Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah. *dok/ric
Jakarta, RIC – Kapal Selam RFS Petropavlovsk-Kamchatsky (B-274), korvet RFS Gromky dan kapal tunda Andrey Stepanov menambah daftar kapal perang Armada Pasifik Rusia yang merapat di Pelabuhan Tanjung Priok. Armada kapal perang Rusia bersandar sejak 29 Maret hingga 2 April 2026.
Kehadiran tiga kapal perang Armada Pasifik Rusia di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menyimpan dimensi strategis yang lebih dalam, menyentuh kepentingan geopolitik global yang tengah memanas.
Secara resmi, kunjungan ini disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan pertahanan maritim antara Indonesia dengan Rusia, sekaligus persiapan menuju latihan bersama. Namun, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah melihat ada pesan lain yang lebih substantif namun signifikan.
Menurut Amir, secara normatif kehadiran armada Rusia ini memang sejalan dengan praktik diplomasi militer antarnegara. Indonesia sebagai negara maritim strategis di kawasan Indo-Pasifik memiliki posisi penting dalam jalur perdagangan dan keamanan laut global. Rusia, yang selama ini berupaya memperluas pengaruhnya di kawasan Asia, memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat kehadirannya.
Namun jika ditarik dalam konteks global yang lebih luas —terutama meningkatnya ketegangan antara Iran dengan blok Amerika Serikat dan Israel— kehadiran kapal selam canggih tersebut tidak bisa dipandang netral semata.
“Setiap pergerakan militer memiliki pesan. Kehadiran kapal selam Rusia di Indonesia bisa dibaca sebagai bagian dari strategi signaling kepada pihak-pihak tertentu, khususnya di Timur Tengah,” buka Amir kepada wartawan, Jakarta (1/5/2026).
Aktor Potensial
Rusia selama ini dikenal memiliki kedekatan strategis dengan Iran, baik dalam konteks militer maupun geopolitik. Dalam berbagai konflik regional, Rusia kerap berada di belakang Iran sebagai penyeimbang terhadap dominasi Barat.
“Kehadiran armada Rusia di Indonesia dapat dimaknai sebagai upaya memperluas spektrum pengaruhnya, termasuk melalui negara-negara non-blok seperti Indonesia,” tegas Amir.
Indonesia sendiri, sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif, memiliki posisi unik. Di satu sisi, Indonesia menjalin hubungan baik dengan Barat, namun di sisi lain juga membuka ruang kerja sama dengan Rusia dan negara-negara Timur lainnya. Posisi ini menjadikan Indonesia sebagai aktor potensial dalam memainkan peran diplomasi yang lebih luas.
Amir menilai, Rusia kemungkinan melihat Indonesia sebagai “jembatan strategis” untuk memberikan pengaruh moral maupun politik kepada Iran. “Bukan dalam arti Indonesia akan berpihak, tetapi lebih kepada bagaimana Indonesia bisa menjadi faktor penyeimbang atau bahkan mediator dalam eskalasi konflik,” katanya.
Pesan Sunyi
Dalam konteks ini, keberadaan kapal selam Petropavlovsk-Kamchatsky menjadi simbol kekuatan sekaligus pesan tersirat. Kapal selam jenis diesel-elektrik ini dikenal memiliki kemampuan stealth tinggi, sulit dideteksi dan dirancang untuk operasi di perairan dalam maupun pesisir. Kehadirannya di perairan Indonesia mengirimkan sinyal Rusia tetap memiliki daya jangkau militer yang luas, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara.
Lebih jauh, Amir melihat dinamika ini tidak bisa dilepaskan dari persaingan global antara kekuatan besar. Indo-Pasifik kini menjadi salah satu episentrum baru geopolitik dunia, di mana berbagai negara besar berlomba memperkuat pengaruhnya. Rusia, meski fokus utamanya masih di Eropa Timur, tidak ingin kehilangan momentum di kawasan ini.
Sementara itu, Indonesia dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan. Keterbukaan terhadap kerja sama militer harus tetap berada dalam koridor kepentingan nasional dan stabilitas kawasan.
“Dalam situasi global yang semakin kompleks, setiap langkah diplomasi militer berpotensi membawa implikasi yang lebih luas,” paparnya.
Kunjungan armada Rusia ini pun menjadi pengingat Indonesia tidak berada dalam ruang hampa geopolitik. Setiap interaksi dengan kekuatan besar akan selalu dibaca dalam konteks global, baik oleh sekutu maupun rival.
“Di tengah tensi yang meningkat antara Iran dan blok AS-Israel, manuver Rusia di Jakarta bisa jadi merupakan bagian dari strategi besar yang belum sepenuhnya terlihat di permukaan. Sebuah pesan sunyi dari kedalaman laut, yang bergema hingga panggung geopolitik dunia,” tandas Amir. *man.