Menhan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto beserta jajaran Badan Industri Mineral menggelar rapat membahas pengamanan objek strategis nasional. *idc/Kemhan RI
Jakarta, RIC — Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kita tahu aneka barang mulai dari atas tanah hingga kedalam bumi dieksplorasi dan dieksploitasi. Kini, sumber daya mineral atau sumber daya tanah jarang atau rare earth pun mulai menarik untuk diberdayakan. Sumber mineral strategis tersebut menjadi perhatian pemerintah.
Terkait rare earth tersebut, Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin mengadakan pertemuan dengan Kepala Badan Intelijen Negara Muhammad Herindra dan Panglima Tentara Nasional Indonesia Agus Subiyanto dalam rapat bersama Badan Industri Mineral (BIM).
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai rapat tersebut menunjukkan negara mulai memandang pengelolaan mineral strategis sebagai bagian dari pertahanan nasional dan perebutan pengaruh geopolitik global.
Tambang dan Perang
Menurut Amir Hamzah, keterlibatan Menhan, BIN dan Panglima TNI dalam pembahasan pengembangan logam tanah jarang atau rare earth element (REE) di Mamuju, Sulawesi Barat, merupakan sinyal kuat bahwa pemerintah memahami posisi strategis Indonesia di tengah kompetisi global sektor mineral kritis.
“Rare earth hari ini bukan hanya urusan tambang, tetapi menyangkut perang teknologi, industri pertahanan, kendaraan listrik, semikonduktor, sampai perebutan pengaruh antarnegara besar,” ungkap Amir Hamzah kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).
Ia menjelaskan, negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Cina saat ini sedang berlomba menguasai rantai pasok mineral strategis dunia. Dalam situasi itu, Indonesia dinilai memiliki posisi yang semakin penting karena menyimpan cadangan mineral yang dibutuhkan industri masa depan.
Langkah pemerintah menempatkan sektor pertahanan dan intelijen dalam pengamanan kawasan tambang strategis menunjukkan adanya perubahan paradigma negara.
“Dulu pertahanan identik dengan senjata dan perang terbuka. Sekarang pertahanan juga menyangkut energi, pangan, data digital dan mineral strategis. Negara yang menguasai mineral masa depan akan memiliki daya tawar geopolitik sangat besar,” ujarnya.
Ia menilai Mamuju berpotensi menjadi kawasan yang akan mendapat perhatian internasional apabila pengembangan rare earth berjalan besar-besaran. Karena itu, pengamanan kawasan strategis menjadi penting untuk mencegah konflik kepentingan, penyelundupan sumber daya, hingga infiltrasi ekonomi asing.
Amir Hamzah juga menyoroti pentingnya tata kelola nasional yang kuat agar kekayaan mineral Indonesia tidak hanya menjadi objek eksploitasi global.
Pemetaan Potensi
“Indonesia jangan hanya menjadi pemasok bahan mentah. Negara harus memastikan hilirisasi berjalan dan teknologi pengolahan dikuasai secara bertahap. Kalau tidak, kita hanya menjadi penonton dalam industri strategis dunia,” katanya.
Keterlibatan BIN dalam pembahasan tersebut juga dapat dibaca sebagai upaya negara melakukan pemetaan ancaman nonmiliter di sekitar kawasan sumber daya strategis.
“Intelijen tentu membaca banyak dimensi. Mulai dari potensi konflik sosial, perebutan lahan, permainan korporasi global, sampai operasi pengaruh asing. Ini bukan paranoia, tetapi bagian dari mitigasi geopolitik modern,” ujarnya lagi.
Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bersama Badan Industri Mineral menggelar rapat di Kantor BP BUMN Jakarta Pusat, baru – baru ini.
Dalam keterangannya, Sjafrie menyebut Indonesia memiliki potensi mineral yang harus dikelola secara aman, tertib dan berorientasi pada kepentingan nasional. Ia menegaskan pertahanan negara memiliki peran penting dalam mendukung stabilitas wilayah dan pengamanan objek strategis nasional.
Sementara itu, Dirjen Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan rapat tersebut turut membahas pengembangan tambang logam tanah jarang di Mamuju, Sulawesi Barat. *man