Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin bersama dalam BRICS. *ist
Jakarta, RIC – Bergabung dengan Blok Brazil, Rusia, India, Cina dan Afrika Selatan (BRICS) merupakan peluang yang kondusif bagi Indonesia untuk ikut memberi kontribusi terhadap masalah -masalah global yang berkaitan dengan ketahanan ekonomi, kerjasama teknologi serta ketahanan pangan dan kesehatan publik.
‘Kondisi kondusif itu antara lain bahwa keikutsertaan Indonesia dalam BRICS akan menempatkan Indonesia sebagai penyeimbang terhadap kemungkinan adanya kebijakan dedolarisasi yang akan akan dilakukan oleh beberapa anggota BRICS,” ungkap Juru Bicara The Collateral House Amir Hamzah, menanggapi keikutsertaan Indonesia dalam Blok BRICS, Senin (13/1/2025).
Selain dolar menjadi cadangan devisa Indonesia, lanjut Amir, maka realitas ekonomi dan perdagangan di lingkungan anggota BRICS dengan menggunakan mata uang lokal juga tidak akan menjadi penghalang bagi Indonesia untuk menggunakan dolar sebagai transaksi perdagangan dengan negara di luar anggota BRICS.
“Posisi sebagai penyeimbang disebabkan di semua negara – negara BRICS itu ada rekening GCA. Isi dari rekening GCA itu ada mata uang Dolar, Euro dan mata uang negara bersangkutan, sehingga andai kata ada di negara – negara anggota BRICS perlu atau harus melakukan transaksi menggunakan mata uang Dolar atau Euro, maka mereka dapat melakukannya dengan memanfaatkan GCA yang ada di bank sentral mereka,” terang Amir.
Keunggulan dari GCA inilah, aku Amir, yang akan menjadi keunggulan Indonesia untuk ikut menjadi penentu dalam perumusan kebijakan keuangan dan perdagangan di lingkungan negara – negara anggota BRICS.
Untuk terus mempertahankan keunggulan Indonesia dalam BRICS ini, tandas Amir, maka salah satu hal utama yang perlu digagas Presiden Prabowo Subianto adalah melakukan penataan institusional terhadap lembaga keuangan dan perbankan kita dalam rangka pemanfaatan dan pendayagunaan rekening GCA dimaksud. *man