Poster film Pesta Babi. *Ist
Jakarta, RIC — Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai film dokumenter “Pesta Babi” bukan sekadar karya visual biasa, melainkan bagian dari perang narasi internasional yang berpotensi mendorong agenda Papua merdeka.
Menurut Amir Hamzah, film tersebut memuat simbol-simbol yang sarat pesan politik dan geopolitik, terutama terkait isu perlawanan masyarakat Papua terhadap negara.
“Film ini menurut saya bukan hanya dokumenter sosial. Ada narasi besar yang dibangun untuk membentuk opini internasional bahwa Papua sedang mengalami penindasan dan layak mendapat dukungan global,” ungkap Amir Hamzah, Rabu (20/5/2026).
Simbol Agama
Ia menyoroti salah satu adegan awal dalam film yang memperlihatkan salib berwarna merah digotong masyarakat adat Papua. Menurutnya, simbol tersebut mengandung pesan teologis sekaligus politis.
“Adegan salib merah itu menunjukkan adanya semangat gereja dalam melakukan perlawanan. Ini semacam teologi pembebasan. Gereja memiliki jaringan internasional yang sangat kuat dan berpengaruh,” terang Amir.
Keterlibatan simbol keagamaan dalam gerakan sosial-politik di Papua berpotensi menarik simpati internasional, terutama dari lembaga HAM, organisasi gereja dunia hingga media asing.
Pola semacam itu pernah terjadi dalam konflik Timor Timur sebelum lepas dari Indonesia.
“Kalau nanti terjadi pergerakan massa besar di Papua lalu ada benturan dengan aparat dan jatuh korban, maka narasi yang dibangun akan mengarah pada isu pelanggaran HAM. Skenarionya bisa seperti Santa Cruz di Timor Timur dulu,” katanya.
Ia menjelaskan, tragedi Santa Cruz pada 1991 menjadi titik balik internasionalisasi isu Timor Timur yang akhirnya menekan posisi Indonesia di mata dunia.
“Dulu, dunia internasional melihat Indonesia sebagai pelanggar HAM setelah peristiwa Santa Cruz. Sekarang pola yang sama berpotensi dimainkan di Papua melalui perang narasi, media, dan simbol-simbol kemanusiaan,” ujarnya lagi.
Dalam analisa geopolitiknya, Amir menyebut Papua memiliki posisi strategis dalam persaingan global di kawasan Indo-Pasifik.
Bukan Lokal
Ia mengatakan wilayah yang membentang dari Australia, Timor Leste, Papua hingga Filipina menjadi jalur penting pengaruh Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik.
“Secara geostrategis, Australia, Timor Leste, Papua dan Filipina sudah masuk dalam orbit kepentingan Amerika Serikat. Papua sangat strategis dari sisi sumber daya alam, jalur militer, hingga pengaruh politik kawasan,” katanya.
Karena itu, berbagai isu di Papua tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan lokal semata, melainkan juga bagian dari perebutan pengaruh global.
“Papua hari ini bukan hanya isu keamanan domestik. Ini sudah menjadi arena perang informasi, perang opini dan perebutan kepentingan geopolitik internasional,” ujarnya.
Amir juga menyinggung sorotan media asing terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa waktu terakhir.
Media internasional seperti The Economist dan The Straits Times mulai aktif menyoroti situasi politik dan demokrasi Indonesia.
“Ketika diplomasi Indonesia di dunia internasional kurang kuat, maka opini global akan lebih mudah dibentuk oleh media asing dan kelompok internasional tertentu,” katanya.
Ia mengingatkan dalam era modern, perang tidak lagi hanya menggunakan kekuatan militer, tetapi juga memanfaatkan media, film dokumenter, jaringan NGO, isu HAM hingga media sosial.
“Sekarang perang itu menggunakan visual, emosi, opini publik dan propaganda digital. Film bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk membentuk persepsi dunia,” ujar Amir .
Film “Pesta Babi” sendiri menjadi perbincangan publik setelah sejumlah agenda pemutaran dan diskusi film tersebut menuai kontroversi di berbagai daerah. Dokumenter itu mengangkat isu konflik agraria, masyarakat adat dan proyek pembangunan di Papua yang disebut berdampak terhadap ruang hidup warga lokal. *man