Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah. *dok/ric
Jakarta, RIC — Dinamika konflik di Timur Tengah kembali memanas. Di tengah eskalasi yang melibatkan Iran, Israel dan Amerika Serikat, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah mengingatkan pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto agar menyiapkan langkah antisipatif menghadapi skenario terburuk: perang total Iran.
Menurut Amir, eskalasi konflik bukan hanya berdampak pada kawasan Teluk, tetapi juga memiliki implikasi global —termasuk terhadap stabilitas keamanan dan ekonomi Indonesia.
Salah satu perkembangan yang menjadi sorotan adalah langkah Iran menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi nadi distribusi minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas di perairan sempit tersebut.
Jika penutupan berlangsung lama, dampaknya bisa signifikan:
– Harga minyak dunia melonjak tajam.
– Tekanan terhadap APBN Indonesia meningkat karena beban subsidi energi.
– Inflasi berpotensi terkerek akibat kenaikan harga BBM dan logistik.
Dalam perspektif geopolitik energi, Indonesia memang bukan importir utama dari Teluk secara langsung, namun harga minyak bersifat global. Kenaikan harga akibat krisis Hormuz akan otomatis memengaruhi pasar domestik.
Amir menilai pemerintah harus menyiapkan skenario kontinjensi energi, termasuk diversifikasi pasokan dan penguatan cadangan strategis.
Dari sisi intelijen, Amir menyoroti kemampuan Badan Intelijen Iran, VEVAK. Dalam berbagai analisis global, VEVAK dikenal memiliki jaringan luas dan kemampuan operasi asimetris lintas negara.
Ia bahkan menyebut reputasi VEVAK sering disejajarkan sebagai salah satu yang paling efektif di kawasan, berada di bawah Mossad dalam hal agresivitas operasi luar negeri.
Militansi Simpatisan Iran
Dalam perang modern, konflik tidak lagi semata-mata konvensional. Operasi intelijen, perang siber, disinformasi serta dukungan terhadap simpatisan ideologis di berbagai negara menjadi bagian dari strategi.
“Dalam kajian intelijen, segala kemungkinan harus dihitung, bukan untuk menuduh, tetapi untuk mengantisipasi,” ujar Amir dalam keterangan kepada wartawan, Senin (2/3/2026).
Amir menegaskan dirinya tidak menuding seluruh simpatisan Iran di Indonesia akan melakukan tindakan ekstrem. Namun ia mengingatkan adanya potensi fragmentasi di kalangan simpatisan yang lebih militan jika konflik meningkat drastis.
Dalam sejarah Indonesia, sentimen global pernah memicu aksi teror domestik. Ia mencontohkan kasus kelompok Imam Samudra dan jaringan yang terlibat dalam tragedi Bom Bali 2002. Motif ideologis saat itu dipicu oleh persepsi penindasan terhadap umat Islam di Palestina dan kebijakan Amerika Serikat di Timur Tengah.
Namun, penting dicatat: mayoritas pendukung Palestina di Indonesia tidak pernah melakukan aksi kekerasan. Demikian pula, simpatisan Iran secara umum menyalurkan aspirasi melalui jalur damai dan politik.
Menjadi perhatian intelijen adalah kemungkinan kecil adanya kelompok terdidik yang merasa frustrasi karena aksi mereka terbatas pada retorika dan demonstrasi. Dalam kondisi perang total, friksi psikologis bisa meningkat dan membuka ruang radikalisasi individu.
Secara geopolitik, Indonesia berada dalam posisi unik:
1. Negara dengan populasi Muslim terbesar dunia.
2. Mitra strategis Amerika Serikat di bidang ekonomi dan pertahanan.
3. Memiliki hubungan diplomatik baik dengan Iran.
4. Aktif dalam diplomasi Global South dan OKI.
Jika konflik Iran-Israel-AS berkembang menjadi perang terbuka, Indonesia berpotensi menghadapi tiga tekanan sekaligus:
1. Tekanan ekonomi global – Lonjakan harga energi dan gejolak pasar.
2. Tekanan diplomatik – Desakan memilih posisi dalam konflik.
3. Tekanan keamanan domestik – Potensi aksi simbolik terhadap kepentingan Amerika di Indonesia.
Kedutaan, perusahaan multinasional dan fasilitas strategis bisa menjadi target simbolik bila ada kelompok ekstrem yang ingin menunjukkan solidaritas ideologis.
Dalam pendekatan intelijen modern, negara harus menyiapkan beberapa skenario:
1. Skenario Ekonomi: Lonjakan minyak memicu instabilitas sosial akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.
2. Skenario Siber: Operasi siber oleh aktor negara maupun non-negara untuk menyerang infrastruktur digital atau menyebarkan propaganda.
3. Skenario Lone Wolf: Radikalisasi individu tanpa komando langsung, terinspirasi oleh konflik global.
4. Skenario Proxy: Operasi pengaruh melalui jejaring sosial, organisasi sipil, atau kelompok ideologis.
Amir menekankan pendekatan antisipasi harus berbasis deteksi dini, bukan reaksi berlebihan. Beberapa langkah yang dinilai krusial:
– Penguatan koordinasi antar-lembaga intelijen dan aparat keamanan.
– Monitoring eskalasi narasi ekstrem di ruang digital.
– Diplomasi aktif untuk menjaga posisi Indonesia tetap netral dan konstruktif.
– Stabilitas ekonomi domestik melalui intervensi fiskal dan moneter.
Selain itu, komunikasi publik harus dijaga agar tidak terjadi stigmatisasi terhadap kelompok tertentu. Pendekatan keamanan harus presisi dan berbasis data.
Konflik Iran dan Amerika Serikat, bila benar-benar berubah menjadi perang total, akan membawa implikasi luas bagi tatanan global. Indonesia tidak berada di garis depan medan tempur, namun dalam era globalisasi, dampak geopolitik dan psikologis tidak mengenal batas wilayah.
Pemerintahan Prabowo Subianto dihadapkan pada tantangan menjaga stabilitas nasional di tengah turbulensi global.
“Dalam dunia intelijen, yang paling berbahaya bukan ancaman yang besar, melainkan ancaman yang diabaikan,” pungkasnya. *man