Momen Foto Bersama Presiden Prabowo Sebelum Sidang Paripurna DPR RI. *Ist
Jakarta, RIC — Kemunculan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, yang berdiri sejajar dengan Presiden Prabowo Subianto di lingkungan Istana memantik berbagai spekulasi politik. Sebagian kalangan menilai momen itu bukan sekadar simbol protokoler, melainkan refleksi kedekatan personal dan kepercayaan strategis yang telah terbangun selama puluhan tahun.
Terkait hal tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menyebut, posisi Dasco yang terlihat sejajar dengan Presiden Prabowo bukanlah kebetulan. Menurutnya, hal itu terjadi atas perintah langsung Prabowo.
“Hubungan mereka bukan relasi formal pasca-Pilpres saja. Itu persahabatan lama, hampir 30 tahun. Dalam perspektif intelijen politik, kedekatan jangka panjang seperti ini melahirkan trust yang sangat dalam,” ungkap Amir dalam keterangannya, Selasa (25/2/2026).
Peran Dasco dalam pemenangan Prabowo pada Pilpres 2024 tidak bisa diremehkan. Ia bahkan menyebut Dasco sebagai salah satu arsitek kemenangan.
Sebagai Ketua Harian Partai Gerindra dan Wakil Ketua DPR RI, Dasco dinilai mampu memainkan peran strategis di dua ranah sekaligus: parlemen dan mesin partai. Konsolidasi struktur, komunikasi lintas elite, hingga penetrasi ke basis-basis pemilih disebut menjadi kekuatan utama yang dibangun Dasco dalam mengamankan suara bagi Prabowo.
“Dalam bahasa intelijen politik, Dasco adalah operator lapangan sekaligus perancang strategi. Ia memahami peta kekuatan, membaca potensi ancaman dan menyiapkan mitigasi,” kata Amir.
Tak heran jika Prabowo disebut menjuluki Dasco sebagai “kancil”, simbol kecerdikan dan kelincahan dalam mengambil langkah politik.
Amir juga mengaitkan keberhasilan kader-kader Gerindra di sejumlah Pilkada dengan peran konsolidatif Dasco. Salah satu yang disorot adalah kemenangan Andra Soni di Pilgub Banten.
Menurut Amir, strategi pemenangan di daerah tidak berdiri sendiri. Ada desain besar yang dirancang sejak jauh hari, termasuk pemetaan tokoh, segmentasi pemilih serta penguatan jejaring relawan dan simpul komunitas.
“Pilkada itu bukan hanya soal figur. Ada orkestrasi politik. Dan Dasco dikenal sebagai figur yang piawai mengorkestrasi kekuatan,” terang Amir.
Dalam konteks Banten, konsolidasi internal partai dan pendekatan ke berbagai kelompok masyarakat disebut berjalan efektif. Amir melihat, ini sebagai bukti bahwa Dasco tidak hanya bermain di level nasional, tetapi juga mampu menurunkan strategi hingga level daerah.
Inner Circle
Dalam analisis intelijen politik, simbol memiliki makna. Amir menilai, momen berdirinya Dasco sejajar dengan Presiden di Istana adalah pesan politik.
“Dalam komunikasi non-verbal kekuasaan, posisi berdiri itu penting. Itu bukan sekadar protokol, tetapi pesan bahwa ia bagian dari inner circle,” kata Amir.
Inner circle dalam terminologi geopolitik merujuk pada lingkaran inti pengambil keputusan. Jika seseorang berada di lingkaran ini, maka akses terhadap informasi strategis dan pengaruh kebijakan menjadi sangat besar.
Sasaran Tembak
Kepercayaan personal yang panjang antara Prabowo dan Dasco memperkuat posisi tersebut. Hubungan yang terbangun sejak era awal perjuangan politik Prabowo menciptakan loyalitas dua arah: kepercayaan dari pemimpin dan komitmen dari orang kepercayaan.
Namun posisi strategis juga membawa risiko. Amir menilai, Dasco kini menjadi sasaran tembak karena kedekatannya dengan Presiden.
“Dalam pola operasi politik, jika ingin melemahkan seorang pemimpin, maka lingkar terdekatnya lebih dulu diserang. Ini teori klasik dalam intelijen,” ujar Amir lagi.
Menurut Amir, serangan terhadap Dasco harus dibaca dalam kerangka tersebut. Ia menyebut, targetnya bukan hanya individu, tetapi stabilitas dan soliditas kekuasaan.
Meski demikian, ia melihat publik masih menilai kinerja Dasco cukup positif. Salah satu yang disorot adalah sikapnya dalam isu ketenagakerjaan, termasuk penolakan terhadap potensi PHK buruh di industri makanan, yang menjadi perhatian luas masyarakat.
“Langkah-langkah responsif seperti itu memperkuat citra bahwa ia tidak hanya politisi elite, tetapi juga responsif terhadap isu rakyat,” kata Amir.
Dalam perspektif geopolitik domestik, Amir menyimpulkan bahwa peran Dasco tidak bisa dilepaskan dari dinamika kekuasaan era Prabowo. Kombinasi loyalitas personal, kecerdikan strategi dan kemampuan membaca peta politik menjadikannya figur sentral di balik layar.
Ke depan, menurut Amir, posisi Dasco akan tetap krusial dalam menjaga stabilitas koalisi dan memastikan agenda pemerintahan berjalan efektif di parlemen.
“Selama trust itu terjaga, Dasco akan tetap berada di orbit inti kekuasaan. Dan dalam politik, orbit inti itulah yang menentukan arah,” pungkas Amir. *man