Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengimbau masyarakat dan investor untuk melepas simpanan Dolar AS, Kamis (11/6/2026). *Ist
Jakarta, RIC — Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengimbau masyarakat dan investor untuk melepas simpanan dolar AS. Imbauan tersebut karena rupiah diprediksi menguat dalam waktu dekat memunculkan berbagai spekulasi di kalangan pelaku pasar.
Terkait imbauan tersebut, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah melihat adanya pesan strategis yang jauh lebih besar dibanding sekadar komentar ekonomi biasa.
Menurut Amir Hamzah, pernyataan Dasco tidak dapat dibaca hanya sebagai optimisme terhadap nilai tukar rupiah. Dalam perspektif intelijen ekonomi, pernyataan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun ekspektasi positif pasar dan mengembalikan kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah.
“Di dunia intelijen ekonomi, persepsi sering kali sama pentingnya dengan realitas. Ketika pejabat tinggi negara memberikan sinyal kuat bahwa rupiah akan menguat, maka yang sedang dibangun bukan hanya kebijakan ekonomi, tetapi juga psikologi pasar,” kata Amir Hamzah dalam pernyataan kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).
Ia menjelaskan, pasar keuangan modern bergerak berdasarkan ekspektasi. Ketika pelaku pasar percaya bahwa suatu mata uang akan menguat, mereka cenderung mengurangi kepemilikan valuta asing dan kembali masuk ke instrumen berbasis mata uang domestik.
Dedolarisasi
Amir menilai dinamika rupiah dan dolar saat ini harus dilihat dalam konteks geopolitik global yang lebih luas. Dunia sedang memasuki fase transisi ekonomi internasional yang ditandai dengan melemahnya dominasi tunggal dolar AS dan meningkatnya upaya berbagai negara untuk memperkuat mata uang nasional mereka.
“Fenomena dedolarisasi sedang berlangsung di banyak kawasan. Negara-negara BRICS, Timur Tengah hingga Asia mulai mengurangi ketergantungan terhadap dolar dalam transaksi perdagangan internasional. Indonesia tentu tidak berada di ruang hampa dari perubahan geopolitik tersebut,” ujarnya.
Menurut Amir, penguatan rupiah tidak hanya berkaitan dengan faktor domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh perubahan konfigurasi kekuatan ekonomi global. Jika pemerintah mampu menjaga stabilitas fiskal, neraca perdagangan dan cadangan devisa, maka posisi rupiah berpotensi semakin kuat dalam jangka menengah.
Dalam analisis intelijen politik, Amir melihat pernyataan Dasco juga memiliki dimensi politik yang menarik. Sebagai tokoh yang dikenal dekat dengan Presiden Prabowo Subianto, pernyataan Dasco dinilai mencerminkan tingkat keyakinan tinggi terhadap langkah-langkah yang sedang disiapkan pemerintah.
“Biasanya pejabat publik tidak akan mengambil risiko reputasi dengan memberikan pernyataan yang sangat spesifik tanpa dasar informasi tertentu. Ketika Dasco berbicara dengan tingkat keyakinan seperti itu, tentu publik akan mengaitkannya dengan adanya informasi strategis yang sudah berada di meja pemerintah,” ujarnya.
Namun demikian, Amir mengingatkan pasar tidak hanya bergerak berdasarkan pernyataan politik. Pasar akan menunggu realisasi kebijakan yang benar-benar mampu memperkuat fundamental ekonomi nasional.
Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Ketidakpastian suku bunga Amerika Serikat, konflik geopolitik di berbagai kawasan, serta perlambatan ekonomi dunia menjadi faktor yang terus menekan pasar negara berkembang.
Dalam kondisi seperti itu, pemerintah perlu melakukan apa yang dalam terminologi intelijen disebut sebagai “operasi kepercayaan” atau confidence operation”.
“Negara harus memastikan masyarakat, investor dan pelaku usaha memiliki keyakinan bahwa pemerintah menguasai situasi. Ketika kepercayaan tumbuh, tekanan spekulatif terhadap rupiah akan berkurang,” katanya.
Imbauan dan Realitas Pasar
Ia menambahkan perang ekonomi modern tidak lagi hanya dilakukan melalui tarif atau sanksi ekonomi. Pertarungan juga terjadi di ranah persepsi, informasi dan psikologi pasar.
Menurut Amir, pekan depan akan menjadi momentum penting untuk menguji efektivitas sinyal yang telah disampaikan Dasco. Jika strategi pemerintah yang dimaksud benar-benar mampu mendorong penguatan rupiah, maka kredibilitas pemerintah di mata pasar akan meningkat signifikan.
Sebaliknya, apabila tidak ada langkah konkret yang terlihat, maka pasar dapat merespons secara berbeda dan menimbulkan keraguan terhadap optimisme yang telah dibangun.
“Pasar selalu menghormati data dan kebijakan nyata. Pernyataan Dasco telah menaikkan ekspektasi publik. Sekarang yang ditunggu adalah bagaimana pemerintah membuktikan ekspektasi tersebut melalui langkah konkret,” ujarnya.
Amir Hamzah menyimpulkan bahwa pernyataan Dasco sesungguhnya bukan sekadar imbauan untuk menjual dolar. Pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai pesan strategis bahwa pemerintah merasa memiliki instrumen dan kebijakan yang cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Dalam perspektif intelijen geopolitik, sinyal tersebut menunjukkan adanya upaya negara untuk memperkuat kepercayaan pasar, mengurangi tekanan spekulatif terhadap rupiah, sekaligus mempertegas posisi Indonesia di tengah perubahan lanskap ekonomi global yang semakin kompetitif.
“Yang sedang dipertaruhkan bukan hanya nilai tukar rupiah, tetapi juga kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Karena dalam geopolitik modern, kepercayaan adalah mata uang yang nilainya bahkan bisa lebih besar daripada dolar itu sendiri,” pungkas Amir Hamzah. *man