Pengamat Kebijakan Publik Amir Hamzah. *RIC/kirman
Jakarta, RIC – Presiden Prabowo Subianto telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Kawasan Hutan —lahan kelapa sawit— dan pembersihan pada sektor energi, Pertamina.
Dibeberkan Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah, langkah Presiden Prabowo Subianto membuat orang – orang mantan Presiden Joko Widodo blingsatan, meradang dan marah.
Latar belakang inilah yang disinyalir mencuatkan rumors akan ada demo besar – besaran pada Mei – Juni nanti. “Penolakan Revisi UU TNI dijadikan pemicu dan propaganda serta ditunggangi guna menjatuhkan Presiden Prabowo Subianto,” tegas Amir.
Amir menerangkan, salah satu faktor pemicu serangan balik ini adalah langkah Prabowo dalam “pembersihan” terhadap pihak-pihak yang diduga dekat dengan Jokowi. Salah satu langkah konkret yang diambil Prabowo adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Kawasan Hutan, yang berfokus pada pengambilalihan lahan kelapa sawit yang beroperasi secara ilegal di kawasan hutan negara.
“Banyak lahan sawit milik pendukung Jokowi yang terkena kebijakan ini. Mereka tentu merasa dirugikan dan marah karena asetnya diambil alih oleh negara,” ungkap Amir kepada wartawan, Kamis (3/4/2025).
Selain itu, langkah pembersihan juga dilakukan pada sektor energi, khususnya di tubuh Pertamina. Presiden Prabowo diduga memberikan dukungan terhadap proses hukum yang menjerat sejumlah pejabat yang terlibat dalam kasus korupsi di perusahaan minyak negara tersebut.
“Upaya ini membuat jaringan lama yang memiliki kepentingan besar di Pertamina merasa terancam dan melakukan serangan balik,” tambah Amir.
Jatuhkan Prabowo Naikan Gibran
Menurut kaca mata Amir, demonstrasi besar-besaran menolak revisi UU TNI bukan sekadar gerakan spontan dari kelompok pro-demokrasi atau kelompok sipil. Ia melihat ada upaya sistematis untuk melemahkan posisi Prabowo sebelum ia resmi menjabat sebagai Presiden.
“Demo ini dijadikan kendaraan untuk mendeligitimasi pemerintahan Prabowo yang baru terbentuk. Jika tekanan cukup besar, ada kemungkinan Prabowo kehilangan kendali politik dan bisa dijatuhkan lebih cepat,” kata Amir.
Masih menurut Amir, ada skenario politik yang lebih besar di balik gelombang demonstrasi ini. Ia menilai bahwa tekanan terhadap Prabowo berpotensi membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi yang saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden terpilih, untuk naik menjadi Presiden lebih awal dari yang seharusnya.
“Bila Prabowo terpukul oleh isu-isu yang dimainkan dalam demo ini, maka peluang Gibran untuk naik lebih cepat sebagai Presiden akan semakin besar,” paparnya.
Dinamika politik Indonesia terus bergerak dengan cepat. Setelah Pemilu yang dimenangkan oleh Prabowo-Gibran, berbagai manuver politik mulai terlihat, baik dari pendukung maupun pihak yang merasa terancam oleh perubahan yang akan terjadi.
“Demonstrasi menolak UU TNI mungkin hanya bagian dari strategi yang lebih besar untuk memengaruhi stabilitas pemerintahan Prabowo di awal masa jabatannya,” pungkas Amir. *man