Detasemen Armada Pasifik Rusia bersandar di Jakarta pada Minggu (29/3/2026). *Ist
Jakarta, RIC — Detasemen Armada Pasifik Rusia bersandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (29/3/2026). Kehadiran Armada Pasifik Rusia ini dinilai bukan sekadar agenda rutin militer, melainkan sarat pesan geopolitik di tengah memanasnya konflik global, khususnya di Timur Tengah.
Menurut Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah kehadiran armada Rusia tersebut harus dibaca dalam konteks eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang semakin terbuka.
Langkah Rusia mengirimkan Detasemen Armada Pasifik ke Indonesia adalah bagian dari strategi jangka panjang Moskow untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Asia-Pasifik sekaligus mengirimkan sinyal penyeimbang terhadap dominasi Barat.
“Ini bukan sekadar latihan bersama. Ini adalah pesan strategis. Rusia ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki akses, mitra dan pengaruh di kawasan yang selama ini dianggap berada dalam orbit Barat,” ungkap Amir kepada wartawan, Selasa (31/3/2026).
Amir menjelaskan, latihan bersama bertajuk “Orruda” antara TNI AL dan Angkatan Laut Rusia merupakan bagian dari diplomasi militer yang semakin penting di tengah fragmentasi geopolitik global. Indonesia, dalam hal ini, berada pada posisi yang sangat strategis karena tidak secara formal berpihak dalam blok kekuatan manapun.
Mengaitkan dinamika ini dengan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, di mana serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran berpotensi memicu konflik yang lebih luas.
“Ketika Timur Tengah memanas, kekuatan global akan menyebarkan pengaruhnya ke berbagai titik strategis dunia, termasuk Asia Tenggara. Kehadiran Rusia di Jakarta adalah bagian dari antisipasi eskalasi global,” tegasnya.
Lebih lanjut, Amir menilai langkah ini tidak bisa dilepaskan dari peran Presiden Prabowo Subianto yang dinilai aktif membangun keseimbangan hubungan luar negeri Indonesia.
Pendekatan Prabowo yang membuka ruang kerja sama dengan berbagai kekuatan global, termasuk Rusia, merupakan bentuk strategi “multi-alignment” untuk menjaga kepentingan nasional di tengah rivalitas kekuatan besar.
“Prabowo memainkan peran penting dalam menjaga Indonesia tetap relevan di panggung global. Dengan membuka kerja sama militer seperti ini, Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi aktor yang diperhitungkan,” ujarnya.
Namun demikian, Amir mengingatkan, Indonesia harus tetap berhati-hati agar tidak terseret dalam konflik terbuka antar kekuatan besar.
“Indonesia harus cerdas. Kerja sama boleh, tapi jangan sampai masuk dalam orbit konflik. Prinsip bebas aktif harus tetap menjadi jangkar utama,” tegas Amir.
Kedatangan Armada Pasifik Rusia ini sendiri diharapkan dapat memperkuat kerja sama bilateral Indonesia-Rusia, khususnya dalam bidang pertahanan maritim, sekaligus menjaga stabilitas keamanan regional di tengah ketidakpastian global yang semakin meningkat. *man