Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) IV TNI AL berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 390 ton mineral yang mengandung Logam Tanah Jarang (LTJ, rare earth) dan unsur radioaktif ilegal bernilai trilyunan rupiah itu di Perairan Kepulauan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Minggu (28/5/2026).
Jakarta, RIC — Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) IV TNI AL berhasil menggagalkan upaya penyelundupan 390 ton mineral yang mengandung Logam Tanah Jarang (LTJ, rare earth) dan unsur radioaktif ilegal bernilai trilyunan rupiah itu di Perairan Kepulauan Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, Minggu (28/5/2026).
Upaya penyelundupan 25 kontainer berisi 390 ton mineral mentah itu menggunakan Kapal Tugboat TB Capricorn yang berlayar dari Bangka Belitung menuju Singapura. Modus Operandi Kapal sengaja mematikan sistem pelacakan/navigasi (Automatic Identification System/AIS) saat melintas untuk menghindari deteksi aparat.
Keberhasilan jajaran TNI Angkatan Laut dinilai bukan sekadar kasus kejahatan ekonomi biasa.
Di balik temuan 25 kontainer mineral strategis bernilai triliunan rupiah itu, tersimpan dimensi intelijen, geopolitik, keamanan nasional, hingga persaingan global memperebutkan sumber daya masa depan.
LTJ Mineral Strategis
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai pengungkapan kasus tersebut harus dibaca dalam perspektif yang jauh lebih luas daripada sekadar pelanggaran kepabeanan atau tata niaga ekspor mineral.
“Kasus ini menunjukkan bahwa Indonesia sedang menghadapi ancaman serius berupa perburuan sumber daya strategis oleh jaringan yang kemungkinan memiliki kemampuan logistik, pendanaan dan koneksi internasional yang kuat. Ini bukan lagi sekadar penyelundupan biasa,” kata Amir Hamzah kepada wartawan, Rabu (3/6/2026).
Menurut Amir, keberhasilan TNI AL menggagalkan pengiriman mineral yang mengandung unsur Logam Tanah Jarang, Thorium, Uranium, Zirconium dan berbagai mineral strategis lainnya merupakan capaian yang sangat penting bagi keamanan nasional Indonesia.
Amir menjelaskan Logam Tanah Jarang saat ini menjadi salah satu komoditas paling strategis di dunia.
Negara-negara besar berlomba menguasai pasokan LTJ karena mineral tersebut menjadi bahan utama dalam industri teknologi tinggi, kendaraan listrik, industri pertahanan, satelit, radar, semikonduktor, hingga teknologi energi masa depan.
“Kalau minyak adalah komoditas strategis abad ke-20, maka Logam Tanah Jarang adalah minyaknya abad ke-21. Siapa yang menguasai LTJ akan memiliki posisi tawar sangat besar dalam ekonomi global dan industri pertahanan modern,” ujar Amir.
Keberadaan unsur Thorium dan Triuranium Oktasida yang ditemukan dalam hasil laboratorium membuat kasus ini memiliki sensitivitas yang jauh lebih tinggi dibanding penyelundupan mineral biasa.
Pasalnya, unsur-unsur tersebut berkaitan dengan teknologi energi nuklir yang di banyak negara dikategorikan sebagai sumber daya strategis yang pengawasannya sangat ketat.
Secara geopolitik, Amir melihat lokasi penangkapan di wilayah Kepulauan Riau memiliki arti yang sangat penting.
Kepri berada di jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Indonesia dengan Singapura, Malaysia, Laut Cina Selatan hingga kawasan Asia Timur.
Wilayah tersebut sejak lama menjadi salah satu titik paling sibuk dalam lalu lintas maritim dunia.
“Kita harus memahami bahwa Kepri merupakan choke point strategis. Hampir semua jalur perdagangan internasional melewati kawasan ini. Karena itu wilayah tersebut juga rawan dimanfaatkan oleh jaringan penyelundupan internasional,” jelasnya.
Melibatkan Banyak Pihak
Menurut Amir, besarnya volume muatan yang mencapai 390 ton menunjukkan bahwa operasi tersebut kemungkinan telah dirancang secara sistematis.
Hampir mustahil pengangkutan mineral strategis dalam jumlah sebesar itu dilakukan secara spontan atau oleh kelompok kecil tanpa jaringan yang terorganisir.
“Untuk mengangkut ratusan ton mineral strategis diperlukan rantai pasok, pendanaan, dokumen, sarana transportasi, hingga tujuan akhir yang jelas. Karena itu aparat perlu mendalami siapa aktor intelektual di belakang operasi ini,” katanya.
Dalam perspektif intelijen, Amir menilai penyelundupan sumber daya strategis sering kali berkaitan dengan operasi ekonomi bawah tanah yang melibatkan banyak pihak.
Negara-negara di dunia saat ini sedang menghadapi kompetisi yang sangat ketat dalam memperoleh bahan baku industri teknologi tinggi.
Karena itu, keberadaan jaringan ilegal yang berusaha mengeluarkan mineral strategis dari suatu negara tidak bisa dipandang hanya sebagai tindak kriminal biasa.
“Ketika yang diselundupkan adalah komoditas strategis yang dibutuhkan industri global, maka selalu ada kemungkinan keterlibatan jaringan lintas negara. Inilah yang perlu didalami melalui pendekatan intelijen ekonomi dan intelijen strategis,” saran Amir..
Menurut Amir, investigasi harus bergerak dari sekadar mencari pelaku lapangan menuju pengungkapan rantai komando, sumber pendanaan, pembeli akhir, serta negara tujuan ekspor.
Selain kerugian finansial yang ditaksir mencapai triliunan rupiah, Amir menilai dampak jangka panjang yang lebih berbahaya adalah hilangnya kendali negara atas sumber daya strategis.
Indonesia saat ini sedang berupaya membangun hilirisasi industri mineral untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Jika mineral strategis terus keluar melalui jalur ilegal, maka cita-cita membangun industri berbasis sumber daya nasional dapat terganggu.
“Presiden sudah berkali-kali menegaskan pentingnya hilirisasi. Karena itu setiap upaya penyelundupan sumber daya strategis sesungguhnya adalah ancaman terhadap agenda pembangunan nasional,” tegasnya.
Amir menambahkan, Logam Tanah Jarang berpotensi menjadi salah satu sumber kekuatan ekonomi Indonesia di masa depan sebagaimana nikel saat ini.
Amir memberikan apresiasi tinggi kepada Kodaeral IV, Koarmada I, dan seluruh unsur TNI AL yang terlibat dalam operasi tersebut.
Keberhasilan pengungkapan kasus ini menunjukkan kemampuan pengawasan maritim Indonesia semakin meningkat.
Apresiasi dan Kemenangan Penting
“Kita patut memberikan penghargaan kepada prajurit TNI AL yang berhasil mendeteksi dan menggagalkan upaya penyelundupan dalam jumlah besar ini. Tidak mudah mengawasi wilayah laut Indonesia yang sangat luas,” katanya.
Ia berharap pengungkapan kasus ini menjadi momentum untuk memperkuat sistem pengamanan sumber daya strategis nasional.
Selain itu, koordinasi antara TNI, Kejaksaan, Bea Cukai, Kementerian ESDM, aparat intelijen dan lembaga terkait harus terus diperkuat agar jaringan penyelundupan dapat dibongkar hingga ke akar-akarnya.
Bagi Amir, kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap Indonesia tidak selalu berbentuk agresi militer.
Di era modern, perebutan sumber daya alam strategis menjadi salah satu bentuk persaingan global yang paling nyata.
“Ancaman hari ini bukan hanya perang konvensional. Perebutan sumber daya strategis, perang ekonomi, perang teknologi, dan operasi jaringan lintas negara merupakan bentuk ancaman baru yang harus diantisipasi secara serius,” ujarnya.
Ia menegaskan penggagalan penyelundupan 390 ton mineral strategis di Kepulauan Riau merupakan kemenangan penting bagi Indonesia dalam menjaga kedaulatan ekonomi dan sumber daya nasional.
“Ini bukan hanya soal menangkap kapal atau mengamankan kontainer. Ini soal menjaga masa depan Indonesia, menjaga kekayaan bangsa, dan memastikan sumber daya strategis nasional tidak jatuh ke tangan pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan secara ilegal,” pungkas Amir Hamzah. *man