Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo bersama Danpasmar 1 Mayjen TNI (Mar) Ili Dasili, S.E., turut meninjau secara langsung pelaksanaan uji coba yang digelar di Lapangan Tembak Jusman Puger, Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, Rabu (29/07/2026). *foto:pasmar1.tni.mil.id
Jakarta, RIC – Langkah Korps Marinir TNI Angkatan Laut bersama Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) I mengembangkan drone serbu otomatis dinilai menjadi tonggak penting transformasi pertahanan Indonesia menuju era peperangan modern yang semakin didominasi teknologi tanpa awak (unmanned system).
Drone serbu otomatis tersebut telah menjalani pengujian awal di Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta, yang dipantau langsung Komandan Pasmar 1 Mayjen (Mar) Ili Dasili bersama Panglima Kogabwilhan I Letjen Kunto Arief Wibowo.
Dalam keterangan resmi Pasmar 1, pengembangan drone tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan operasi satuan di medan yang sulit dijangkau personel, mempercepat respons terhadap sasaran, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi modern dalam mendukung pelaksanaan tugas prajurit di lapangan.
Tahap berikutnya, drone akan diuji dalam Latihan TNI Terintegrasi 2026 di Dabo Singkep, Kepulauan Riau. Pengujian itu akan menilai keandalan sistem, mobilitas, kemampuan operasi lintas medan serta efektivitas integrasinya dengan unsur darat, laut dan udara.
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai pengembangan drone serbu otomatis merupakan jawaban Indonesia terhadap perubahan karakter peperangan global yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan dominasi teknologi nirawak.
Menurut Amir, konflik-konflik modern memperlihatkan bahwa drone kini bukan lagi sekadar alat pengintai, tetapi telah berkembang menjadi platform utama untuk pengintaian, serangan presisi, dukungan operasi hingga peperangan elektronik.
“Perang modern telah berubah. Negara yang mampu menguasai teknologi drone akan memiliki keunggulan operasional sekaligus efisiensi biaya dibanding hanya mengandalkan sistem persenjataan konvensional,” ungkap Amir Hamzah kepada wartawan, Kamis (30/7/2026).
Ia menilai inisiatif Marinir dan Kogabwilhan I memperlihatkan bahwa TNI mulai beradaptasi terhadap dinamika ancaman yang berkembang sangat cepat.
Dalam perspektif intelijen, Amir menjelaskan ancaman terhadap Indonesia kini semakin kompleks.
Selain ancaman militer konvensional, muncul pula ancaman berbentuk konflik hibrida yang memadukan operasi militer, serangan siber, disinformasi, hingga penggunaan drone murah yang mampu menghasilkan dampak besar.
Drone dan Geografis Indonesia
Menurutnya, pengalaman berbagai konflik internasional menunjukkan kendaraan tempur bernilai miliaran rupiah dapat dilumpuhkan oleh drone berbiaya jauh lebih rendah apabila tidak memiliki sistem pertahanan yang memadai.
Karena itu, penguasaan teknologi drone dinilai bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis bagi setiap negara yang ingin menjaga kesiapan pertahanannya.
Amir melihat posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan menjadikan drone memiliki nilai strategis yang sangat tinggi.
Dengan ribuan pulau dan wilayah laut yang luas, pengawasan tidak selalu dapat dilakukan secara optimal menggunakan kapal atau pesawat berawak.
Drone, menurutnya, mampu memperluas jangkauan pengawasan, mempercepat deteksi dini, sekaligus meningkatkan kemampuan respons terhadap berbagai potensi ancaman di kawasan perbatasan maupun pulau-pulau terluar.
Keunggulan tersebut diyakini dapat memperkuat efektivitas operasi gabungan TNI.
Selain aspek militer, Amir menilai pengembangan drone dalam negeri memiliki dampak ekonomi yang signifikan.
Momentum Penting
Produksi nasional akan mengurangi ketergantungan terhadap impor teknologi pertahanan yang selama ini memerlukan biaya besar serta bergantung pada dinamika politik internasional.
Menurutnya, kemandirian industri pertahanan akan memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga keberlanjutan modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista).
Bagi Amir, latihan terintegrasi di Dabo Singkep akan menjadi momentum penting untuk menguji kemampuan sebenarnya dari drone serbu otomatis tersebut.
Ia mengatakan keberhasilan teknologi militer tidak hanya ditentukan di laboratorium, tetapi juga oleh kemampuannya menghadapi kondisi operasional yang sesungguhnya.
Pengujian lintas matra akan memperlihatkan sejauh mana drone mampu beroperasi secara terpadu bersama unsur darat, laut dan udara.
Dari perspektif geopolitik, Amir menilai perkembangan teknologi pertahanan Indonesia juga memiliki arti strategis di kawasan Indo-Pasifik.
Wilayah tersebut merupakan salah satu kawasan dengan dinamika keamanan paling tinggi di dunia, ditandai dengan meningkatnya modernisasi militer berbagai negara serta persaingan pengaruh kekuatan besar.
Menurut Amir, pembangunan kemampuan drone nasional menunjukkan bahwa Indonesia berupaya memperkuat kapasitas pertahanannya secara mandiri tanpa harus bergantung sepenuhnya pada teknologi asing.
Ia menilai langkah tersebut juga selaras dengan kebutuhan menjaga stabilitas kawasan serta melindungi kepentingan nasional di wilayah laut Indonesia.
Meski demikian, Amir menekankan bahwa pengembangan drone harus tetap berada dalam kerangka kebijakan pertahanan negara dan hukum yang berlaku. Kemampuan teknologi tersebut, menurutnya, ditujukan untuk memperkuat daya tangkal (deterrence), meningkatkan efektivitas operasi militer, dan menjaga kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan pengujian lanjutan di Dabo Singkep, drone serbu otomatis hasil kolaborasi Pasmar 1 dan Kogabwilhan I diharapkan menjadi salah satu langkah awal penguatan sistem pertahanan berbasis teknologi dalam negeri, sekaligus mencerminkan upaya adaptasi TNI terhadap perubahan karakter peperangan modern yang semakin mengandalkan sistem tanpa awak dan integrasi teknologi digital. *man