Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah. *dok/ric
Jakarta, RIC — Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai Presiden Prabowo Subianto tengah melakukan penguatan keamanan nasional dan pertahanan secara bertahap serta tidak selalu terlihat di ruang publik.
Menurut Amir, dinamika mengenai kemungkinan pergantian Kapolri maupun Panglima TNI seharusnya tidak hanya dibaca sebagai persoalan pergantian jabatan, tetapi perlu dilihat dalam kerangka besar strategi pertahanan dan keamanan pemerintahan Prabowo.
“Yang dilakukan Presiden Prabowo secara senyap adalah membangun keamanan nasional dan pertahanan. Melalui proses itu, apakah perlu mengganti Kapolri dan Panglima TNI, itu tentu harus dilihat dari kebutuhan strategis negara,” buka Amir dalam pernyataan kepada wartawan, Sabtu (8/8/2026).
Panglima TNI dan Kapolri
Ia mengatakan, jika Presiden mengikuti dorongan publik untuk mengganti Kapolri, konsekuensinya tidak berhenti pada pergantian pucuk pimpinan Polri. Perubahan tersebut berpotensi diikuti pergeseran sejumlah jabatan strategis di lingkungan kepolisian.
Hal serupa, menurut Amir, juga dapat terjadi apabila terjadi pergantian Panglima TNI.
“Kalau mengikuti publik mengganti Kapolri, tentu akan ada pergeseran berbagai jabatan di Polri. Begitu juga kalau Panglima TNI diganti, akan ada pergeseran di tubuh TNI,” ujarnya.
Amir menilai Presiden perlu mempertimbangkan kesinambungan organisasi dan stabilitas keamanan sebelum mengambil keputusan mengenai posisi Kapolri dan Panglima TNI.
Dalam tradisi pemerintahan Indonesia, kata dia, pengangkatan Kapolri dan Panglima TNI juga kerap mempertimbangkan keseimbangan antar-kekuatan serta latar belakang angkatan.
“Secara tradisional, Presiden mengangkat Kapolri dan Panglima dari satu angkatan atau setidaknya berbeda sedikit. Ini bagian dari pertimbangan keseimbangan,” katanya.
Karena itu, Amir menyebut perjalanan tiga tahun pemerintahan Prabowo nantinya dapat menjadi salah satu indikator untuk membaca arah kebijakan Presiden di bidang keamanan dan pertahanan.
Menurutnya, masyarakat juga dapat mencermati arah tersebut melalui pidato kenegaraan Presiden Prabowo pada 16 Agustus 2026. Selain itu, pidato Presiden pada peringatan HUT ke-81 TNI pada 5 Oktober 2026 dinilai dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kebijakan pertahanan nasional ke depan.
“Bisa dilihat tiga tahun pemerintahan Prabowo. Kita bisa memperkirakan arah kebijakan Prabowo dari pidato kenegaraan 16 Agustus 2026 dan kemudian pidato 5 Oktober 2026 dalam HUT TNI,” ujar Amir.
Lebih jauh, Amir melihat salah satu esensi kebijakan Prabowo bukan hanya terletak pada penguatan institusi pertahanan dan keamanan, tetapi juga bagaimana membangun kesadaran bela negara di tengah masyarakat.
Rasa Memiliki
Menurutnya, Presiden Prabowo berulang kali menyampaikan pesan agar masyarakat memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab terhadap negara.
Pernyataan Prabowo yang meminta masyarakat tidak memilih negara lain hanya karena melihat kekurangan Indonesia, menurut Amir, harus dibaca dalam konteks membangun kecintaan dan loyalitas terhadap bangsa.
“Sejelek apa pun negara kita, harus kita jaga,” ujar Amir, mengutip esensi pesan yang kerap disampaikan Prabowo.
Namun, Amir menilai tidak semua masyarakat memahami pesan tersebut secara utuh. Sebagian justru menangkapnya sebagai pernyataan politik biasa, sementara pesan mengenai kesadaran bela negara dan tanggung jawab menjaga negara belum sepenuhnya terbaca.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahan Prabowo.
“Persoalannya, masyarakat tidak membaca sindiran atau pesan Prabowo secara utuh. Akibatnya, kepercayaan kepada Prabowo bisa rendah,” katanya.
Amir menilai kepercayaan publik menjadi modal penting bagi Presiden dalam menjalankan agenda keamanan, pertahanan, maupun pembangunan nasional.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan komunikasi politik Presiden dapat dipahami masyarakat secara lebih baik. Jangan sampai pesan mengenai nasionalisme dan bela negara justru menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.
“Kepercayaan masyarakat kepada Prabowo harus tetap terjaga, jangan sampai merosot,” tandas Amir. *man