Achmad Fachrudin, Dosen Jurnalistik Universitas PTIQ. *Ist
Oleh: Achmad Fachrudin, Dosen Jurnalistik Universitas PTIQ
SALAH satu isu seksi dan krusial dalam kegiatan penelitian ilmiah adalah keberadaan research gap, yakni kesenjangan atau celah pengetahuan yang belum terjawab secara memadai dalam kajian-kajian sebelumnya. Bagi peneliti, keberadaan research gap kerap memunculkan dinamika dan ketegangan (tension) psikologis yang tidak sederhana.
Pada sisi positif, research gap atau gap/kesenjangan penelitian dapat menjadi pemicu lahirnya adrenalin dan ketegangan kreatif yang mendorong inovasi, daya saing intelektual serta ‘ambisi’ akademik untuk menghasilkan karya ilmiah yang lebih bermutu dan bernilai. Kadang diistilahkan dengan karya orisinal dan penuh kebaruan (novelity).
Namun, pada sisi lain, apabila upaya menjembatani kesenjangan tersebut tidak berhasil, kondisi ini justru berpotensi menimbulkan dampak psikologis negatif. Seperti stres dan depresi berkepanjangan, menurunnya kepercayaan diri, melemahnya etos keilmuan, berkurangnya motivasi riset hingga hambatan dalam menyelesaikan proses penelitian.
Secara konseptual, research gap dapat dipahami sebagai kekosongan, inkonsistensi atau keterbatasan temuan dalam penelitian terdahulu yang belum terjelaskan secara tuntas. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa pengetahuan dalam suatu bidang tertentu masih bersifat parsial dan belum sepenuhnya mapan, sehingga memerlukan kontribusi dari penelitian yang lebih mutakhir. Singkatnya, research gap menjadi indikator adanya ruang intelektual yang masih terbuka untuk dieksplorasi, diperdalam dan dikembangkan lebih lanjut.
Signifikansi
Menemukan research gap bukanlah pekerjaan mudah. Proses ini menuntut ketajaman analisis, keluasan wawasan, ketekunan akademik tinggi, terlatih melakukan dialektika antara teori dengan praktik/empirik dan sebagainya. Realitasnya, tidak semua peneliti mampu sepenuhnya melakukan kerja-kerja intelektual semacam itu secara maksimal.
Begitupun, upaya mengidentifikasi dan menemukan gap penelitian tetap harus dilakukan, karena hal tersebut berkaitan langsung dengan integritas ilmiah dan kredibilitas peneliti. Kejelasan research gap juga menjadi fondasi utama bagi orisinalitas penelitian, penguatan argumen akademik serta pencegahan terhadap duplikasi, repetisi atau redundansi yang tidak perlu.
Dalam konteks penelitian tingkat lanjut, khususnya disertasi, keberadaan research gap memegang peranan strategis atau signifikansi. Pertama, research gap berfungsi untuk menegaskan unsur kebaruan (novelty) penelitian. Tanpa adanya gap yang teridentifikasi secara jelas, suatu penelitian berisiko hanya menjadi repetisi dari kajian sebelumnya tanpa memberikan kontribusi berarti bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Kedua, research gap membantu peneliti merumuskan masalah penelitian secara lebih tajam dan terarah. Ketiga, gap penelitian menjadi dasar dalam menentukan pendekatan dan metode yang paling relevan untuk menjawab persoalan yang belum terungkap. Keempat, keberadaan gap yang tepat juga menunjukkan relevansi akademik dan praktis penelitian, sehingga studi yang dilakukan tidak hanya bernilai teoritis, tetapi juga memiliki implikasi praktikal dan empirik.
Manfaat
Keberadaan research gap memberikan beragam manfaat bagi peneliti. Dengan memahami gap penelitian, peneliti dapat memetakan wilayah kajian yang belum banyak disentuh, sekaligus belajar dari kekuatan dan kelemahan penelitian sebelumnya, baik dari sisi substansi maupun metodologi.
Selain itu, pemahaman terhadap research gap membantu peneliti menghindari replikasi, duplikasi atau bahkan plagiasi objek penelitian yang sama. Kecuali dilakukan dengan pendekatan teoretis atau metodologis yang berbeda.
Lebih jauh, penelitian yang berangkat dari gap yang jelas akan berkontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memperkaya khazanah akademik. Peneliti juga dapat memanfaatkan kajian gap sebagai sarana untuk melakukan literature review yang komprehensif, sehingga memahami peta mutakhir penelitian atau state of the art dalam bidang yang dikaji.
Kesadaran terhadap research gap mencegah peneliti bersikap tergesa-gesa dan tidak etis dalam mengklaim kebaruan penelitiannya. Bagi peneliti yang mempertimbangkan dan melakukan research gap dalam melakukan riset dan diakui oleh expert reading, akan beroleh kepuasaan tersendiri. Karena karya ilmiah atau gelar akademik yang diperolehnya akan dianggap berdampak bagi kepentingan akademik, masyarakat dan bangsa.
Tujuh Dimensi
Research gap sendiri tidak bersifat tunggal, melainkan dapat muncul dalam berbagai dimensi. Setidaknya terdapat tujuh dimensi kesenjangan penelitian yang kerap dijumpai. Pertama, theoretical gap, yaitu kondisi ketika teori yang ada belum mampu menjelaskan fenomena secara menyeluruh atau tidak selaras dengan realitas empiris.
Kedua, evidence gap, yang muncul ketika bukti empiris yang tersedia bersifat kontradiktif, lemah atau belum terverifikasi secara memadai. Ketiga, knowledge gap, yakni keterbatasan pengetahuan yang terjadi karena ketiadaan informasi dalam literatur atau karena temuan penelitian berbeda dari asumsi yang diharapkan.
Keempat, practical–knowledge gap, yang terjadi ketika praktik profesional di lapangan tidak sejalan dengan rekomendasi teoritis atau kebijakan yang ada. Kelima, methodological gap, yaitu kesenjangan yang disebabkan oleh keterbatasan atau kelemahan metode penelitian sebelumnya.
Keenam, empirical gap, yang menuntut pengujian ulang atau verifikasi empiris akibat konflik temuan atau perbedaan konteks penelitian. Ketujuh, population gap, yakni kondisi ketika kelompok populasi tertentu belum banyak dikaji, sehingga pengetahuan tentang kelompok tersebut masih sangat terbatas.
Sejumput Langkah
Untuk mengidentifikasi research gap secara sistematis, khususnya dalam penyusunan tesis atau disertasi, diperlukan langkah atau pendekatan analitis, terstruktur dan sistematis. Langkah pertama adalah melakukan kajian literatur secara mendalam dan luas dengan menelaah artikel jurnal, tesis, disertasi dan buku yang relevan.
Langkah kedua, mengkaji secara mendalam bagian keterbatasan penelitian (limitations) serta anjuran penelitian selanjutnya (future research) dalam karya ilmiah. Pada bagian tersebut, peneliti umumnya secara eksplisit menjelaskan aspek-aspek yang belum dapat dijangkau, baik dari segi konseptual, metodologis, maupun ketersediaan data. Dengan demikian, limitations dan future research berfungsi sebagai pijakan penting dalam menelusuri celah penelitian yang valid dan bernilai akademik.
Langkah ketiga, menyusun perbandingan analitis terhadap hasil temuan, metode penelitian, konteks kajian, serta karakteristik subjek atau populasi pada penelitian-penelitian sebelumnya. Variasi pada elemen-elemen tersebut berpotensi memengaruhi tingkat generalisasi dan kekuatan validitas eksternal suatu penelitian. Oleh sebab itu, pendekatan komparatif ini memudahkan peneliti dalam mengidentifikasi peluang kajian baru yang belum banyak dieksplorasi atau masih memunculkan perdebatan ilmiah.
Langkah keempat, mengevaluasi kesesuaian penelitian terdahulu dengan kondisi aktual yang senantiasa berkembang. Perubahan sosial, politik, ekonomi, serta kemajuan teknologi kerap melahirkan situasi baru yang belum terakomodasi dalam studi sebelumnya. Keadaan ini menjadi dasar munculnya research gap baru yang menuntut pembaruan sudut pandang, kerangka teoritis dan strategi penelitian.
Tantangan
Dengan demikian, pemahaman dan aktualisasi yang memadai mengenai research gap merupakan prasyarat penting bagi peneliti, baik yang telah berpengalaman maupun yang sedang atau akan melakukan penelitian ilmiah. Idealnya, seluruh jenis kesenjangan penelitian dapat diakomodasi dalam satu riset atau studi akademik.
Namun, mengingat berbagai kendala dan kompleksitasnya, peneliti dapat memilih beberapa dimensi gap penelitian yang paling relevan dengan fokus kajiannya. Setidaknya, tujuh dimensi research gap tersebut perlu dijadikan kerangka berpikir, paradigma, mindset, pertimbangan konseptual utama atau spirit dalam merancang dan melaksanakan penelitian, terutama pada level tesis dan disertasi.
Jadi, research gap tidak mesti menjadi momok yang menakutkan bagi peneliti, terutama yang tengah merampungkan tugas akhir pembuatan tesis disertasi, atau laporan penelitian. Melainkan justeru menjadi tantangan (challenge) sendiri untuk dijinakkan dan ditaklukan. Insya Allah semua ada jalannya. (diolah dari berbagai sumber). *