Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel memasuk hari kedua belas, terkondisi tersebut mantan Perdana Menteri Qatar, Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, memperingatkan negara-negara kawasan Teluk agar tidak terjebak konflik melawan Iran. *Ist
Jakarta, RIC — Pernyataan mantan Perdana Menteri Qatar, Hamad bin Jassim bin Jaber Al Thani, yang memperingatkan negara-negara Teluk agar tidak terjebak konflik melawan Iran menuai perhatian luas di dunia internasional. Hamad bin Jassim menilai ada potensi skenario berbahaya di mana negara-negara Muslim justru saling berperang, sementara kekuatan besar di luar kawasan memperoleh keuntungan dari konflik tersebut.
Dalam pernyataannya yang ramai diperbincangkan di berbagai forum geopolitik, Hamad bin Jassim menyinggung kemungkinan adanya dorongan dari pihak luar agar negara-negara Teluk terlibat dalam perang melawan Iran, terutama setelah berbagai serangan yang menargetkan kepentingan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Teluk.
Hamad bin Jassim mengingatkan, konflik semacam itu justru akan membuka ruang bagi pihak luar untuk menjual senjata dalam jumlah besar, sementara negara-negara Muslim menjadi pihak yang paling menderita akibat perang.
“Kita tidak boleh memerangi saudara-saudara Muslim kita sendiri,” tegas Hamad bin Jassim.
Pernyataan tersebut dinilai sebagai peringatan keras terhadap potensi konflik regional yang semakin meningkat di Timur Tengah.
Perang Proksi
Terkait hal tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik, Amir Hamzah, menilai pernyataan Hamad bin Jassim bukan sekadar opini politik, tetapi refleksi kekhawatiran strategis di kawasan Teluk.
Selama puluhan tahun, Timur Tengah sering menjadi arena konflik yang melibatkan kepentingan kekuatan besar dunia.
“Pernyataan Hamad bin Jassim harus dibaca sebagai peringatan serius bahwa konflik antara negara-negara Teluk dan Iran berpotensi menjadi perang proksi yang dimanfaatkan pihak luar,” jelas Amir dalam analisisnya kepada media, Kamis (12/3/2026).
Setiap eskalasi konflik di kawasan biasanya diikuti dengan peningkatan signifikan dalam belanja militer negara-negara yang terlibat.
“Dalam situasi konflik, negara-negara Teluk yang memiliki kekuatan ekonomi besar akan meningkatkan pembelian sistem persenjataan canggih. Ini tentu menguntungkan industri militer global,” ujarnya.
Amir Hamzah juga menyoroti salah satu poin penting yang disampaikan Hamad bin Jassim, yakni keberadaan pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Beberapa negara di kawasan Teluk menjadi lokasi pangkalan militer strategis milik Amerika Serikat yang digunakan untuk operasi di Timur Tengah.
Menurut Amir, kondisi ini membuat negara-negara Teluk berada dalam posisi sensitif ketika konflik antara Amerika dan Iran meningkat.
“Ketika terjadi konfrontasi antara Amerika dan Iran, maka negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika secara otomatis berpotensi ikut terseret dalam konflik,” terang Amir.
Situasi tersebut dapat meningkatkan risiko eskalasi militer di kawasan secara cepat.
Lebih jauh, Amir Hamzah mengingatkan konflik antara negara-negara Teluk dan Iran dapat memperdalam perpecahan di dunia Islam.
Menurutnya, jika konflik berubah menjadi perang terbuka antara negara-negara Arab dan Iran, maka dampaknya bukan hanya geopolitik, tetapi juga sosial dan ideologis.
“Ini bisa memicu konflik sektarian yang lebih luas di dunia Islam. Ketika umat Muslim saling berperang, maka stabilitas kawasan akan semakin sulit dipulihkan,” jelasnya.
Konflik semacam itu hanya akan memperpanjang instabilitas yang selama ini melanda Timur Tengah.
Dalam analisanya, Amir juga menyinggung eskalasi konflik Iran dengan sekutu Barat berpotensi memengaruhi keseimbangan kekuatan regional, termasuk hubungan dengan Israel.
Stabilitas Kawasan Teluk
Menurutnya, sebagian pengamat di Timur Tengah khawatir konflik berkepanjangan justru dapat mengubah peta geopolitik kawasan secara signifikan.
“Ketika negara-negara Muslim sibuk berkonflik satu sama lain, maka keseimbangan kekuatan regional bisa berubah secara drastis,” ujarnya.
Satu-satunya cara untuk mencegah konflik besar di Timur Tengah adalah melalui diplomasi regional yang melibatkan negara-negara Teluk, Iran serta kekuatan global.
Stabilitas kawasan tidak akan tercapai melalui pendekatan militer semata.
“Pernyataan Hamad bin Jassim harus dilihat sebagai ajakan untuk menahan diri dan mencari solusi diplomatik. Dunia Islam tidak boleh terus-menerus menjadi arena konflik geopolitik,” wanti – wanti Amir.
Jika peringatan tersebut tidak diperhatikan, maka Timur Tengah berisiko kembali terjebak dalam konflik besar yang dampaknya bisa meluas hingga ke ekonomi global.
“Jika perang besar terjadi, bukan hanya Timur Tengah yang terdampak. Stabilitas energi dunia juga bisa terguncang,” pungkas Amir. *man