“Kepercayaan merupakan mata uang utama dalam industri jasa keuangan. Tanpa kepercayaan, investor tidak akan datang meskipun fasilitas yang disediakan sangat lengkap,” ujar dia.
Dalam perspektif intelijen geopolitik, Amir menilai keberadaan IIFC juga dapat memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi ekonomi kawasan Indo-Pasifik.
Menurutnya, semakin besar arus investasi yang masuk melalui Indonesia, semakin besar pula pengaruh Indonesia dalam berbagai forum ekonomi internasional.
“IIFC bukan hanya soal membangun gedung atau kawasan bisnis. Yang dibangun adalah reputasi Indonesia sebagai pusat keuangan global,” katanya
Ia menambahkan bahwa keberhasilan proyek tersebut dapat mendorong masuknya investasi ke berbagai sektor strategis seperti hilirisasi industri, energi baru dan terbarukan, ekonomi digital, kecerdasan buatan, manufaktur berteknologi tinggi, hingga pembangunan infrastruktur nasional.
“Efek bergandanya akan sangat besar apabila investasi yang masuk mampu menciptakan lapangan kerja, transfer teknologi, dan meningkatkan daya saing industri nasional,” kata Amir lagi.
Meski demikian, Amir mengingatkan bahwa tantangan terbesar tetap berada pada tahap implementasi.
Menurutnya, banyak negara memiliki visi besar, tetapi gagal dalam pelaksanaan karena lemahnya koordinasi antarlembaga, perubahan kebijakan, dan kurangnya kepastian hukum.
“Kalau pemerintah mampu menjaga konsistensi kebijakan, memberikan kepastian kepada investor, serta membangun tata kelola yang berstandar internasional, saya optimistis IIFC dapat menjadi game changer bagi ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Ia menilai langkah Presiden Prabowo mempercepat pembentukan Indonesia International Financial Center merupakan momentum penting dalam transformasi ekonomi nasional.
“Indonesia memiliki semua prasyarat untuk menjadi pemain utama ekonomi dunia. Tinggal bagaimana momentum ini dijaga dengan tata kelola yang profesional, transparan, dan dipercaya komunitas bisnis internasional. Jika itu berhasil, Indonesia bukan hanya menjadi tujuan investasi, tetapi dapat berkembang menjadi pusat keuangan internasional yang diperhitungkan, sejajar dengan Singapura maupun Dubai,” pungkas Amir Hamzah. *man