Presiden Prabowo Subianto mengundang tak kurang dari 1.200 rektor PTN dan PTS se-Indonesia, di Istana Negara pada Kamis (15/1/2026). Dalam pertemuan tersebut membahas pelbagai masalah kebangsaan. *Ist
Jakarta, RIC — Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan dengan sekitar 1.200-an rektor dan guru besar Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (15/1/2026). Pertemuan tersebut dinilai sebagai sinyal kuat keseriusan pemerintah dalam menjadikan pendidikan tinggi sebagai fondasi utama kemajuan bangsa, sekaligus sebagai ruang strategis membahas dinamika geopolitik global.
Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah menilai, pertemuan di Istana bukan sekadar seremoni akademik, melainkan forum strategis yang mempertemukan pengambil kebijakan dengan pusat-pusat keilmuan nasional.
“Ini menunjukkan komitmen Presiden Prabowo terhadap pendidikan. Kampus tidak hanya diposisikan sebagai menara gading, tetapi sebagai mitra strategis negara dalam membaca situasi global dan menyiapkan masa depan bangsa,” kata Amir Hamzah kepada wartawan, Kamis (15/1/2026).
Menurut Amir, dalam pertemuan tersebut Presiden Prabowo turut menyinggung kondisi geopolitik internasional yang kian kompleks dan berpotensi memengaruhi stabilitas global maupun nasional. Sejumlah kawasan yang menjadi sorotan antara lain Timur Tengah, Amerika Latin hingga Afrika.
“Presiden membahas situasi global seperti Iran, Venezuela hingga isu Somaliland yang berdampak pada Somalia. Ini menunjukkan Prabowo memahami bahwa konflik geopolitik dunia tidak berdiri sendiri tetapi memiliki implikasi luas terhadap ekonomi, keamanan dan pendidikan,” ujar Amir.
Masukan dari kalangan rektor dan guru besar sangat penting untuk merumuskan kebijakan nasional yang berbasis kajian ilmiah, bukan sekadar pendekatan politik jangka pendek.
Dalam pertemuan itu, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya Indonesia mengejar ketertinggalan di Bidang Science, Technology, Engineering and Mathematics (STEM). Bidang ini dinilai sebagai tulang punggung kemajuan bangsa di tengah persaingan global yang semakin ketat.
“Prabowo memahami betul bahwa kekuatan bangsa ke depan ditentukan oleh penguasaan sains dan teknologi. STEM adalah dasar kemajuan negara, baik dalam sektor industri, pertahanan, kesehatan hingga pangan,” jelasnya.
Selama ini Indonesia masih tertinggal dalam pengembangan riset dan inovasi berbasis STEM dibandingkan negara-negara maju. Karena itu, keterlibatan perguruan tinggi menjadi kunci untuk mempercepat lompatan kemajuan nasional.
Amir Hamzah juga melihat pertemuan ini dari perspektif intelijen strategis. Menurutnya, pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan nasional, terutama dalam menghadapi perang non-militer seperti perang informasi, teknologi dan ekonomi.
“Di era modern, perang tidak selalu berbentuk senjata. Ada perang teknologi, perang narasi dan perang sumber daya manusia. Kampus adalah benteng pertama dalam menghadapi ancaman-ancaman tersebut,” kata Amir.
Ia menilai langkah Presiden Prabowo mengajak rektor dan guru besar berdialog langsung merupakan upaya membangun kesadaran kolektif elite intelektual terhadap tantangan global yang dihadapi Indonesia.
Pertemuan Presiden Prabowo dengan kalangan akademisi ini diharapkan menjadi awal dari sinergi berkelanjutan antara pemerintah dan dunia pendidikan. Sinergi tersebut dinilai penting untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat secara ilmu pengetahuan, mandiri secara teknologi dan kuat dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia.
“Jika kampus, negara dan kebijakan berjalan seiring, maka Indonesia tidak hanya menjadi pasar global, tetapi menjadi pemain utama di panggung dunia,” pungkas Amir Hamzah. *jsc/man