Lukisan karya SBY yang dilelang dalam acara perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili Partai Demokrat di Djakarta Theater, Rabu (18/2/2026). (Sumber: Dok. Partai Demokrat)
Oleh : Benny K. Harman
DI TENGAH politik yang semakin bising oleh opini instan dan emosi sesaat, sebuah lukisan justru berbicara dengan cara yang jauh lebih tenang, namun lebih dalam. Lukisan Kuda Api karya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dilelang dalam perayaan Imlek Partai Demokrat di Jakarta Theater pada 18 Pebruari 2026, bukan sekadar karya seni seorang mantan presiden. Ia adalah pernyataan simbolik —bahkan refleksi kenegaraan— bukan semata tentang pentingnya menjaga kekompakan dan kebersamaan untuk meraih cita-cita bersama melainkan tentang bagaimana energi kekuasaan seharusnya dipahami, dikelola, dan diarahkan dalam kehidupan berbangsa.
Seni, pada titik tertentu, sering kali menjadi bahasa paling jujur bagi seorang negarawan. Ketika kata-kata politik kehilangan daya karena terlalu sering dipakai untuk berdebat, dan ketika hak berbicara dan narasi kebenaran dikekang, simbol justru menemukan kembali kekuatannya.
Kuda Api hadir bukan untuk menjelaskan, bukan pula untuk mengoreksi, melainkan untuk mengajak merenung. Sejenak untuk retret, untuk berkontemplasi. Ia tidak menggurui, tetapi menyentuh wilayah yang lebih dalam: etika kepemimpinan. Bukan dominasi melainkan komunikasi, bukan monolog melainkan dialog meminjam filsafat politik Habermas.
Dalam sejarah peradaban, kuda hampir selalu menjadi simbol daya gerak. Ia melambangkan perjalanan, ketangguhan, dan kepemimpinan yang membawa manusia melintasi jarak dan zaman. Api, di sisi lain, adalah simbol energi purba: sumber kehidupan, pencerahan, sekaligus kehancuran. Api menghangatkan, tetapi juga membakar. Ketika kuda dan api disatukan dalam satu kanvas, lahirlah sebuah paradoks yang disengaja —bahwa kekuatan terbesar tidak pernah netral; ia selalu menuntut kendali moral.
Di sinilah Kuda Api menemukan relevansinya dengan Indonesia hari ini. Bangsa ini sedang bergerak cepat. Bonus demografi, ambisi pertumbuhan ekonomi, percepatan teknologi, dan dinamika politik yang kian intens menciptakan energi sosial yang besar. Namun sejarah, baik nasional maupun global, memberi pelajaran yang konsisten: kecepatan tanpa arah akan berujung pada kegaduhan, dan energi tanpa etika akan berakhir pada kelelahan kolektif.
Lukisan ini – Kuda Api– seolah menyampaikan pesan sederhana namun mendasar: negara memerlukan kepemimpinan yang berani menyala, tetapi cukup dewasa untuk tidak membakar rumahnya sendiri. Dalam politik, keberanian memang diperlukan. Itu keniscayaan. Tanpa keberanian, Soekarno dan Hatta tidak pernah memproklamirkan Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945. Tanpa keberanian, negara kini akan stagnan. Negara akan berjalan di tempat. Tetapi keberanian yang tidak disertai pengendalian diri-self control-hanya akan melahirkan kerusakan yang mahal harganya baik secara sosial, politik, maupun institusional.
Bagi rakyat Indonesia, Kuda Api memantulkan makna yang lebih subtil, sayup-sayup namun bisa dirasakan. Api dalam lukisan ini bukanlah amarah, apalagi kebencian. Ia adalah nyala daya hidup —semangat kerja, daya tahan, dan optimisme— yang selama ini menjadi fondasi republik ini. Rakyat Indonesia terbukti memiliki energi luar biasa untuk bertahan dalam krisis. Namun energi itu selalu membutuhkan arah. Perubahan yang berkelanjutan tidak pernah lahir dari ledakan emosi, melainkan dari ketekunan yang konsisten dan kerja yang terorganisir.
Kuda dalam lukisan itu tidak tampak liar. Ia bergerak dengan tenaga penuh, tetapi tetap berada dalam kendali. Ini adalah metafora yang kuat. Dengan metafora ini, si pelukis ingin menegaskan ulang, sesuatu yang sering diucapkannya, bahwa rakyat adalah sumber energi utama bangsa, tetapi energi itu hanya akan bermakna jika diarahkan pada kerja produktif, jika digunakan untuk mencari dan menentukan pemimpin sejati yang memiliki kemampuan memimpin, bukan pada kegaduhan sosial dan politik. Negara hadir bukan untuk memadamkan api rakyat, melainkan untuk mengaturnya agar menjadi tenaga pembangunan.
Makna Kuda Api menjadi semakin tajam ketika ditempatkan dalam konteks internal Partai Demokrat. Di hadapan para kader di acara Imlek yang dihadiri majoritas suku Tionghoa itu, lukisan ini dapat pula dibaca sebagai pesan kepemimpinan lintas generasi. Bahwa politik bukan semata-mata soal merebut kekuasaan, melainkan tentang bagaimana kekuasaan dijalankan dengan tanggung jawab moral. Ambisi politik adalah sesuatu yang sah, bahkan perlu. Tanpa ambisi, partai tidak hanya akan kehilangan daya juangnya melainkan juga kehilangan arah. Tetapi ambisi yang dilepas tanpa kendali nilai justru akan menghanguskan legitimasi politik itu sendiri.
Dalam tradisi kepemimpinan yang selama ini dibangun oleh SBY, kekuasaan selalu diperlakukan sebagai amanah. Ia bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menjaga stabilitas, memperluas kesejahteraan, dan merawat kebhinekaan. Kuda Api menjadi metafora visual dari prinsip tersebut: bergerak cepat, tetapi tidak tergesa; berani, tetapi tidak beringas; kuat, tetapi tetap beradab. Itulah politik santun yang ditanamkan SBY kepada para kader si seantero negeri.
Di titik ini, lukisan tersebut dapat dibaca sebagai alegori tentang etika energi dalam kepemimpinan bangsa. Setiap pemimpin, setiap partai, dan setiap negara pasti memiliki api —berupa kekuasaan, ambisi, dan daya dorong perubahan. Namun sejarah selalu mengajarkan pelajaran yang sama: api yang dilepas tanpa kendali akan menghancurkan, sementara api yang diarahkan dengan penuh kebijaksanaan akan menerangi jalan.
Pesan ini terasa semakin penting di era ketika politik kerap direduksi menjadi pertarungan emosi, citra, dan kecepatan respons di ruang digital. Dalam situasi seperti itu, seni justru tampil sebagai medium peringatan. Lukisan tidak berteriak, tetapi ia menetap. Ia tidak memerintah, tetapi mengajak berpikir. Bukan logika mistika tapi logika rasional. Kuda Api mengajak kita berhenti sejenak dan mengajukan pertanyaan mendasar: untuk apa energi besar yang kita miliki ini digunakan?
Bagi Indonesia, pertanyaan itu adalah panggilan untuk menjaga agar laju perubahan tetap berada dalam rel konstitusi dan etika publik. Bagi rakyat, ia meneguhkan keyakinan bahwa harapan tidak pernah padam selama energi kolektif disalurkan pada kerja, disiplin, dan ketekunan. Dan bagi kader Partai Demokrat, lukisan ini menjadi pengingat sunyi namun tegas: bahwa politik yang berumur panjang hanya dapat dibangun oleh api yang menyala dalam kendali nilai.
Pada akhirnya, Kuda Api bukan sekadar lukisan bernilai miliaran rupiah. Ia adalah cermin etika kepemimpinan. Di tengah politik yang sering reaktif dan emosional, lukisan ini menawarkan sesuatu yang semakin langka —kebijaksanaan untuk mengendalikan energi sebelum energi itu mengendalikan kita. Dari sanalah kepemimpinan yang matang lahir, dan dari sanalah sebuah bangsa menemukan arah larinya. Selamat Tahun Baru Imlek. Gong Xi Fa Cai. ***