Komisi A DPRD DKI Jakarta melaksanakan rapat dengan mitra eksekutif, Selasa (20/1/2026). *andreas
KOMISI A DPRD DKI Jakarta, Rabu (21/1/2026), dalam rapat kerja dengan mitra eksekutif membicarakan implementasi usulan masyarakat yang disampaikan dalam reses tahun 2025.
Rapat dipimpin Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta, Inggard Joshua. Eksekutif dipimpin Asisten Pemerintahan Sigit Wijatmoko.
Dewan mengadakan rapat kerja untuk mengetahui dan memastikan seberapa banyak usulan masyarakat lewat dewan saat reses telah dilaksanakan eksekutif.
Hal ini bagi dewan selaku wakil rakyat sangat penting karena berkaitan dengan kepentingan langsung masyarakat. Apalagi rakyat mengusulkan langsung saat reses agar diperjuangkan dan dilaksanakan eksekutif.
Dan, dewan harus mempertanyakan dan mempersoalkan itu karena terkait kepercayaan masyarakat terhadap dewan yang adalah wakil – wakil mereka, yang dibiayai dan digaji rakyat.
Kepercayaan rakyat bisa sirna tak berbekas bila usulan yang disampaikan sia-sia tak berujung, tak ada hasilnya. Hampa tak bermakna.
Anehnya, di tengah dewan bicara serius tentang pelaksanaan atau implementasi usulan rakyat seberapa besar atau seberapa banyak telah dilaksanakan eksekutif, Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD DKI Jakarta, Agustinus dengan bangganya, bicara hasil renovasi ruangan. Dengan gagah, Agustinus mengatakan ruangan makin representatif. Memang baru direnovasi ruangan DPRD termasuk ruangan Komisi A DPRD tapi bukan itu materi rapat kerja.
Suatu yang kontradiktif. Suatu yang aneh kalau tidak disebut lucu. Apa kaitan renovasi ruangan dengan aspirasi rakyat? Apa dengan renovasi itu aspirasi rakyat terlaksana? Apa keuntungan langsung renovasi ruangan dengan kehidupan dan kepentingan masyarakat? Apa pengaruhnya?
Apalagi dalam kesempatan itu anggota Komisi A Muhamad Ongen Sangaji, justru meminta sekaligus menegaskan agar ruangan pengobatan atau klinik jangan diabaikan perhatiannya karena penting agar dokter bisa melaksanakan tugas pelayanan dengan baik.
Dikatakan ruangan bagus jangan sampai mengabaikan ruangan pengobatan. Tidak hanya itu. Ongen pun meminta penyediaan mobil ambulance sebagai antisipasi karena tidak ada yang tahu sesuatu bisa terjadi dan memerlukan ambulance. Jangan urusin ruangan dewan saja. Artinya apa yang disampaikan Ongen itu kebutuhan bukan keinginan. Suatu yang memang sangat diperlukan.
Memang ruangan hasil renovasi top, tapi itu casing. Pertanyaan kritisnya bagaimana di balik ruangan megah, bagus itu dengan kehidupan rakyat Jakarta. Usulan rakyat Jakarta bagaimana? casing perlu tapi rakyat jauh lebih penting. Salus populi suprema lex esto, kata Cicero.
Belakangan ini aktifitas Sekretariat Dewan khususnya berkaitan dengan penggunaan anggaran menjadi sorotan. Antara lain soal anggaran souvenir Rp 12 miliar lebih, renovasi ruangan Rp 50 miliar lebih. Sebanyak 19 proyek renovasi ruangan senilai Rp 50 miliar menjadi sorotan Direktur Eksekutif Center Budget Analysis, Uchok Sky Khadafi.
Semua ini akan jadi terang benderang bila Kejaksaan maupun Komisi Pemberantasan Korupsi turun dan menyelidikinya. Juga Inspektorat DKI Jakarta mau turun tangan. Atau membiarkannya gelap gulita.*
*andreas, pemimpin redaksi realitasindonesia.com