Achmad Fachrudin, Pembelajar dan Pengajar dari Universitas PTIQ. *Ist
Oleh: Achmad Fachrudin, Pembelajar dan Pengajar dari Universitas PTIQ
TERMINOLOGI transformasi, terutama di kalangan Perguruan Tinggi atau Universitas merupakan kosakata yang sering diucapkan oleh kalangan civitas akademika, terutama pada mereka yang menduduki jabatan struktural, apakah itu di Majelis Wali Amanat (MWA), Senat Perguruan Tinggi, Yayasan (jika Perguruan Tinggi Swasta), Rektorat, dosen dan sebagainya. Secara posititive thinking, seringnya kata tersebut diluncurkan mengindikasikan adanya kemauan dan keinginan kuat dari jajaran universitas tersebut untuk memajukan kampusnya.
Meskipun tidak jarang, kata tersebut berinvolusi hanya sekadar ‘kata benda’ dan bukan ‘kata kerja’, bahkan hanya bagaikan hiperbola dan jargon belaka yang acapkali diputar pada saat terjadi pertemuan seremonial. Tanpa progres jelas dan terukur. Akibatnya ada universitas yang berhasil melakukan transformasi; ada yang sedang-sedang (mediocare); jalan di tempat. Malah ada yang masuk kategori gagal (failure) dalam melakukan transformasi.
Secara sederhana, transformasi universitas dapat dimaknai sebagai suatu proses perubahan mendasar, terencana, sistematis, terukur dan berkelanjutan dalam berbagai aspek untuk meningkatkan kualitas, relevansi dan daya saing universitas. Perubahan ini tidak hanya bersifat administratif atau simbolik, tetapi juga menyentuh sistem pendidikan, tata kelola, budaya akademik, budaya organisasi, hingga peran universitas dalam masyarakat. Bahkan seyogianya juga menjangkau perubahan paradigma dan mindset di kalangan elit universitas.
Transformasi universitas di bidang akademik antara lain terkait dengan pembaruan kurikulum, metode pembelajaran dan peningkatan kualitas riset. Pada aspek kelembagaan terkait dengan perbaikan tata kelola, transparansi dan manajemen organisasi. Pada aspek digitalisasi terkait dengan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran dan layanan kampus. Pada aspek budaya dan nilai menyangkut penguatan integritas, inovasi dan orientasi pada mutu. Sedangkan pada peran sosial berhubungan dengan peningkatan kontribusi universitas terhadap kebutuhan masyarakat.
Parameter Keberhasilan
Keberhasilan transformasi universitas dapat diidentifikasi melalui sejumlah indikator yang bersifat komprehensif, baik dari aspek fisik, akademik maupun kelembagaan. Dari sisi infrastruktur, transformasi tercermin pada pembangunan fasilitas kampus yang semakin modern, representatif dan mendukung proses pembelajaran serta penelitian. Pada aspek sumber daya manusia, kualitas dosen ditunjukkan oleh kesesuaian (linearitas) latar belakang pendidikan dengan bidang keilmuan yang diampu, serta peningkatan kualifikasi akademik.
Selain itu, produktivitas ilmiah menjadi indikator penting, yang terlihat dari meningkatnya jumlah publikasi dosen dan mahasiswa pada jurnal bereputasi nasional dan internasional, seperti yang terindeks SINTA, Scopus maupun jurnal bereputasi tinggi (Q1). Di bidang pengabdian kepada masyarakat, keberhasilan transformasi tercermin dari kemampuan civitas akademika dalam merancang dan melaksanakan program yang tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga transformatif, yaitu mampu menjadikan masyarakat sebagai subjek yang mandiri, produktif dan berdaya.
Dari perspektif kelembagaan, meningkatnya jumlah pendaftar mahasiswa menunjukkan daya tarik dan kepercayaan publik terhadap universitas. Hal ini juga diperkuat oleh perluasan jejaring kerja sama dengan berbagai pihak, baik industri, lembaga pemerintah maupun perguruan tinggi bereputasi di tingkat internasional. Selanjutnya, capaian akreditasi institusi, fakultas dan program studi yang memperoleh peringkat unggul menjadi bukti konkret peningkatan mutu tata kelola dan kualitas pendidikan tinggi secara keseluruhan.
Indikator signifikan lainnya tercermin pada terbangunnya keselarasan (link and match) antara luaran pendidikan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja. Hal ini ditunjukkan oleh tingginya proporsi lulusan dari fakultas atau program studi yang terserap pada sektor pekerjaan yang relevan dengan bidang keilmuannya. Bahkan dalam kasus di mana lulusan bekerja di luar disiplin akademiknya, keberhasilan tetap dapat diukur melalui pengakuan (rekognisi) terhadap kualitas personal yang dimiliki, seperti profesionalitas, capaian jabatan atau status sosial serta kontribusi nyata dan berdampak bagi masyarakat dan bangsa.
Yang tidak kalah pentingnya adalah parameter transformasi universitas terletak pada peringkat akreditasi: baik, baik sekali dan unggul. Karena unggul merupakan peringkat akreditasi tertinggi, maka tentu jika suatu institusi (Universitas/Perguruan Tinggi) peringkat akreditasinya unggul dan demikian juga sebagian besar Program Studi (Prodi) terakreditasi unggul, berarti universitas tersebut masuk kategori ekselen dan reputable. Indikator-indikator tersebut secara simultan mencerminkan keberhasilan transformasi universitas yang substansial, faktual, berkelanjutan dan berdaya saing global.
Model Transformasi
Secara umum ada beberapa model transformasi yang sering dipakai untuk menjelaskan perubahan dari kampus tradisional menjadi kampus modern, adaptif, dan berdampak. Berikut model-model transformasi universitas. Diantaranya: pertama, Model Transformasi Struktural (Structural Transformation). Fokus utamanya pada perubahan struktur organisasi dan tata kelola. Ciri utama dari tranformasi model ini adalah dilakukannya restrukturisasi fakultas/jurusan dan pembentukan unit baru (inkubator bisnis, pusat riset, kantor internasional).
Contoh konkret perubahan status Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN); dari IAIN menjadi Universitas Islam Negeri (UIN); atau dari Institut menjadi Universitas. Tujuan idealistik-nya untuk meningkatkan efisiensi manajemen, memperluas mandat akademik dan meningkatkan daya saing kelembagaan. Makna penting dari transformasi ini biasanya menjadi tahap awal karena perubahan struktur membuka jalan bagi perubahan lainnya.
Kedua, model transformasi akademik (academic transformation). Fokus perubahan diarahkan kepada kurikulum, riset dan pembelajaran. Ciri utamanya kurikulum berbasis outcome education (OBE); Interdisciplinary & transdisciplinary learning; peningkatan publikasi ilmiah dan riset kolaboratif; integrasi teknologi dalam pembelajaran (blended learning) atau Learning Management System (LMS). Tujuan dari tranformasi model ini untuk menghasilkan lulusan adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman dan peningkatkan reputasi akademik global. Tanpa transformasi akademik, perubahan struktural hanya menjadi kosmetik.
Ketiga, model transformasi digital (digital transformation), dengan fokus pada digitalisasi sistem kampus. Ciri utama dari tranformasi ini mengarahkan menjadi kampus cerdas (smart campus); penerapan e-learning & hybrid learning; big data dan artificial intelligince (AI) atau kecerdasan buatan untuk manajemen kampus dan kualitas pembelajaran, digital administration (paperless) dan open educational resources. Tujuannya untuk efisiensi layanan akademik, fleksibilitas pembelajaran dan daya jangkau global.
Keempat, model transformasi entrepreneurial university. Fokus kampus diarahkan sebagai pusat inovasi dan kewirausahaan. Konsep ini dikenal sebagai: Entrepreneurial University. Ciri utama model ini adalah hilirisasi riset, inkubator startup mahasiswa/dosen, kolaborasi industri, komersialisasi paten, triple helix mencakup kampus–industri–pemerintah. Tujuannya agar kampus tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga nilai ekonomi dan inovasi. Makna penting transformasi ini dapat mengantarkan perguruan tinggi berubah dari teaching university menuju innovation university.
Kelima, model transformasi internasionalisasi (global university). Fokus kampus sebagai aktor global dengan ciri utama peningkatan intensitas kerja sama internasional, double degree/joint research, mahasiswa asing, kurikulum global dan ranking dunia (QS, THE). Tujuannya meningkatkan reputasi global, pertukaran ilmu lintas negara dan daya saing internasional. Makna penting dari transformasi ini mengubah kampus dari lokal menjadi pemain kelas dunia (global player).
Keenam, model transformasi sosial (social impact university). Fokus utamanya kampus atau universitas diarahkan sebagai agen perubahan sosial. Ciri utamanya pengabdian masyarakat berbasis riset, community engagement, sustainable development goals (SDGs), kampus inklusif dan berkelanjutan. Tujuannya memberi dampak nyata bagi masyarakat, dan memperkuat legitimasi sosial perguruan tinggi. Makna penting model transformasi ini mengembalikan fungsi kampus sebagai moral force dan social change agent.
Transformasi perguruan tinggi modern biasanya terjadi secara terintegrasi. Dari mulai atau berangkat dari kondisi objektif universitas yang ada. Kemudian secara simultan melakukan perbaikan struktural, institusional, akademik, digital, entrepreneurial, global, social impact university dan seterusnya. Artinya, transformasi ideal bukan satu model saja, tetapi kombinasi multi-dimensi. Tentang pilihan mana dari model transformasi dipengaruhi oleh keunggulan, kekuatan, ciri khas atau distingsi masing-masing universitas.
Bukan Durian Jatuh
Mewujudkan transformasi suatu universitas bukanlah perkara mudah, atau bisa tercapai begitu saja (taken for granted). Tidak bisa berilusi seperti mimpi kejatuhan durian. Melainkan perkara yang sulit dan harus diikhtiarkan dengan kerja cerdas dan keras. Terlebih di tengah kontestasi antar perguruan tinggi atau universitas saat ini yang demikian sangat banyak dan kompetitif, baik di dalam maupun dengan luar negeri.
Untuk itu, diperlukan pemenuhan prasyarat dan sekaligus syarat. Diantaranya: pertama adanya kepemimpinan transformasional (transformational leadership). Disini seorang Rektor Universitas harus punya visi jangka panjang yang jelas; berani mengambil keputusan tidak populer sepanjang diyakini benar dan tepat; konsisten minimal 5–10 tahun; mempunyai roadmap; mampu membangun sense of urgency (rasa mendesak); dan memiliki team work/dream team yang solid..
Kedua, tata kelola (governance) yang fleksibel. Universitas akan sulit berubah jika prosedur terlalu panjang dan bertele-tele; keputusan tersentralisasi, dan regulasi kaku. Yang dibutuhkan untuk universitas yang menginginkan transformasi substansial adalah otonomi unit/fakultas; sistem pengambilan keputusan cepat, transparansi dan akuntabilitas, terutama dalam pengelolaan anggaran.
Ketiga, budaya organisasi yang siap berubah. Transformasi gagal jika budaya kampus masih memiliki ciri-ciri sebagai berikut: nir-integritas, elitis, individualis tinggi atau arogan, birokratis, indisipliner, status quo, senioritas berlebihan, alon-alon asal kelakon atau “Asal Jalan” (low performance culture), tertutup, alergi atau resisten terhadap kritik dan evaluasi dan sebagainya. Untuk itu jajaran pengelola universitas, perlu melakukan pergeseran orientasi: dari mediocrity ke excellence, dari comfort zone ke growth mindset; dari seniority ke meritocracy; dari administrative mindset ke performance mindset.
Keempat, sumber daya manusia (SDM) harus siap berubah. Transformasi kampus harus berbarengan dengan transformasi dosen & tenaga kependidikan. Objektifnya atau faktanya banyak dosen belum terbiasa riset pada level nasional dan apalagi internasional; terjadi gap digital skill dan munculnya resistensi terhadap kurikulum baru karena dianggap rigit dan merepotkan. Padahal suatu universitas akan bertransformasi menjadi unggul (ekselen) manakala para aktor utamanya terutama dosen mau melakukan program upgrading, reskilling & upskilling secara substansial.
Kelima, infrastruktur digital & data. Transformasi modern mustahil tanpa digitalisasi. Maka prasyarat minimal yang harus ditempuh oleh setiap kampus adalah menerapkan Learning Management System (LMS), yaitu sistem atau platform digital yang digunakan untuk mengelola, menyampaikan dan memantau proses pembelajaran secara terpadu, sistem data kampus terintegrasi, internet & cloud infrastructure, dan data analytics untuk keputusan.
Keenam, dukungan finansial & model pendanaan baru. Transformasi pastinya memerlukan investasi besar. Karena itu, kampus perlu melakukan diversifikasi sumber pendanaan, kerja sama industri, hibah riset dan endowment fund. Disini pihak pimpinan kampus. Terutama yang bertugas atau diberi mandat mengelola dana/anggaran dan kerjasama antar lembaga harus mempunyai kompetensi, jaringan luas dan akses pendanaan baik dengan pemerintah dan swasta, dalam maupun luar negeri.
Kegiatan Kongkret
Banyak sebenarnya kegiatan konkret yang harus dilakukan bagi universitas atau kampus yang ingin berhasil melakukan transformasi. Antara lain menyusun grand design transformasi (masterplan). Kegiatan ini langkah awal yang wajib. Dimulai dengan mengkaji secara komprehensif dan objektif posisi kampus saat ini dengan target 10–20 tahun ke depan. Minimal 5 tahun. Kemudian melakukan prioritas transformasi dan menyusun indikator keberhasilan. Metodenya antara lain bisa menggunakan analisis SWOT (Strengths= Kekuatan, Weaknesses=Kelemahan), Opportunities=Peluang, dan Threats=Ancaman), serta benchmarking kampus maju dan atau konsultasi stakeholder.
Kegiatan penting lainnya adalah melakukan audit kelembagaan (institutional diagnosis), atau institutional self-assessment. Audit mencakup kualitas dosen, kurikulum, riset, layanan mahasiswa, manajemen keuangan dan reputasi akademik. Tujuannya untuk mengetahui gap antara kondisi sekarang dan target masa depan. Langkah lainnya melakukan reformasi kurikulum dengan kegiatan antara lain menerapkan kurikulum berbasis outcome (OBE), integrasi soft skills & digital skills, pembelajaran lintas disiplin, program magang industri dan pembelajaran berbasis proyek. Fokus utama kegiatan ini diarahkan agar lulusan relevan dengan masa depan, bukan masa lalu.
Kegiatan penting lainnya adalah penguatan ekosistem riset dan inovasi. Langkah konkret yang mesti dilakukan adalah memberikan insentif publikasi internasional, dana riset kompetitif internal, pusat riset unggulan, kolaborasi dengan dunia industri dan hilirisasi hasil riset. Target atau out put yang hendak dicapai adalah jumlah publikasi meningkat, paten meningkat dan menghasilkan riset berdampak nyata.
Kegiatan kongkret lainnya adalah digitalisasi layanan kampus (smart campus), dengan kegiatan antara lain e-office (paperless), e-learning/hybrid learning, sistem akademik terpadu, dashboard data pimpinan, dan lain-lain. Lalu internasionalisasi kampus. Kegiatannya antara lain kerjasama luar negeri joint research, visiting professor, pertukaran mahasiswa, program double degree dan lain-lain.
Kemudian membangun kemitraan dengan dunia industri (university–industry linkage) melalui kegiatan antara lain pembaruan kurikulum co-created dengan industri, magang wajib, inkubator startup dan lain-lain. Lalu change management program (manajemen perubahan) dengan kegiatan antara lain pelatihan perubahan mindset, komunikasi intensif ke civitas akademika, reward & punishment berbasis kinerja, quick wins (keberhasilan cepat) untuk membangun kepercayaan, dan lain-lain.
Succes Story
Melakukan transformasi agar mencapai universitas reputable, bergengsi dan unggul, tidak mudah atau sulit diperoleh. Tetapi itu bukan halusinasi yang tidak bisa diwujudkan secara empirik. Hal ini dibuktikan dengan cukup banyak universitas yang mampu bertahan peringkat dari reputasinya, atau universitas yang sebelumnya dianggap gurem atau biasa-biasa saja lalu konsisten melakukan transformasi secara serius, sungguh-sungguh, bertanggungjawab dan konkret akhirnya berhasil beroleh peringkat (ranking) universitas/perguruan yang unggul dan reputable.
Beberapa contoh cerita sukses (success story) universitas swasta yang berhasil melakukan transformasi antara lain: Universitas Bina Nusantara (BINUS—Indonesia). Univesritas ini awalnya hanyalah lembaga kursus komputer kecil (1970-an). Lalu berkembang menjadi akademi dan universitas. Saat ini BINUS sudah masuk jajaran kampus swasta terbaik di Indonesia, serta mempunyai jaringan internasional dan program global. BINUS mencapai prestasi tersebut karena berhasil melakukan transformasi dengan fokus pada bidang niche (IT & bisnis digital), kemitraan erat dengan industri (link & match), serta investasi serius di digital learning & global exposure.
Contoh lain adalah Universitas Telkom. Awalnya hanyalah gabungan beberapa sekolah tinggi milik Telkom. Bukan kampus elit nasional. Kemudian secara terarah melakukan transformasi dengan cara rebranding plus integrasi institusi. Fokus pada Information and Communication Technology, digital economy, dan entrepreneurship, serta didukung kuat oleh industri (Telkom Group). Hasilnya Universitas Telkom cepat naik peringkat nasional, serta dikenal sebagai kampus teknologi modern.
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) adalah success story lain yang berhasil dalam transformasi. Awalnya kampus swasta ini hanya dibekali dengan sumber daya terbatas. Menyadari hal tersebut, the ruling university melakukan transformasi dengan menitik beratkan pada penguatan manajemen professional, diversifikasi unit usaha (rumah sakit, hotel, bisnis kampus), serta melakukan branding kuat sebagai “kampus entrepreneur”. Hasilnya UMM kini tumbuh menjadi salah satu Universitas terbaik di Indonesia, dan mandiri secara finansial.
Succes story juga bisa dideretkan lebih banyak lagi, dengan memperbandingkan dengan universitas di luar negeri. Seperti National University of Singapore (NUS). Awalnya NUS hanya institusi pendidikan tingkat regional yang kecil kecil di Asia Tenggara. Kemudian dilakukan transformasi radikal dengan turun tangannya pemerintah Singapura, rekrutmen dosen global (brain gain), dan investasi besar pada riset dan inovasi. Saat ini, NUS berhasil masuk top kampus dunia dan menjadi salah satu pusat riset global.
Hal yang sama juga terjadi pada Hong Kong University of Science and Technology (HKUST). Bila sebelumnya kampus yang didirikan pada 1991 dikenal defisit reputasi, dengan transformasi berbasis riset, inovasi & teknologi kelas dunia, kini masuk pada jajaran masuk top Asia. Serta selalu dan banyak diserbu oleh mahasiswa baru yang datang dari berbagai belahan dunia untuk dapat ilmu di HKUST. Karena dianggap universitas unggul, bereputasi global atau masuk kategori world—class university.
Tembok Besar
Transformasi universitas yang terarah, konsisten dan berbasis strategi yang tepat dapat mengantarkan universitas, baik di tingkat nasional maupun global, menuju keunggulan yang berkelanjutan. Syaratnya atau prasyaratnya adanya kepemimpinan transformasional yang visioner, team work/dream team yang solid, budaya organisasi yang siap berubah, infrastruktur digital & data, dan sebagainya. Tanpa itu semua, maka keinginan untuk melakukan transformasi berhenti hanya sekadar slogan, jargon atau ilusi.
Dari sekian banyak kasus, keberhasilan atau kegagalan transformasi universitas banyak tergantung dan ditentukan subyektivitas pihak Yayasan dalam mengevaluasi kinerja universitas yang di dalamnya terdapat pihak Rektorat. Masalahnya, belum tentu parameter kinerja Yayasan simetris dengan Rektorat. Sementara parameter Yayasan dan Rektorat juga belum tentu simetris dengan parameter dan indikator yang lajim diterapkan pada universitas yang telah berhasil dalam melakukan transformasi: seperti BINUS, UMM, Universitas Telkom dan sebagainya. Hal ini terkadang menjadi salah satu kendala krusial dan tembok besar dalam mewujudkan transformasi suatu universitas. Wallahu a’lam bissawab. *