Menhan Sjafrie Sjamsuddin saat sidak di Bandara PT IMIP Morowali. *Ist
Jakarta, RIC — Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsuddin membongkar keberadaan TKA Cina di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah. Sinyalemen TKA Cina marak sejak ada perjanjian antara Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Cina Xi Jin Ping yang akan memasukan WNA Cina sebanyak puluhan juta ke RI, utamanya untuk industri nikel di Morowali dan proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung.
Keprihatinan dan sikap waspada masyarakat sudah mewanti – wanti soal kedatangan TKA Cina tapi Presiden Jokowi tidak menggubrisnya. Kini, setelah periode pemerintahan berganti, keberadaan TKA segera “dibereskan”.
Terkait langkah Menhan Sjafrie, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai langkah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin membongkar keberadaan tenaga kerja asing (TKA) asal China di kawasan industri Morowali sebagai tindakan strategis yang bukan hanya berkaitan dengan ketenagakerjaan, tetapi sudah masuk ranah keamanan nasional, intelijen dan geopolitik.
Langkah Menhan Sjafrie tersebut, menurut Amir, menunjukkan keberanian pemerintah dalam membaca ancaman yang tidak kasatmata tetapi sangat nyata: penetrasi kekuatan asing melalui jalur ekonomi dan tenaga kerja.
Keberadaan TKA Cina telah lama menimbulkan kecemburuan sosial di banyak daerah industri, terutama Morowali, di mana sejumlah pekerja asing memperoleh gaji jauh lebih tinggi dibanding pekerja lokal. Ketimpangan ini tidak hanya memunculkan kegelisahan, tetapi berpotensi berkembang menjadi konflik horizontal.
“Isu TKA Cina ini bukan sekadar soal tenaga kerja. Ini soal rasa keadilan masyarakat dan bagaimana negara melindungi warga lokalnya. Ketika gaji mereka lebih tinggi dan posisi strategis didominasi asing, tentu akan timbul resistensi sosial,” kata Amir kepada wartawan, Jumat (5/12/2025).
Infiltrasi Intelijen
Namun, persoalan itu hanyalah permukaan. Pada lapisan yang lebih dalam, keberadaan ribuan TKA Cina di sektor-sektor sensitif seperti nikel, smelter dan kawasan industri dengan teknologi tinggi, dapat membuka peluang aktivitas intelijen.
Amir menegaskan dalam dunia intelijen modern, infiltrasi tidak selalu dilakukan oleh agen resmi negara. TKA, teknisi dan pekerja proyek sering kali menjadi pintu masuk operasi intelijen asing, baik yang bersifat ekonomi, industri maupun strategis.
“Cina memiliki tradisi intelijen yang sangat kuat, termasuk dalam memaksimalkan diaspora, pekerja dan even pelajar di luar negeri untuk mengumpulkan informasi,” jelas Amir.
Keberadaan TKA di kawasan industri strategis dapat membuka akses terhadap: peta geologi dan cadangan mineral kritis, alur logistik nasional, proses manufaktur dan teknologi smelter, pola pengamanan objek vital, data sosial ekonomi masyarakat lokal, secara tidak langsung, tetapi sistematis.
“Ini bukan tuduhan kosong. Banyak negara sudah mengonfirmasi praktik serupa, termasuk negara-negara Eropa, Amerika Serikat, hingga Australia,” tegas Amir.
Morowali bukan sekadar kawasan industri. Ia kini menjadi episentrum geopolitik nikel dunia. Dalam konteks transisi energi global, nikel Indonesia adalah aset strategis setara minyak pada era 1970-an.
Di titik inilah, Amir Hamzah menilai, keberadaan TKA Cina tak bisa dilepaskan dari strategi besar Beijing untuk mengamankan rantai pasok baterai dan kendaraan listrik global.
“Indonesia sekarang berada di jantung perebutan kendali rantai pasok mineral strategis. Cina sangat agresif masuk ke sektor nikel Indonesia. Itu sebabnya, kontrol mereka melalui TKA, teknologi dan investasi harus dibaca dalam kacamata geopolitik, bukan hanya bisnis,” jelasnya.
Amir juga menyoroti bagaimana kehadiran TKA dapat memperkuat dominasi teknologi dan kontrol operasional perusahaan-perusahaan Cina terhadap industri nikel di Indonesia. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa melemahkan posisi tawar Indonesia di pasar global.
Kontrol TKA Cina
Menurut Amir Hamzah, tindakan Sjafrie Sjamsoeddin membongkar dan memeriksa keberadaan TKA Cina di Morowali merupakan sinyal kuat bahwa negara mulai mengambil kembali kedaulatan sektor-sektor strategis.
Beberapa poin penting Amir mengungkapkan:
1. Menunjukkan bahwa keamanan ekonomi adalah bagian dari keamanan nasional. Ancaman tidak lagi hanya berbentuk militer, tetapi juga ekonomi dan demografi.
2. Mengirim pesan ke investor asing bahwa Indonesia bukan negara yang bisa dipermainkan. Penegakan aturan ketenagakerjaan dan keamanan harus menjadi standar, bukan pengecualian.
3. Mengembalikan rasa keadilan bagi masyarakat lokal. Aksi Sjafrie menunjukkan keberpihakan pada tenaga kerja dalam negeri.
4. Memberi tekanan politik dan diplomatik ke China. Bahwa hubungan kerja sama tidak bisa berjalan tanpa menghormati kedaulatan Indonesia.
Amir memberikan beberapa rekomendasi agar langkah ini tidak berhenti sebagai simbol:
– Audit total jumlah TKA China di seluruh Indonesia, terutama yang berada di proyek strategis.
– Screening intelijen terhadap TKA, termasuk latar belakang dan aktivitas mereka di lapangan.
– Meningkatkan kapasitas tenaga kerja lokal agar tidak bergantung pada tenaga asing.
– Memastikan seluruh perusahaan asing tunduk pada aturan ketenagakerjaan Indonesia.
– Membangun sistem pengawasan berkelanjutan di kawasan industri strategis.
Amir menilai langkah Sjafrie Sjamsoeddin tidak hanya tepat, tetapi krusial. Dalam dunia geopolitik dan intelijen modern, kontrol atas tenaga kerja asing di sektor strategis adalah bagian dari mempertahankan kedaulatan nasional, menjaga stabilitas sosial dan memastikan Indonesia tidak menjadi objek penetrasi kekuatan asing.
“Ini bukan sekadar soal TKA. Ini soal kedaulatan, keamanan nasional dan masa depan industri strategis Indonesia,” pungkas Amir. *man