Uji produksi pemotongan baja kapal selam Scorpene Evolved di Surabaya, Jawa Timur. *Foto: idc
Jakarta, RIC – PT PAL membangun dua kapal selam Scorpene melalu tahapan first steel cutting pada Juli 2026 ini. Pembangunan kapal selam generasi terbaru tersebut menyimpan pesan strategis yang kuat mengenai arah kebijakan pertahanan Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yakni membangun kekuatan militer yang modern, mandiri, sekaligus disegani di kawasan Indo-Pasifik.
Terkait hal tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah, menilai percepatan pembangunan Scorpene menjadi indikator Indonesia sedang memasuki babak baru modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista). Menurutnya, proyek tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperkuat kemampuan pertahanan maritim melalui penguasaan teknologi, bukan hanya pembelian platform tempur.
“Yang paling penting bukan hanya Indonesia memiliki dua kapal selam baru, tetapi Indonesia mulai menguasai kemampuan membangun kapal selam modern melalui proses transfer teknologi. Ini merupakan lompatan strategis yang akan menentukan posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik kawasan,” buka Amir Hamzah kepada wartawan, Senin (6/7/2026).
Menurutnya, selama puluhan tahun banyak negara berkembang membeli sistem persenjataan tanpa memperoleh kemampuan teknologi yang memadai. Akibatnya mereka tetap bergantung kepada negara produsen untuk pemeliharaan, modernisasi hingga pengadaan suku cadang.
Model kerja sama PT PAL dengan Naval Group Prancis dinilai berbeda karena menempatkan transfer teknologi sebagai inti kerja sama.
Puluhan insinyur Indonesia menjalani pelatihan langsung di Prancis, sementara tenaga ahli Naval Group akan bekerja di Surabaya selama proses produksi berlangsung. Hal tersebut menciptakan regenerasi keahlian yang dapat dimanfaatkan Indonesia dalam pembangunan kapal selam berikutnya.
Amir mengatakan, dari perspektif intelijen strategis, penguasaan teknologi memiliki nilai yang jauh lebih penting dibanding sekadar kepemilikan alutsista.
“Negara yang menguasai teknologi akan memiliki ruang manuver yang jauh lebih luas. Indonesia sedang membangun fondasi industri pertahanan jangka panjang,” ucap Amir.
Pembaruan Kekuatan Militer
Percepatan proyek Scorpene tidak dapat dipisahkan dari perhatian besar Presiden Prabowo terhadap modernisasi pertahanan nasional.
Sejak menjabat sebagai Menteri Pertahanan hingga kini sebagai Presiden, Prabowo secara konsisten mendorong pembaruan kekuatan militer Indonesia melalui pengadaan alutsista modern yang diimbangi peningkatan kapasitas industri pertahanan nasional.
Arah kebijakan tersebut menunjukkan pemerintah tidak hanya mengejar kuantitas persenjataan, tetapi juga kualitas teknologi dan kemampuan produksi dalam negeri.
“Prabowo memiliki perhatian yang sangat besar terhadap modernisasi alutsista. Namun modernisasi yang dibangun bukan hanya membeli persenjataan, melainkan menciptakan kemampuan nasional agar Indonesia mampu memproduksi, merawat, dan mengembangkan sendiri sistem pertahanannya,” terang Amir.
Pembangunan Scorpene menjadi salah satu simbol keberhasilan strategi tersebut karena seluruh proses produksi dilakukan di PT PAL setelah melewati berbagai tahapan sertifikasi internasional.
Keberhasilan tenaga kerja Indonesia memperoleh predikat zero weld defect menunjukkan kualitas sumber daya manusia nasional telah memenuhi standar industri kapal selam dunia.
Dalam perspektif geopolitik, Amir menilai hadirnya kapal selam Scorpene akan meningkatkan posisi tawar Indonesia di kawasan Asia Tenggara.
Selama ini dinamika keamanan kawasan mengalami perubahan akibat meningkatnya persaingan kekuatan besar di Indo-Pasifik, termasuk meningkatnya aktivitas militer di berbagai jalur laut strategis.
Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, membutuhkan kemampuan bawah laut yang kuat untuk menjaga wilayah kedaulatan nasional.
Menurut Amir, kapal selam merupakan salah satu instrumen paling efektif dalam membangun strategic deterrence atau efek penangkalan.
“Kapal selam memiliki daya gentar yang sangat tinggi karena lawan tidak pernah mengetahui secara pasti posisi maupun kekuatan yang sedang beroperasi di bawah laut,” kata Amir lagi.
Amir menjelaskan teknologi baterai litium yang digunakan Scorpene memungkinkan kapal lebih lama di bawah permukaan laut dibanding generasi sebelumnya.
Kemampuan silent mode juga membuat kapal semakin sulit dideteksi sehingga meningkatkan efektivitas operasi intelijen, patroli maupun pertahanan.
“Semakin sulit dideteksi, semakin besar nilai strategis kapal tersebut,” ujar Amir singkat.
Amir juga memberikan perhatian khusus terhadap pembangunan fasilitas docking, repair dan overhaul kapal selam di Surabaya.
Langkah tersebut memiliki dampak ekonomi sekaligus pertahanan.
Selama ini banyak negara harus mengirim kapal selam ke luar negeri untuk menjalani perawatan berkala yang membutuhkan biaya besar dan waktu panjang.
Apabila Indonesia mampu melakukan seluruh proses pemeliharaan secara mandiri, maka ketergantungan terhadap negara lain akan berkurang secara signifikan.
Efek Berganda
Lebih jauh lagi, Indonesia berpotensi berkembang menjadi pusat layanan pemeliharaan kapal selam di kawasan Asia Tenggara.
“Apabila fasilitas tersebut beroperasi penuh, Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga penyedia layanan strategis bagi negara-negara lain,” kata Amir.
Menurut Amir, efek berganda dari pembangunan industri pertahanan akan dirasakan pada sektor manufaktur, pendidikan teknik, pengembangan riset, hingga penciptaan lapangan kerja dengan keahlian tinggi.
Percepatan pembangunan Scorpene juga mengirimkan sinyal penting kepada komunitas internasional.
Indonesia menunjukkan pembangunan kekuatan pertahanan dilakukan secara bertanggung jawab dengan mengedepankan kemampuan defensif, perlindungan wilayah laut dan peningkatan kapasitas industri nasional.
“Indonesia tidak sedang membangun kekuatan untuk melakukan ekspansi. Yang dibangun adalah kemampuan menjaga kedaulatan sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas,” tegasnya.
Ia menambahkan kemampuan membangun kapal selam modern akan meningkatkan kredibilitas Indonesia di mata negara-negara ASEAN maupun mitra strategis di luar kawasan.
Menurut Amir, dalam beberapa tahun ke depan posisi Indonesia berpotensi semakin diperhitungkan sebagai salah satu kekuatan maritim utama di Indo-Pasifik apabila proyek Scorpene berjalan sesuai target dan diikuti pengembangan teknologi pertahanan lainnya.
“Keberhasilan proyek ini bukan hanya menghasilkan dua kapal selam baru. Yang lebih penting adalah lahirnya kemampuan nasional dalam membangun teknologi strategis. Itu merupakan investasi pertahanan yang nilainya jauh melampaui satu generasi alutsista,” tegasnya.
Amir menegaskan dengan konsistensi modernisasi alutsista yang menjadi perhatian Presiden Prabowo, didukung alih teknologi dari Prancis, peningkatan kualitas SDM PT PAL, serta penguatan industri pertahanan nasional, Indonesia sedang membangun fondasi menuju kekuatan maritim yang lebih mandiri, memiliki daya tangkal tinggi dan semakin diperhitungkan baik di tingkat ASEAN maupun dalam konstelasi geopolitik global. *man