Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah. *dok/ric
Jakarta, RIC — Posisi Indonesia yang terletak pada persilangan benua dan samudera tidak hanya menjadikan posisi strategis tapi juga tragis. Indonesia menjadi incaran dunia global sementara Indonesia belum maksimal memproteksi diri sendiri.
Masih ingatkan, pada masa peralihan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Presiden Joko Widodo? Istilah Aseng – Asing menguat pada masanya.
Kedua negara yang diwakili dengan istilah Aseng (Cina) dan Asing (AS), malah pada periode akhir Presiden Jokowi makin menggila. Perang pengaruh antar keduanya pun tidak pernah memudar. Kini, Indonesia berada di titik paling krusial dalam peta persaingan global.
Melihat kondisi ini, Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah mengingatkan dua kekuatan dunia —Cina dan Amerika Serikat (AS)— tengah berebut pengaruh di kawasan Indo-Pasifik dan Indonesia menjadi salah satu medan perebutan paling strategis.
Kedua negara tersebut bukan hanya membangun pengaruh melalui kerja sama ekonomi dan militer, tetapi juga lewat infiltrasi intelijen dan penanaman orang-orang kunci di tubuh pemerintahan Indonesia.
Dalam analisisnya, Amir menyebut Indonesia kini masuk fase “proxy influence competition”, yaitu perebutan kendali politik, ekonomi dan keamanan tanpa keterlibatan militer secara langsung. Bentuknya meliputi operasi intelijen, pendanaan jaringan, penguasaan media hingga pengaruh kebijakan.
Amir menjelaskan, Cina, sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia, melihat Indonesia sebagai pintu masuk utama bagi pengaruhnya di Asia Tenggara. Ada beberapa pola operasi yang menurutnya terlihat jelas:
1. Overseas Chinese (OC) sebagai soft-network pengaruh. Menurut Amir, keberadaan diaspora Tionghoa di Indonesia —walaupun tidak bisa diseragamkan— sering dimanfaatkan oleh Beijing untuk membangun jaringan ekonomi dan informasi. “Cina memiliki doktrin global mengenai Overseas Chinese sebagai cultural and economic bridge. Ini bukan rahasia lagi,” ujar Amir, Sabtu (29/11/2025).
2. Ekspansi ekonomi sebagai penyamaran operasi intelijen. Proyek-proyek besar seperti Belt and Road Initiative (BRI) di Morowali, Konawe, hingga Rempang tidak hanya memunculkan kontroversi ekonomi, tetapi juga kekhawatiran adanya embedded intelligence.
“Tenaga ahli, konsultan dan teknisi asing yang masuk dalam proyek-proyek besar sering kali berfungsi ganda. Intelijen China tidak bekerja seperti film; mereka menyatu dalam aktivitas ekonomi,” kata Amir.
3. Pengaruh kebijakan melalui elite-elite lokal. Cina diyakini memiliki individu-individu yang bermain di lingkaran pemerintahan, membantu memuluskan kepentingan strategis seperti akses mineral kritis, proyek infrastruktur dan pelabuhan-pelabuhan utama. “Di beberapa kementerian, ada figur-figur yang secara ideologis maupun ekonomis dekat dengan Beijing,” ujar Amir tanpa menyebut detail.
AS Tidak Mau Kalah: Infiltrasi Melalui Lembaga, Pendidikan dan Militer
Jika Cina bermain melalui ekonomi, AS lebih halus namun tak kalah sistematis. Menurut Amir, AS telah lama menanam pengaruh ke Indonesia sejak era Perang Dingin, terutama melalui:
1. Alumni program AS yang menduduki posisi strategis. Ratusan pejabat Indonesia merupakan alumni program pendidikan dan pelatihan AS seperti Fulbright, IMET (Military Training) hingga training CIA-linked institutions. “Mereka bukan agen, tetapi mereka membentuk preferensi kebijakan yang condong ke Amerika,” terang Amir.
2. Kerja sama militer dan pertahanan. Menurut Amir, AS selalu memastikan akses pengaruhnya melalui hubungan tentara-ke-tentara. “Setiap tahun, ada ratusan perwira TNI dikirim ke US Military Academy, Pentagon atau Fort Bragg. Itu pembentukan jaringan jangka panjang,” kata Amir lagi.
3. Pendanaan masyarakat sipil dan think-tank. AS kerap menggunakan jalur lembaga seperti USAID, NED hingga kedutaan untuk memperkuat jejaring aktivis, LSM dan analis kebijakan. “Jika Beijing masuk melalui ekonomi, Washington masuk melalui wacana, opini dan legislasi,” tegas Amir.
4. Intelijen AS di lingkaran ekonomi digital. Amir menyebut sektor ekonomi digital —mulai dari startup, data center, hingga platform fintech— merupakan medan perebutan baru. “Kontrol data adalah kontrol masa depan. AS ingin memastikan Indonesia tidak sepenuhnya jatuh ke orbit Cina,” ujar Amir.
Figur ‘Tanaman’
Pernyataan paling tajam Amir adalah Cina dan AS sama-sama telah menanam figur-figur tertentu di struktur pemerintahan.
Ia tidak merinci, tetapi menyebut modus-modus umum:
1. Advisory Roles: penasihat khusus, staf ahli, atau konsultan yang dibayar melalui proyek internasional.
2. Political Funding: keterlibatan dalam pembiayaan kampanye atau proyek politik.
3. Economic Leverage: pejabat diberi akses investasi, saham, atau komisi proyek.
4. Intelligence Liaison: hubungan personal jangka panjang antara pejabat dengan pemimpin lembaga intelijen asing.
Amir menyebut fenomena ini sebagai “penetrasi senyap”.
Indonesia kini berada di tengah pusaran kompetisi global. Ekonomi nasional membutuhkan investasi, sementara geopolitik menuntut sikap tegas.
Namun, Amir menilai pemerintah masih terlalu permisif. “Indonesia tidak sedang menghadapi ancaman militer. Kita menghadapi ancaman shaping policy —bagaimana kebijakan nasional diarahkan secara tidak sadar sesuai kepentingan asing,” katanya.
Menurutnya, ada tiga sektor paling rawan:
– Energi dan mineral strategis (nikel, bauksit, tanah jarang).
– Infrastruktur pelabuhan dan bandara (akses logistik dan militer).
– Data dan kedaulatan digital (kontrol atas informasi publik).
– Intelijen Indonesia Harus Tingkatkan Counter-Influence
Amir mengingatkan badan intelijen Indonesia harus memperkuat: counter espionage, monitoring terhadap foreign lobby, pengawasan diaspora yang terhubung dengan negara asal, screening pejabat yang ikut program luar negeri, serta pengamanan data strategis nasional.
Indonesia tidak boleh menjadi pion dalam permainan geopolitik. “Cina dan AS hanya akan menghormati Indonesia jika Indonesia punya kemampuan melawan. Jika tidak, kita hanya akan jadi medan tempur pengaruh,” ujarnya.
Peringatan Amir Hamzah bukan sekadar analisis intelijen, tetapi alarm geopolitik bahwa Indonesia berada di pusat persaingan dua raksasa dunia.
Tarikan kepentingan Cina dan AS semakin kuat. Dan jika pemerintah tidak memperkuat pertahanan intelijen serta kebijakan luar negeri yang berimbang, Indonesia berisiko kehilangan arah.
“Pertanyaannya sederhana. Apakah kita masih memiliki kendali penuh atas kebijakan nasional kita sendiri?,” pungkas Amir. *man