Presiden Prabowo Subianto mencanangkan Program yang diresmikan di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). *Ist
Jakarta, RIC — Peluncuran Program Mandatori Biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto dinilai bukan sekadar kebijakan energi nasional, tetapi sebuah langkah strategis yang dapat mengubah posisi Indonesia dalam percaturan geopolitik global.
Program yang diresmikan di Rest Area KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026), menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori Biodiesel B50 secara nasional.
Kebijakan tersebut merupakan tahapan terbaru dari roadmap biofuel Indonesia yang telah berkembang dari B20, B30, B35, B40 hingga kini memasuki era B50.
Presiden Prabowo menegaskan program tersebut merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak. Pemerintah juga memperkirakan implementasi B50 mampu menghemat devisa hingga sekitar Rp170 triliun per tahun serta menghentikan impor solar yang sebelumnya mencapai sekitar 3–4 juta kiloliter per tahun.
Terkait hal tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai kebijakan tersebut memiliki dimensi yang jauh lebih luas dibanding sekadar kebijakan ekonomi.
“B50 menunjukkan Presiden Prabowo sedang membangun kemandirian energi Indonesia. Dalam perspektif intelijen strategis, negara yang mampu mengendalikan pasokan energinya akan memiliki daya tahan nasional yang jauh lebih kuat menghadapi tekanan eksternal,” ungkap Amir, Selasa (14/7/2026).
Menurut Amir, energi merupakan salah satu instrumen utama dalam perebutan pengaruh antarnegara pada abad ke-21.
Negara Rentan
Sejak pecahnya berbagai konflik internasional, mulai dari perang Rusia-Ukraina hingga ketegangan di Timur Tengah, dunia semakin menyadari bahwa energi bukan hanya komoditas ekonomi melainkan instrumen geopolitik.
Negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak dan gas menjadi lebih rentan terhadap fluktuasi harga, embargo maupun tekanan politik dari negara pemasok.
“Indonesia sedang mengurangi salah satu titik kerawanannya. Ketika ketergantungan impor solar ditekan melalui biodiesel berbasis sawit domestik, maka ruang intervensi dari luar otomatis ikut mengecil,” katanya.
Menurut Amir, dalam kajian intelijen dikenal konsep strategic vulnerability, yakni kerentanan negara akibat ketergantungan pada sumber daya vital dari luar negeri.
“Semakin kecil ketergantungan impor energi, semakin kecil pula peluang pihak luar menggunakan energi sebagai alat tekanan politik maupun ekonomi,” terang Amir.
Keunggulan Komparatif
Amir menyebut selama ini minyak sawit lebih sering dipandang sebagai komoditas ekspor. Padahal, melalui program B50, sawit berubah status menjadi aset strategis nasional.
“Kalau dulu sawit hanya dipandang sebagai sumber devisa, sekarang sawit menjadi instrumen pertahanan ekonomi,” kata Amir lagi.
Menurutnya, perubahan paradigma tersebut sangat penting karena nilai strategis suatu komoditas tidak lagi hanya diukur dari ekspor, melainkan dari kemampuannya menopang kebutuhan domestik.
“Negara-negara maju terus berlomba mengamankan sumber energinya sendiri. Indonesia kini memanfaatkan keunggulan komparatif yang memang dimiliki, yaitu sawit,” tegasnya.
Amir mengatakan selama puluhan tahun harga energi dunia sangat dipengaruhi dinamika produsen minyak global.
Ketika harga minyak melonjak akibat konflik atau kebijakan produksi, negara-negara pengimpor ikut terdampak.
Melalui B50, menurut Amir, Indonesia sedang membangun bantalan terhadap gejolak tersebut.
“Memang Indonesia belum sepenuhnya lepas dari minyak bumi. Tetapi setiap liter biodiesel yang menggantikan solar impor berarti mengurangi eksposur terhadap volatilitas pasar minyak internasional,” paparnya.
B50, masih kata Amir, memiliki dampak berlapis.
Pertama, memperkuat neraca perdagangan melalui pengurangan impor.
Kedua, meningkatkan permintaan domestik terhadap crude palm oil (CPO).
Ketiga, menciptakan kepastian pasar bagi petani sawit.
Keempat, memperkuat industri hilir berbasis sumber daya nasional.
“Negara-negara besar selalu membangun rantai nilai domestik. Indonesia kini mulai bergerak ke arah yang sama,” kata Amir.
Implementasi B50 berpotensi memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin transisi energi di kawasan ASEAN.
Sebagian besar negara di kawasan masih berada pada tingkat campuran biodiesel yang lebih rendah.
“Indonesia menunjukkan bahwa transisi energi tidak selalu identik dengan kendaraan listrik. Biofuel juga dapat menjadi jalan menuju kemandirian energi sesuai karakteristik sumber daya nasional,” ujar Amir.
Meski demikian, Amir mengingatkan keberhasilan B50 tetap bergantung pada sejumlah faktor strategis.
Ia menyebut stabilitas pasokan bahan baku, peningkatan produktivitas sawit, kesiapan industri pengolahan, distribusi nasional, kualitas bahan bakar, hingga keberlanjutan lingkungan harus dijaga secara konsisten.
Selain itu, pemerintah juga perlu mengantisipasi potensi tekanan dagang internasional terkait industri sawit, mengingat komoditas tersebut kerap menjadi isu dalam hubungan perdagangan global.
Dalam perspektif geopolitik, kebijakan B50 mencerminkan upaya Indonesia memperbesar strategic autonomy atau kemampuan mengambil keputusan nasional tanpa terlalu bergantung pada negara lain dalam sektor energi. Namun demikian, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada keberlanjutan pasokan bahan baku, efisiensi industri biodiesel, kesiapan infrastruktur distribusi, serta kemampuan menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi, kepentingan petani dan aspek lingkungan. Karena itu, manfaat geopolitik B50 baru akan optimal apabila implementasinya berjalan konsisten dan mampu dipertahankan dalam jangka panjang.
Bagi Amir Hamzah, peluncuran B50 menjadi sinyal Indonesia tengah membangun fondasi baru kedaulatan energi.
“Negara yang berdaulat adalah negara yang mampu memberi makan rakyatnya, menjaga pertahanannya, dan memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Melalui B50, Indonesia sedang melangkah ke arah itu,” pungkasnya. *man